Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Di Mata-matai


__ADS_3

"Aku mau kamu jadi sekretarisku. Jangan pernah menolaknya". Ucapnya tegas.


"Tidak akan". Jawabku.


Dia duduk setelah menarik kursi di dekat meja belajar.


"Harus. Tidak ada penolakan. Kalau kamu tidak mau. aku akan berbuat kasar". Ancamnya.


"Aku tidak takut. Walaupun kamu bunuh aku. Aku tidak akan pernah menerimanya!". Ucapku menantang.


"Membunuhmu itu terlalu lemah. lebih baik aku lanjutkan menjamah tubuh kamu. Dulu aku belum sempat aku nikmati, keduluan di pup!". Ucapnya mencoba menarik jilbabku.


Aku menahan jilbabku.


menantap dan Melihat tajam pada matanya.


Lama dia memainkan jilbabku. Tanpa menariknya lagi. Aku tidak gentar untuk melawannya. Jika dia berani menjamahku.


Lalu dia berdiri menjauhi ku yang duduk di sisi tempat tidur. Lalu berdiri di jendela yang berterali.


Terdengar dika menarik nafas dan menghembuskan kasar.


"Maaf.


Aku mau minta maaf atas kejadian waktu itu. Aku menyesal". Ucapnya pelan.


Aku tidak begitu menangapinya. Malas untuk mendengar permintaan maafnya. bertemu pun kalau bisa aku menghindar.


Tapi. Setelah lebih tiga tahun aku tidak bertemu, malah sekarang dia jadi atasanku. Juga anak pemilik perusahaan tempatku bekerja.


Sebaiknya aku rencanakan untuk resign saja. Dari pada aku terancam. Pasti suatu saat aku akan di lecehkan lagi.


Akan ku selesaikan tugas yang sedang aku tangani. Dan keluar menjelang akhir bulan ini. harus. Tekadku.


"Aku mau bertanggung jawab atas perbuatan masa laluku padamu.


Beberapa waktu yang lalu aku mendengar kabar suamimu meninggal dunia di gurp sma dan kuluah. Aku ingin menjadikanmu istriku. Agar rasa bersalahku tidak dibawa mati". Ucapnya.


"Saat aku tahu dari teman kita. Kalau kamu bekerja di perusahaan pusat milik papaku.


Maka aku mau menerima tawaran papa untuk ikut menangani kantor pusat. Dengan syarat kamu jadi sekretarisku. Dan papa setuju.


Tapi kenapa kamu malah menolak kebaikanku ini. Aku ingin menjalin kembali hubungan kita. Agar kita bersama kembali". Ucapnya panjang lebar.


Sambil memandangku berdiri di dekat jendela.


Aku tambah tidak mau menanggapi. Bodoh sekali jika aku menerima pria brengsek sepertinya.


Sedang masih pacaran saja dia sudah berani selingkuh dengan tidur dengan wanita lain. Apalagi sudah menikah.dan dengan jabatan yang bisa menjadikan dia seorang pemain wanita. Sungguh kasihan istrinya dirumah.


Tidak akan pernah aku menerima nya. Pasti akan terulang lagi nasibku yang mana almarhum suamiku dengan berani menghamili wanita lain. sementara aku masih setia melayaninya lahir bathin.


Membuat aku mual saat ingat semua.


"Gita. Mau kan kamu memberiku kesempatan?!". Tanya Dika percaya diri.

__ADS_1


"Aku mau pulang. Sudah hampir magrib". Ucapku.


Tidak menanggapi ucapannya yang memuakkan.


"Sholat dulu di sini". Ucapnya.


"Aku sedang halangan. Tidak sholat". Jawabku.


"Mana mobilku. Nanti aku telat sampai rumah!". Ucapku lagi.


"Ayo aku antar". Ucapnya.


"Tidak usah. Aku masih dalam masa iddah. Tidak baik menerima ajakan laki-laki lain". Ucapku berdiri. Dan keluar dari kamar itu.


"Baik. Tapu setelah masa iddah mu ak akan melamar kamu. Biar bisa jalan dan mendampinggimu". Ucapnya percaya diri.


Dika mengiringiku keluar kamar, hingga halaman.


Dan ternyata mobilku sudah ada di halaman mesjid.


Tanpa basa-basi. Aku menaiki mobilku. Setelah sang penerima kunci tadi memberikan kembali kunci mobil padaku.


Aku keluar pekarangan mesjid. Menuju jalan raya. Yang aku tahu ada dua lampu merah, sebelum memasuki jalan utama menuju tempat tinggalku.


Pas berhenti di lampu merah ponselku berbunyi.


Sebuah pesan dari


calon suami🧑


Parkir di bagian belakang, nanti akan diarahkan tukang parkir. Aku tunggu!.


Pesan dari bang guntur.


Hah. Kok bang Guntur tahu aku lagi di daerah sini. Juga kenapa dia tahu aku sedang di lampu merah ini. Pikirku.


Tapi aku mengikuti perintahnya. Mungkin ada yang ingin dia bicarakan secepatnya.


Setelah lampu hijau. Aku memajukan hingga restoran bebek yang memang terlihat dari lampu merah.


Saat mobilku memasuki halaman restoran, aku di arahkan seorang juru parkir menuju bagian belakang restoran.


Yang mana ada pintu seperti khusus karyawan. Karena hanya ada mobil box dan beberapa motor karyawan.


Aku diarahkan menuju sebuah garase, yang juga terparkir mobil alphard. Mungkin mobil yang punya restoran ini.


Aku sedikit heran. Kenapa aku di suruh masuk ke tempat khusus ini. Bahkan aku di tunggu juru parkir tadi sampai aku keluar mobil.


"Mari buk. Aku antar ke tempat bos". Ucapnya.


Bos?. Siapa?. Apa dia tidak salah orang.


"Maaf mas. Apa ini tidak salah orang ya?. Mungkin mas bukan menungguku". tanyaku.


"Maaf kalau salah. Tadi aku di suruh menunggu mobil yang sama persis ciri-ciri dengan mobil mbak. Dan apa nama mbak Gita?". Ucapnya.

__ADS_1


"Iya. Nama saya Gita. Aku hanya heran saja. Kok aku langsung di arahkan kesini. tidak parkir di luar saja?". Tanyaku.


"Itu bisa mbak tanya sama bos nanti!". Ucapnya.


"Mari ikut saya mbak!". Ajaknya.


Akupun mengikutinya. Menuju bangunan samping. Seperti rumah atau mes


"Gita. Sini!". Teriak bang Guntur.


Ternyata dia sedang berada di balkon yang ada di depan garase. Dia berdiri di pagar balkon.


"Ada apa bang?. Kok aku di bawa kesini?!". Tanya ku heran sambil mendekatinya.


"Mana kunci mobil kamu". Ucapnya menjulurkan tangannya.


Akupun memberikan kunci mobilku. Dan bang Guntur malah melemparkan kearah seseorang dibawah. Yang ternyata sudah ada tiga orang berdiri di dekat mobilku.


Aku bertambah heran. Mereka membuka mobilku. Semua pintu dan kap mobil di buka. Bahkan ada yang menyuruk di bawah mobil.


"Ada apa bang?. Kok mereka membongkar mesin mobilku?". Tanyaku bertambah heran.


"Maaf ya aku lancang menyuruh mekanik itu mengotak atik mobil kamu.


Aku mau mengambil pengintai dan radar yang di pasang orang yang membawa mobil kamu tadi". Jelasnya sambil menghadapku.


"Siapa?. Kok abang tahu mobilku di pasang pengintai?. Dan kapan di pasang?!". Tanyaku heran.


Mobilku tidak pernah di bawa orang lain selama ini. Kecuali tad itu.


Apa??.


Aku memandang bang gubtur yang sedang melihat kebawah. Di mana mobil ku sedang di itak atik mekanik.


"Bang!!". panggiku.


"Aku tadi saat di jalan melihat mobilmu. Aku heran, kok mobilmu orang lai yang membawa. Aku iringi hingga mobil itu masuk sebuah bengkel dekat persimpangan kantormu itu.


Bengkel itu punya kenalanku. Aku masuk kesana pura-pura mencari dia. Dan mendengar orang yang membawa mobilmu itu mau pasang pengintai di mobilmu.


Tapi dia bilang pada mekanik kalau itu mobil istrinya. Dia ingin mengawasi kemana saja istrinya pergi jika membawa mobil.


Aku terus mengiringi mobil itu hingga masuk pekarangan mesjid dan menunggu.Ternyata kamu ada di sana.


Maka, saat kamu keluar tadi aku telfon pemilik restoran ini dan nenceritakan padanya. Maka dia usuk, untuk membawa kamu kedalam. Karena tidak mungkin bongkar mobil kamu di parkiran depan". Jelas bang guntur.


Aku kaget mendengar cerita bang guntur. Kok orang yang membawa mobilku memasang pengintai di mobilku?.


Apa dia di suruh Andika?.


Aku yakin. Pasti Dika ingin selalu mengintaiku. Awas saja kamu Dika.


.


.

__ADS_1


__ADS_2