
"Sayang. Kapan kita kabarkan orang tua kita kalau kamu sekarang sedang hamil?". Tanya Guntur.
Saat ini mereka sedang duduk santai di ruang tu apartemen.
Mereka baru saja melaksanakan sholat isya, karena magrib agak telat. Dan menunggu azan isya sebentar setelah mengaji sebentar.
"Kita telfon sekarang yuk bang". Usul Gita.
"Enaknya bicara langsung sayang.
Bagaimana kalau kita mengajak orang tua kita makan siang besok". Ujar Guntur.
"Boleh juga". Jawab Gita.
"Oh ya. ayah dan ibu sekarang sedang ada di sini bang. Mereka sedang ada acara di hotel G.
Bagaimana kalau kita ajak bertemu sekarang". Ujar Gita.
"Boleh. Hotel G kan tidak jauh dari rumah mama. Kita ajak saja sekalian bertemu.
Ayo, kita siap-siap". Ujar Guntur.
"Baik bang". Jawab Gita.
Gintur membantu Gita berdiri, membimbingnya menunu kamar.
Sedang sibuk bersiap, ponsel Gita berbunyi. Tanda telfon masuk.
"Dari siapa sayang?". Tanya Guntur.
Saat Gita mengambil ponselnya.
"Dari ibu bang". Jawab Gita.
Guntur mengangguk. kalau mertuanya yang menelfon istrinya saat ini.
"Assalamualaikum mah..
Yang benar!.
Langsung saja kesini bu, kami di rumah kok". Jawab Gita.
"Ok.
Assalamualaikum.". Jawab Gita.
Menutup telfonnya.
"Bang, kata ibu mereka ada didekat sini, mau mampir". Ujar Gita.
"Wah, kebetulah sekali ya sayang". Jawab Guntur.
"Nanti saat kita memberi tahu tentang kehamilan kamu, kita juga telfon papa dan mama. Biar mereka tahu bersamaan". tambah Guntur.
"Baik bang". Ujar Gita.
Merekapun tidak jadi menganti pakaian. Cukup memakai pakaian rumah.
__ADS_1
Gita memakai gamis dengan jilbab instan. Sementara Guntur menganti celana pendek selutut dengan celana panjang. Juga menganti baju kaos yang lebih rapi.
Tidak mungkin mereka memakai pakaian rumahan biasa menyambut orang tua dan mertua.
Sambil menunggu, mereka berdua menata belanjaan mereka tadi ke lemari dan rak yang ada di pantri dapur.
Juga menaroh buah dan cemilan di meja makan.
Tidak ada bahan yang akan masuk kulkas. mereka hanya membeli susu hamil, cemilan dan buah saja.
Karena persediaan lauk masih ada.
Guntur dan Gita berjalan menuju pintu masuk saat mendengar bel apartemen mereka berbunyi.
"Assalamualaikum!!".
Ujar orang tua Gita.
Bukan hanya orang tua Gita yang datang. Ternyata orang tua Guntur juga ada bersama mereka.
"Waalaikumussalam". Jawab Gita dan Guntur.
Mereka menyalami dan memeluk tanda rindu dan sayang.
"Wah, pasti semua janjian mau datang. Kok tidak memberi kabar untuk datang?". Ujar Guntur.
Mereka beriringan masuk, dan duduk bersama di ruang tamu apartemen Gintur dan Gita.
Walau hanya apartemen, tapi apartemen Gita cukup besar untuk menerima tamu. Luas seperti rumah di perumahan.
"Hanya kebetulan saja. Kami bertemu saat acara di hotel G. Karena sama-sama tamu.
"Acara apa pah?". Tanya guntur.
"Pesta pernikahan anak teman. Ternyata mereka rekan kerja mertua kamu juga". Jawab Papa Guntur.
Mereka berbincang bersama. Sementara Gita dan para wanita menyiapkan minuman dan cemilan untuk teman mengobrol.
Para ibu dan mama mertua ternyata membawa cemilan. Ada gorengan, dan ada roti.
Bahkan ibu Gita juga ada membawa mi ayam dan sate. Karena dia tahu, makanan favorit Gita. Mungkin menantunya juga suka.
"Bu, mah, kok tidak mengabarkan kalau datang?. Kan aku akan masak untuk makan malam". Ujar Gita membuat teh dan kopi.
"Tidak ada rencana mampir. Saat mau pulang hanya tercetus ide untuk mampir sebentar.
Dan juga kami baru pulang pesta, masih kenyang". Jawab mama Gita.
"Atau kalian belum makan ya?". Tanya mama Guntur.
"Belum mah. Kami baru saja mau makan". Jawab jujur.
"Kalau lapar kalian makan saja dulu". Tambah mama Guntur.
"Nanti saja bu, Ini cemilan lebih mengoda dari pada makan nasi". Jawab Gita.
Dia ngiler menunjuk mi ayam dan sate.
__ADS_1
"Ayo". Ajak mama mertua.
Menuju ruang tamu, dimana para suami duduk berbincang.
Mereka membawa minuman dan cemilan, untuk peneman ngobrol.
"Guntur dan Gita belum makan. Mau makan mi ayam atau sate?". Tanya nama Gita pada anak dan menantunya.
"Nanti saja mah". Jawab Guntur.
"Mumpung sedang ada di sini, kami punya kabar bahagia buat semua". Tambah Guntur.
"Oh ya?. Apa kamu naik pangkat Gun?". Tanya papa Guntur.
"Bukan pa.
Sini sayang, duduknya". Panggil Guntur pada istrinya.
Maka Gita duduk di samping suaminya. Duduk manis. Sambil tersenyum.
Setelah mereka saling pandang, Guntur mengambil buku yang ada di bawah meja tamu.
Lalu mengeluarkan sebuah foto. Tapi bukan foto mereka. Foto usg yang mereka dapatkan dari dokter kandungan tadi siang.
Tanpa bicara Guntur meletakan di atas meja kaca. Di dekat minuman dan cemilan yang di hidang oleh istri dan para mama barusan.
"Apa ini Gun?". Ujar ayah mertua.
Dia terlebih dahulu mengambil foto hitam putih itu.
Lalu memperlihatkan pada semua. Tanpa paham atau belum mengerti gambar yang ada di kertas itu.
"Kamu hamil sayang?".
Mama mertua terlebih dahulu bertanya.
"Hamil?". Ujar para papa.
"Iya. Itu foto usg kan Gita?". Tanya ibu Gita.
Guntur dan Gita mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah hirabbill aalamin".
Jawab ibu dan mama.
Mereka mendekat memeluk Gita.
Menangis terharu.
"Kita akan jadi kakek". Ujar ayah Gita.
"Iya. Aku juga. Akan jadi kakek". Jawab papa Guntur.
.
.
__ADS_1
.
"