
"Sayang, nanti aku kabarkan pukul berapa kita pergi periksa ke tempat praktek dokter ya". Ujar Guntur.
Pagi ini dia dengan bersemangat berangkat bekerja. Senyum dibibirnya tidak pernah hilang dari subuh tadi.
Dia yang semalam tidur cepat sambil memeluk istrinya, menjelang subuh sangat fit untuk olah raga ranjang.
Mereka melakukan dengan rileks dan perasaan senang, hingga olah raga ranjang lebih terasa santai.
Dengan tubuh yang segar juga semangat membara, mereka tidak berhenti menyerukan nama pasangan dengan mesra.
"Iya bang. Nanti aku berangkat bekerja ya. Bosan di rumah". Ujar Gita.
"Baik. Hati-hati". Ujar Guntur.
Mencium kening istrinya, dan Gita menyalami suaminya.
Dan mereka beraktifitas bekerja mengerjakan pekerjaan mereka.
Menjelang siang Guntur mengabarkan kalau sore ini mereka belum bisa pergi ke praktek dokter kandungan.
Karena pasien biasa mendaftar dari pagi, kemungkinan sudah penuh untuk hari ini.
"Sebaiknya Kita hari senin atau selasa saja kesana sayang. Kan besok kita kerumah nenek.
Mungkin kita menginap disana, karena lusa minggu aku libur". Ujar Guntur.
"Baik bang. aku ikut saja". Ujar Gita.
Sesuai rencana dari setelah pesta kemaren. Karena orang tua Guntur mengajak keluarga besar untuk berkumpul dirumah kakek guntur.
Rumahnya tidak jauh dari rumah orang tua Guntur.
.
"Sudah tiga hari kenapa mereka belum memberikan kabar terbaru ya!". Ujar Dika.
Sekarang Dika sedang duduk santai di balkon apartemennya.
Di akhir pekan ini dia malas untuk keluar. Lagian semalam dia habis bersenang-senang di klup malam hingga pulang ke apartemen menjelang subuh.
__ADS_1
Tapi pagi ini dia tidak bisa tertidur, walau kepalanya sedikit pusing.
"Menyebalkan. Info tentang Gita saja mereka tidak dapat. Apa aku saja langsung mencari tahunya.
Aku akan mendatangi asrama polisi. Untuk mencari tahu". Ujar Dika.
Maka diapun pergi mandi, dan berendam sedikit. Untuk menghilangkan pusing di kepalanya.
"Sebaiknya menggunakan mitor saja. Biar bisa mengikutinya jika kebetulan bertemu". Gumam Dika.
Menjelang Siang Dika keluar dari apartemennya. Kali ini dia menggunakan motor.
Motor matik.
Jarak apartemen Dika ke asrama polosi sekitar lima belas menit. Dengan sedikit santai Dika mengendarai motornya.
Sesampai di depan gerbang asrama polisi, Dika berdiri di seberang jalan. Untuk memantau.
"Dimana aku berdiri untuk mengintai ya. Masuk asrama tentu aku tidak bisa.
Penjagaan ketat oleh piket". Gumam dika.
"Ah, aku makan saja di sana". ujar Dika.
Saat melihat jejeran warung di jalan seberang gerbang asrama polisi. Karena di seberang jalan sebelah kiri terdapat tempat olah raga dan taman bermain.
Ada lapangan sepak bola, lapangan basket, lapangan voli juga ada beberapa alat permainan.
Juga ada jalan di sekeliling lapangan, untuk warga joging atau bersepeda.
Banyak warung dan deretan toko di sana. Warung makan juga warung tempat nongkrong.
Dan Dikapun memasuki warung yang tepat menghadap ke gerbang asrama.
Agar langsung melihat kearah gerbang. Dia akan bisa melihat Gita keluar atau masuk asrama.
"Pesan kopi dan nasi goreng buk". Uhar Dika.
Dia merasa lapar karena aroma makanan di warung makanan ini.
__ADS_1
Dika duduk menghadap keluar, menatap gerbang asrama polisi.
Saat memakan makananpun dia sesekali menatap gerbang asrama.
Beberapa kali mobil dan sepeda motor keluar masuk asrama. Tapi dia tidak melihat Gita.
"Tidak mungkin juga Gita keluar menggunakan mobil". Gumamnya.
Sudah hampir dua jam Dika duduk disana, memperhatikan yang keluar masuk asrama.
Tapi tidak ada dia melihat Gita.
"Apa gita minggu begini tidak keluar?. Kan biasa istri polisi pergi keluar untuk joging.
Apa aku telat untuk mengintai. Bisa saja dia keluar pagi dan sudah pulang dari tadi". Gumam Dika dalam hati.
Dika merasa kesal sendiri. Karena lupa sudah hampir tengah hari.
Dia bersiap untuk pergi. Tapi di urung untuk berdiri. Karena melihat beberapa orang wanita memakai pakaian olah raga keluar dari asrama.
Dan dengan beruntungnya mereka menuju warung yang ada dika sedang duduk.
"Srmoga ada Gita diantara mereka. Mereka pasti para istri polisi yang baru selesai olah raga". Pikir Dika.
Semakin dekat, Dika tidak melihat ada Gita di antara enam perempuan tersebut.
Dika sedikit kecewa.
Padahal tadi berharap ada Gita. Tapi tidak ada.
Keenam perempuan berseragam itu duduk di samping kiri Dika. Mereka memesan makanan pada penjaga warung.
Dari pembicaraan mereka Dika yakin mereka istri polisi. Karena ada diantara mereka memanggil nama suami dari perempuan itu.
"Aku akan tanya pada mereka". Ujar dika bertekad.
.
.
__ADS_1