Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 152


__ADS_3

"Bos. Sebaiknya bos segera pulang. Indri sedang mengamuk dan marah-marah di atas".


Telfon anak buah Dika.


"Kenapa dia marah-marah?". Tanya Dika.


"Dia Ingin masuk keruang intensif untuk melihat polisi itu. Tapi tidak diizinkan oleh polisi dan dokter jaga.


Dia marah sambil menanggis.


Saat ini dia sedang berada di dekat tangga tempat bos turun tadi. Dia marah dan mengumpat menyebut nama bos.


Sebaiknya bos pulang, atau pergi keluar dari parkiran rumah sakit ini.


Takutnya polisi disini mendengar ocehan wanita itu mengatakan kalau bos yang sudah menabrak polisi itu, tentu polisi akan mencari bos". Ujar anak buahnya.


Dika menjasi panik. Dan cemas.


Jika dia di sini, Pasti akan ikut terseret kasus. Jika pergi, bagai mana dengan Gita.


Pasti Indri juga ingin mencelakai Gita.


"Bos percayakan saja pada kami. Kami akan melindungi Bu Gita dari mereka". Ujar Anak buahnya.


Seolah tahu kecemasan bosnya itu.


"Keselamatan bos harus diutamakan. Bu Gita pasti kami jaga, juga polisi pasti akan menjaganya juga". Tambahnya.


"Baik. Aku akan pergi ke mall ujung jalan sana. Aku parkir dan menunggu di sana". Ujar Dika.


Setelah terdiam beberapa saat.


"Sekalian ke hotel terdekat saja bos, istirahat. Nanti jika ada apa-apa kami kabari". Ujarnya.


Maka, dika menyuruh supir sekaligus asistennya untuk menuju sebuah hotel yang ada di dekat rumah sakit itu.


Untuk istirahat sambil menunggu. Dia juga tidak mau terseret karena ocehan Indri yang mungkin akan memberitahu polisi.


"Sebaiknya kita keapartemen saha bos. Kita kan sudah menyebar anak buah di sana.


Polisi juga ada berjaga Pasti Bu Gita aman". Ujar aaisten Dika.


"Tapi Git sendirian di sana, keluarganya juga sudah pulang tadi.


Apalagi Kata yang berjaga di bawah tadi, indri membawa orang yang ahli untuk mencelakai Gita". Jawab Dika cemas.


"Hmmm.

__ADS_1


Sebaiknya bos telfon bu Gita. Beri tahu dia untuk tidak keluar sendirian dari ruang intensif itu.


Kalau harus keluar, ajak salah satu polisi untuk menemani". Usul Asistennya.


"Apa dia mau menerima telfonku". Ujar Dika.


"Coba dulu bos. Kalau tidak diangkat. Kirim pesan. Kan dia bisa tahu kalau bos ikut mencemaskannya.


Mana tahu dia tersentuh bos". Ujar Asisten Dika.


Dika mengangguk. Dan menciba menelfon Gita.


Tapi tidak diangkat.


Sesuai usulan asistennya, Dikapun mengirim pesan pada Gita.


"Maaf Gita, aku menganggu kamu.


Aku hanya ingin memberi tahu kamu, kalau kamu jangan keluar sendiri dari ruang intensif tempat suamimu dirawat.


Aku tahu polisi dua orang sedang berjaga diluar. Dan orang tua kamu juga sudah pulang.


Anak buahku tadi mendengar dari pembicaraan Indri dan anak buahnya. Kalau Indri menyuruh seseorang untuk mencelakaimu.


Dan mereka sedang berada di sekitar bangunan itu.


Itulah pesan yang dia kirim ke Gita. Berharap gita segera membaca dan menanggapinya.


"Kita pulang saja. Aku percaya anak buah kita bisa menjaga. Dan Gita juga bisa minta bantuan pada polisi yang berjaga Di sana". Ujar Dika.


"Baik bos. sebaiknya begitu. Kita berjaga dari jauh saja". Jawab Asisten Dika.


Walau Dika sudah memberi tahu, tapi dia masih was-was, sebelum Gita membalas pesannya.


Sementara itu, Gita yang baru saja membantu suaminya untuk tidur, dan membenarkan posisi kaki yang di balut semen medis untum tidur dengan posisi nyaman.


"Sayang, ponsel kamu berbunyi". Ujar Guntur menyamankan posisi kepalanya.


"Biar saja bang. Paling dari mereka, mau meneror". Jawab Gita santai.


"Terima saja. Mana tahu mereka mau bertanya kondisi ku. Yang sedang kritis". Jawab Guntur tersenyum.


Padahal dia akan tidur nyaman di kasur empuk kamar pribadinya.


Gita mengambil ponselnya, yang sudah berhenti berdering. Dan masuk pesan dari nomor yang barusan menelfon.


"Ada pesan bang". Ujar Gita .

__ADS_1


Dia pun membaca pesan yang dikirim Dika.


Ya. Pesan agar Gita siaga dan tetap waspada dari orang yang sedang mengincarnya.


"Dari siapa?". Tanya Guntur.


Gita memberikan pobselnya pada guntur yang sudah tiduran telentang.


Lalu dia menganti lampu utama dengan lampu yang lebih kecil. Tapi bukan lampu tidur. Karena suaminya sedang sakit tidak mungkin tidur dalam keadaan remang.


"Pasti dia menyesal sudah mencelakai abang. membuat Indri marah dan juga berniat mencelakai kamu.


Hingga dia talut kamu dibalas oleh Indri". Jawab Guntur.


Sebenarnya dia sangat marah, mengetahui rencana Dika yang ingin merebut istrinya dengan mencelakainya.


Tapi melihat ketakutannya mengenai keselamatan istrinya yang sedang terancam. membuat Guntur merasa Dika bertanggung jawab juga, mengingat dia sedang kecelakaan dan di kabarkan sedang kritis.


"Merasa bersalah dia. Dan tidak mau kamu di celakai oleh orang yang tidak bertanggung jawab". Ujar Guntur.


"Cari muka dia mungkin, agar aku merasa tersanjung". Jawab Gita.


Lalu tidur di samping suaminya.


"Bisa jadi. dengan pesan itu, dia juga tidak mau kamu celaka. Apalagi sampai membahayakan kamu". Ujar Guntur.


Memberikan ponsel istrinya kembali.


"Abang balas ya". Ujar Gita


Saat melihat pesan balasan.


"Terima kasih sudah mengingatkan.


Tapi jangan lupa, kalau teman suamiku juga sedang melindungiku dari orang yang berniat jahat".


Balas pesan dari Dika. Yang di ketik oleh Guntur.


"Menghargai". Jawab Guntur.


Gita mengangguk saja, merasa sudah diberi tahu tentang seseorang yang sedang berniat jahat.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2