
"Alhamdulilkah ya sayang, tangan dan kaki abang sudah buka semennya.
Sudah tidak terasa berat lagi kalau bergerak. Abang mau mandi dan berendam. Sudah sebulan tangan dan kaki yang tertutup tidak tersentuh air". Ujar Guntur.
Dia membuka kain elastis yang melilit tangannya. biasa mandi tidak nembasahi tangan yang terlilit.
Berwudhupun hanya membasahi dari pegelangan tangan dan kaki yang tidak tertutup.
Mereka baru saja sampai di apartemen mereka menjelang azan ashar.
"Iya bang. Abang harus tetap hati-hati untuk berjalan atau mengangkat barang.
kalau bisa jangan angkat- angkat dulu". Ucap Gita. Dia membantu membuka lilitan kain di kaki.
"Iya sayang. Abang akan jaga". Jawab Guntur.
Untuk berjalan ke kamar mabdi, Guntur masih menguna kan penyangga, agar nyaman saat berjalan. Tidak terlalu memijak lantai, agar kakinya yang patah terjaga.
Gita hanya mengawasi oergerakan suaminya, dan memberikan yang dia butuhkan.
Selesai mereka mandi dan membersihkan diri juga sudah sholat ashar, sekarang mereka sedang santai di ruang menonton.
Gita kembali membantu suaminya melilitkan kain elastis itu ke kaki dan tangan Guntur.
Dia tadi diajarkan dokter dan perawat cara mamakaikan kain itu dengan benar dan erat.
"Sayang, seharusnya aku yang memanjakanmu yang sedang hamil muda ini. Tapi malah kemu yang melayaniku". Ujar Guntur mengecup kening istrinya.
Guntur dan Gita duduk berdampingan, dengan lengan Guntur yang tidak patah merangkul bahu istrinya.
"Kalau abang sudah sembuh, gantian nanti bang. Mudah- mudahan saat aku lahiran abang sudah bisa bantu aku". Ujar Gita.
Dia bersandar manja di dada kanan suaminya.
"Iya, berarti sekitar enam bulan kurang lagi ya sayang. Semoga cedera ini segera sembuh. Biar aku jadi suami siaga". Ujar Guntur.
"Apa kamu tidak mengidam sayang?. Biasa bumil sering minta tengah malam". Tanya Guntur heran.
Sebab, semenjak diketahui hamil, istrinya tidak pernah minta dibelikan makanan atau sesuatu.
Yang kata orang-orang ibu hamil sering minta yang aneh-abeh tengah malam. Bahkan yang diluar nalar.
Waktu indri hamil dulu saat masih jadi istrinya, indri setiap hari selalu minta di belikan ini itu, bahkan sampai ke kota sebelah hanya untuk sarapan.
"Yang diigini sih sering bang. Tapi cuma makanan biasa saja. Masih bisa di cari.
Kalau di kantor aku minta belikan ke ob.
Sejak abang sakit, aku minta di kirim oleh asistenku. Atau pesan melalui aplikasi". Jelas Gita.
"Jangan menyusahkan asisten kamu. Aku siap kok jika kamu minta belikan". Ujar Guntur.
"Iya aku tahu, tapi kan abang sedang sakit. Dan juga tidak mungkin keluar apartemen.
__ADS_1
Kemaren saja masih pakai kursi roda atau tongkat. Mana tega aku melihat abang kesusahan.
Sekarang zaman modern. Tinggal klik yang kita ingini sampai". Ucap Gita.
Membesarkan hati suaminya. Dan juga dia tidak ingin manja hanya demi seporsi makanan.
"Kamu begitu perhatian sayang aku makin cinta". Ujar Guntur menciumi wajah istrinya.
"Khemm.
Seoertinya abang lagi lengen nih sayang. Tapi abang sedikit takut jika abang....".
"Serahkan padaku bang. Mungkin sudah waktunya abang berbuka. Sudah sebulan nganggur". potong Gita memegang sesuatu yang mulai mengeras.
"Tapi kamu sedang hamil muda sayang. Abang tidak mau kamu dan calon anak kita kenapa-kenapa". Ujar Guntur.
Dia ingin tapi sedikit was-was dengan kehamilan istrinya.
"Serahkan semua padaku. Aku akan lakujan senyamanku". Ujar Gita.
Dia sebenarnya sangat menginginkan aktifitas ranjang. Mungkin karena sedang hamil. Yang kata orang, libidonya lebih dari biasa. Tapi karena suaminya sakit, dia pun memendam keinginannya itu.
Tangan Gita mulai nakal bermain di milik suaminya.
Entah karena Guntur sudah sebulan puasa, membuat dia menikmati pijitan dan remasan tangan istrinya.
Dari yang awalnya duduk di sofa ruang menonton. Hingga berakhir di kasur kamar yang empuk.
Walaupun Gita sedang hamil muda, dan Guntyr sedang cedera. Gita membuat nyaman tubuhnya memimpin olah raga ranjang di sore yang cerah.
"Pelan saja sayang.. Ah... Pelan dan nikmat". Racau Guntur saat....
"Kamu tidak apa-apa. Apa perutnya kram?". Tanya Guntur cemas.
Gita yang memimpin permainan terkapar kelelahan di samping Guntur.
Dia juga tidak bisa melarang saat istrinya bergerak liar menduduki inti tubuhnya.
Selain menikmati permainan, istrinya itu cukup pandai menyeimbangi gerakan dan ******* suaminya.
Hingga mereka sama-sama mencapai kepuasan yang sudah sebulan tidak mereka lalukan.
"Aku tidak apa bang, hanya kelelahan saja". Jawab Gita dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Kalau tidak nyaman bilang ya". Ujar Guntur.
Dia tidak bisa memeluk istrinya karena saat ini istrinya berada di samping kirinya, sebalah tangan dan kakinya yang cedera.
Kalau dia miring ke kiri, takutnya kaki dan tanggannya tidak pas posisinya.
Hanya kepalanya miring melihat istrinya yang berkeringat dengan tubuh polos.
.
__ADS_1
"Kemana perginya Gita?. Aku yakin itu dia. Dia sedang hamil dan pergi periksa sendiri kerumah sakit ini". Ujar Dika.
Dia sudah beberapa kali mengelilingi ruang periksa. Bukan hanya ruang periksa kandungan, juga tempat periksa anak dan balita.
Juga ke apotik rumah sakit, melihat satu-satu pasien dan keluarganya yang sedang antri meninggu obat.
Tapi dia tidak melihat Gita.
Asistennya pun sedah pergi ke apotik yang ada di jalan raya depan rumah sakit. Memasuki beberapa apotik yang ada di sekitaran sana.
"Apa belum kamu temukan?". tanya Dika pada asistennya yang berjalan mendekat.
"Tidak ada bos. Aku sudah keliling ke beberapa apotik. Tapi tidak melihatnya". Jawab asisten Dika.
Mereka duduk di kursi taman di samping parkiran. Melepas lelah dan menunggu keajaiban. Jika tiba-tiba mereka melihat Gita di parkiran.
"Apa bos yakin yang bos lihat itu bu Gita. Hamil lagi". Yanya asistennya.
"Yakin. Aku sangat yakin, melihat jelas dia sedang berbicara dengan perawat di sana.
Kami hanya di batasi kaca besar yang memisah lorong menuju ruang rawat inap dengan lorong tempat periksa.
Dan aku yakin Gita hamil muda karena dia membawa buku berwarna pink yang biasa di bawa ibu hamil.
Perut kecil buncit itu seperti tiga atau empat bulan usia kandungannya". Jelas Dika.
"Dari mana bos tahu, perut segitu usia kandungannya tiga atau empat bulan?". Tanya asisten Dika.
"Aku sudah beberapa kali bermain dengan wanita hamil. Dan sering bertanya berapa usia kandungannya". Jawab Dika.
"Kalau main dengan Gita saat hamil begitu pasti enak. Secara ibu hamil itu terasa seksi dan mengairahkan". Ujar Dika berangan.
"Kamu belum pernahkan vetmain dengan wanita hamil?". Tambah Dika bertanya pada asistennya.
Hingga sang asisten mengelengkan kepalanya mendengar ucapan bosnya itu.
'Dasar bos mesum. Eh tapi ita juga. Melihat wanita dengan perut buncit saja terlihat sexy'. Gumam asisten Dika dalam hati.
"Eh bos, Ingat tidak.
Ini kan rumah sakit tempat suami bu Gita dirawat bulan lalu?.
Ruang icunya di igd sana". Ujar asusten Dika menunjuk ke arah igd yang berada di ujung bangunan utama rumah sakit besar ini.
"Benar ya.
Apa dia ke igd itu?. Tapi kan polisi itu sudah meninggal". Ucap Dika.
"Atau....".
Dika dan asistennya saling pandang.
.
__ADS_1
.