Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Usaha Dika


__ADS_3

Gita membuat kopi untuk suaminya. Sebagai cemilan sore yang santai.


Mereka baru sampai di apartemen menjelang ashar tadi. Dan juga sudah selesai bersih-bersih dan sholat ashar.


mereka duduk di balkon aparteman depan ruang tamu. Menikmati suasana sore kota dari ketinggian gedung.


"Kita lihat bagai mana reaksi mantan bos mesum itu setelah ini". Ujar Guntur.


"Memang apa yang teman abang tadi lakukan?". Tanya Gita.


Karena memang belum tahu kemana dan apa yang dilakukan orang yang membawa mobil suaminya tadi.


"Tadi kamu dengar kan, kalau dia bilang kamu hamil anaknya. Sebab dia yakin sudah mengagahi kamu.


Jadi aku bikin dia sedikit harapan yang mungkin bisa membuat dia bahagia. Kalau itu kamu". Ujar Guntur.


Dia menyesap kopi panas buatan istrinya.


"Maksudnya?". Tanya Gita.


"Begini.


Katena dia yakin jamu hamil anaknya. Maka tadi aku iseng menyuruh temanku tadi mampir ke sebuah panti asuhan.


Mereka mau menitipkan seorang anak beberapa bulan lagi. Dengan alasan saudara mereka hamil anak hasil perkosaan, dan keluarganya tidak mampu untuk menjaganya.


Aku yakin. Bos mu itu menduga itu kamu. Kan mereka tadi bilang kamu ada di dalam mobil itu, dan pasti dia menunggu kamu berkunjung lagi ke panti itu". Jelas Guntur.


"Kok abang usil begitu?. Bagaimana kalau dia yakin aku hamil anaknya. Dan semakin berniat untuk menculikku?.


Ajan menambah dan menyebar orang untuk mencari keberadaanku.


Aku kan tambah takut untuk keluar dan bertemu tanpa sengaja dengannya.


Dia orangnya nekat bang". Ucap Gita takut.


"Makanya kamu punya asisten laki-laki, kemanapun akan aman. Kalau kamu tidak keberatan, kamu pakai bodyguard saat bepergian". Usul Guntur.


"Akan terlihat jelas kalau di kawal bang. Aku juga tidak mau terlihat seperti orang penting di tempat umum. Risih". Jawab Gita.


"Ok. Aku paham.


Untuk kenyamanan kamu, kalau tidak keberatan kamu jangan bekerja dulu". Usul guntur.


"Tapi aku sudah janji sama papa untuk memimpin cabang perusahaan di sini". ujar Gita.


Katena dia sudah mulai bekerja hari senin. Beberapa hari lagi.

__ADS_1


"Hhmmm... Atau, kamu bekerja di kantor saja. Dan urusan pertemuan dengan klien usahakan tidak di tempat umun seperti cafe atau restoran.


Cukup di kantor saja pertemuannya. Agar mereka tidak bisa menemukan kamu". Usul Guntur.


"Boleh juga". Jawab Gita.


Karena dia samgat malas untuk berurusan dengan Dika.


"Tapi kalau tanpa sengaja bertemu saat kita jalan bagai mana?". Tanya gita lagi.


"Usahakan agar mereka tidak tahu tempat tinggal kita dan dimana kamu bekerja.


Seperti kamu katakan tadi. Dia orangnya nekad. Buktinya saja dia oernah berusaha memberi obat perangsang untuk mengauli kamu.


Tapi malah senjata makan tuan". ujar Guntur.


"Iya. Itu yang aku cemaskan. Tapi dengan adanya abang dan juga teman abang, aku merasa sudah terlindungi". Jawab Gita.


"Iya. Aku akan berusaha untuk melindungi kamu dan keluarga kecil kita". Jawab Guntur.


Guntur tidak memberitahu istrinya, kalau dia sudah menempatkan pengawalan untuk menjaga istrinya.


Takutnya istrinya tidak nyaman merasa diawasi..


Sementara Dika masuk mendatangi yayasan yang tadi diinfokan orang suruhannya. Tentang berita yang dia dengar.


"Assalamualaikum buk". Ujar Dika.


"Waalaikum salam.


Mari masuk pak. Ada yang bisa kami bantu?". sambut seorang ibu paruh baya.


Juga ada seorang wanita yang lebih muda.


Mereka menyuruh Dika dan sang asisten masuk dan duduk di ruang tamu. Juga diiringi pengendara motor yang menguntit tadi.


"Kenalkan namaku Andika. Aku hanya ingin tahu maksud dan tujuan kedua orang yang baru saja datang kesini bu.


Karena ini juga menyangkut akundan calon anakku". Ujar Dika.


Terlihat kedua wanita itu saling pandang. Dan menarik nafas.


"Maaf ya pak Andika. Bukan tidak mau memberi keterangan. Tapi ini adalah sebuah rahasia yang harus kami jaga.


Baik nama, dari mana dan juga tujuan mereka datang. Sebab kami juga sudah berjanji untuk menjaga rahasia setiap yang datang". Jawab yang lebih tua.


Yang Dika yakin ibu itu pimpinan yayasan ini.

__ADS_1


"Aku tahu bu. Tapi untuk ibu dengar juga dari keteranganku, mungkin ibu bisa memberi tahu nya padaku". Ujar Dika.


Dika memandang ibu itu.


"Aku yakin kedua orang yang datang tadi adalah kerabat pacarku.


Sekarang pacarku itu sedang hamil. Mungkin sekitar tiga bulan lebih.


Aku tahu mereka tidak mau mengabarkannya padaku kalau pacarku hamil. Dan mereka juga tidak mau mengugurkannya.


Makanya aku yakin setelah anak itu lahir akan diserahkan ke panti ini". Jelas Dika.


Ibu dan wanita yang duduk di sampingnya saling pandang. Mendengar ucapan Dika.


"Kalau boleh, aku minta nama dan alamat mereka bu. agar aku juga bisa melihat dan menjaganya dari jauh.


Dan saat anak itu di serahkan aku yang akan mengadopsinya". Jelas Dika.


"Tapi mereka belum memberi tahu data orang yang akan menyerahkan bayinya". Jawab ibu itu.


"Oo begitu.


Tapi tolong ibu pastikan, jika mereka datang kesini. Ibu minta alamat nya.


Dan ibu bisa kabarkan saya. Saya akan meninggalkan nomor ponselku untuk ibu hubungi jika mereka datang". ujar Dika.


Dia memberikan kartu namanya pada ibu yang dia yakini pimpinan yayasan.


"Tapi kami juga belum tahu. Apakan anak itu boleh diadopsi atau tidak.


Karena mereka belum mem bicarakannya dengan kami". Ujar Ibu itu.


"Itu akan di bicarakan saat mereka datang lagi bu. Ibu cukup setujui saja. Dan minta data yang hamil". ucap Dika.


"Kenapa bapak tidak bertanggung jawab saja atas kehamilan pacar bapak?. Datangi saja rumah orang tuanya". Ucap wanita muda di samping ibu pemilik yayasan.


"Aku mau bertanggung jawab. Sangat mau. Tapi pacarku itu di sembunyikan orang tuanya.


Jadi aku tidak bisa menemuinya". Kilah Dika.


Mereka mengangguk.


"Yang aku ingin sekarang hanya ingin tahu dimana alamatnya. Dan nanti anak itu aku yang akan mengadopsinya. Agar aku bisa kembali pada pacarku". Ucap Dika yakin.


Semua mengangguk paham.


"Tapi satu yang alu minta pada ibu, hangan membicarakan rencana ini pada siapapun. Termasuk mereka". Tambah Dika.

__ADS_1


.


.


__ADS_2