
"Kalian harus cari wanita itu. Celakai juga wanita itu biar tahu sakitnya di celakai". Kesal Indri.
Indri yang tadi bertemu dengan anak buahnya di cafe, sedang menuju asrama untuk mencari tahu di blok mana mantan suami dan istri barunya tinggal.
Karena besok pagi akan melakukan aksinya bersama anak buahnya.
"Tapi. Belum juga Indri sampai di gerbang Asrama polisi, dia mendapat kabar kalau mantan suaminya itu kecelakaan motor di persimpangan lampu merah.
Yang dia kesalkan, motornya di tabrak oleh orang tidak dikenal lalu kabur.
Indri yakin orang yang menabrak itu adalah orang suruhan Dika.
"Dika itu sangat menyebalkan. Aku akan balas kamu Dika. Akan aku buat wanita itu juga celaka, kalau bisa meninggal.
Biar kamu tahu bagaimana rasanya sakit hati orang yang kita butuhkan di celakai". Ujar Indri kesal, sambil mengepalkan Tinjunya.
"Kami sekarang sedang memantau kedatangan wanita itu di rumah sakit bos". Ujar anak buah Indri.
"Baik. Awasi terus.
Aku sedang menuju asrama polisi. Mungkin juga dia masih di sana.
Akan aku buat perhitungan dengannya". Ujar Indri.
Dia bergegas mengendarai mobilnya menuju asrama polisi yang sudah terlihat gerbangnya.
"Aku mau kerumah bang Guntur sebentar, mau menemui istrinya". Ujar Indri.
Saat dilarang polisi jaga untuk memasuki asrama polisi.
"Maaf bu indri. istri pak Guntur sedang keluar, dari siang berangkat dan belum pulang ke asrama". Jawab polisi jaga.
Polisi penjaga gerbang sudah tahu kalau rekan kerja mereka sedang di mata-matai.
__ADS_1
Jadi mereka yang berjaga di gerbang, kalau ada yang bertanya tentang Guntur dan istrinya, selalu bilang sedang keluar, atau sedang tidak ada di asrama.
"Dari siang?. Ini sudah sore. Dan aoa dia tahu bang Guntur kecelakaan?". Ujar Indri.
Karena kesal tidak bisa menemui istri Guntur. Padahal dia sudah berencana membawa serta kerumah sakit.
Bukan, menawarkan bareng lalu menculiknya.
"Bang Guntur kecelakaan?. Dari mana bu Indri tahu bang Guntur kecelakaan?". Tanya polisi yang menjaga.
Dia melihat Indri tajam. Hingga nyali Indri menciut. Walaupun indri mantan istri polisi, tapi namanya sudah tercorengulah perbuatan yang dia lakukan.
"Eh itu. Temanku bilang barusan. Rencananya aku mau ajak istrinya bareng ke rumah sakit.
Biar tidak repot". Jawab Indri sedikit pelan.
Takut ketahuan dengan niat jeleknya. Lagipula polisi itu kenal dengannya, tentu mereka tidak akan segan lagi padanya.
Katena bukan bagian dari mereka lagi.
Sebenarnya menantang Indri. Kenal atau tidak.
"Ah iya. Akan aku coba menelfon nanti.
Aku permisi dulu". Ujar Indri.
Dia merasa terintimidasi, karena di pandang secara tajam oleh polisi penjaga gerbang asrama.
"Kemana sih dia. Kok mereka tidak mengabarkan padaku kalau dia keluar asrama?!". Kesal Indri memukul stir mobilnya.
Tidak jauh dari asrama, dekat jalanan lebar dan teduh, Indri menepikan mobilnya.
Dia menelfon anak buahnya.
__ADS_1
"Kalian dimana?". Tanya Indri langsung.
Dia minta kedua anak buahnya itu menuju tempat dia berdiri saat ini. Tidak jauh dari depan asrama.
"Saya barusan mau masuk keasrama, dan kata polisi penjaga gerbang wanita itu keluar dari siang.
Kenapa kalian tidak memberitahu aku kalau dia keluar". Ujar Indri marah.
Karena dia dan anak buahnya kecolongan.
"Tidak ada keluar bos. Aku dari pagi hanya melihat polisi itu yang pergi.
Dari pagi saya di warung depan gerbang asrama polisi itu melihat yang keluar masuk.
Saya hanya pergi sebentar ke toilet, itupun mereka berdua yang mengantikan". Jawab salah satu anak buah Indri.
"Benar bu. Kami pergi keliling dari setengah tujuh sampai setengah delapan. Dan setelah itu kami gantian memandangi mobil dan motor yang keluar masuk.
Tidak ada wanita yang fotonya bos berikan pada kami nampak keluar asrama". Jawab yang lain.
"Terus, bagaimana bisa dia keluar asrama kalian tidak tahu?". ucap Indri kesal.
"Apa mungkin dia keluar menggunakan mobil?. Kalau pakai mobil ada beberapa kaca mobil yang lewat pas penjagaan tidak di buka". Ujar Anak buah Indri.
"Mobil dari mana?. Dari dulu bang Guntur itu tidak punya mobil. Apalagi wanita itu pasti juga tidak punya". jawab Indri.
"Bisa saja dia keluar bersama ibu- ibu yang lain. Atau... Pakai taksi online". Ujar yang lain.
Semua terdiam. Mereka tidak kepikiran kalau orang yang mereka intai bisa saja keluar menggunakan taksi online.
Mereka hanya fokus pada pengendara motor atau taksi biasa.
.
__ADS_1
.