Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 191


__ADS_3

*Beberapa bulan kemudian*


"Apa sudah mulai teratur sakitnya sayang?". Tanya Guntur.


Saat ini Gita sedang berada di rumah sakit. Dia yang dari selesai suaminya sholat magrib sudah mulai merasakan kontraksi.


Tadi dia berjalan-jalan si apartemen saja. Dan menjelang tengah malam Gita di bawa kerumah sakit.


Rumah sakit tempat dia periksa.


"Iya bang. Sudah mulai mulas". Ujar Gita meringis.


"kalau tidak kuat berjalan, duduk saja dulu. Biar abang panggil perawat dulu". Ujar Guntur.


Dia menemani istrinya duduk di sofa ruang rawat.


Guntur sangat kasihan melihat istrinya yang mengantuk dan capek.


Bagaimana tidak capek. Sudah hampir subuh, Gita tidak bisa tidur dengan nyenyak. karena kontraksi sedang dia rasakan sudah teratur. Dan mungkin akan segera melahirkan.


Tadi saat baru sampai di rumah sakit, gita masih pembukaan dua. Dan Dokter yang memeriksa mengatakan kemungkinan akan lahir menjelang subuh atau menjelang pagi.


"Istirahat sambil tiduran ya sayang". Ujar Guntur.


Gita mengangguk. Dan tidur miring dia atas tempat tidur rawat inap.


Kedua orang tua mereka juga ada di sana. Tapi mereka tadi Guntur suruh saja untuk tidur. Dengan mengelar tikar.


Untung ruang rawatnya di kelas utama. Hingga bisa ramai di dalam kamar.


Guntur pun ikut rebahan. Karena dia sedikit mengantuk.


Beberapa menit rebahan, Gita merasa kontraksi yang kuat. Hingga dia meringis.


Awalnya dia menahan untuk tidak membangunkan suaminya, tapi dua sudah tidak tahan.


"Bang.. Bang!". Panggil Gita.


Dia merasa sudah tidak tahan lagi.

__ADS_1


Tanpa memanggil beberapa kali, Guntur langsung terbangun dqri tidurnya yang sekejab.


"Ya sayang. Apa masih sakit?". Tanya Guntur.


"Kita keruang periksa yuk bang sakitnya lebih terasa rutin. Juga mulas". Ujar Gita.


"Ayo". Ujarnya bangkit dari tidurannya.


"Mau jalan atau pakai kursi roda?". Tanya Guntur.


Karena ruang bersalin untuk peeiksa berada di ujung lorong ruang inapnya.


"Coba jalan pelan bang". Ujar Gita.


Para orang tua yang sedang tidur, terbangun. Karena pembicaraan Guntur dan Gita.


"Apa sudah waktinya melahir kan sayang?". Tanya ibu Gita.


"Sepertinya iya bu. Gita sudah mulai merasa mulas!". Jawab Guntur.


Semua sibuk mengiringi Gita menuju ruang bersalin. Tapi yang boleh masuk hanya Guntur. Suaminya.


Tidak sampai dua puluh menit Gita di dalam ruang bersalin. Dia melahirkan seorang putra, yang di sambut bahagia oleh Guntur.


Setelah di mandikan dan di azani. Bayinya di bawa ke ruang untuk di tidurkan.


"Nanti bayinya di antar setelah ibunya di pindah ke kamar rawat ya pak, bu". Ujar perawat yang mengendong bayinya.


"Baik sus". Ujar Guntur.


Maka Gita dan Guntur istirahat sejenak di ruang bersalin. Hingga saat azan subuh, Gita di pindah ke ruang rawat.


Sesampai di ruang rawat, Guntur melaksanakan sholat subuh di ruang rawat saja. Bergantian dengan ibu mertua dan mamanya.


Sedangkan para bapak sholat subuh ke mesjid.


Sedangkan Gita dibiarkan untuk tidur sejenak. Karena semalam dia kurang tidur.


Menjelang matahari terbit, bayi Gita dan Guntur di antar perawat ke ruang rawat inap Gita.

__ADS_1


Guntur dan para kakek juga nenek sedang nenikmati sarapan yang di beli oleh para kakek tadi.


keluar dari mesjid, para kakek mampir di warung menjual sarapan untuk membeli sarapan.


Suasana ruang rawat Gita sangat ceria dan gembira.


Menyambut cucu mereka.


Kebahagiaan di rumah sakit berbanding jauh dari cerita pagi di dalam sel.


Indri yang pagi ini mual dan muntah karena hamil muda.


Ya. Indri di ketahui sedang hamil dua bulan yang lalu. Karena tiap pagi mengalami mual dan muntah.


Bagaimana tidak, semenjak dia masuk tahanan di kantor polisi, beberapa bulan yang lalu. Dia sudah melayani entah berapa laki-laki.


Tiap hari dia di gerayangi. dengan dalih keamanan, Indri melayani teman bang Jek yang selalu bergantian datang.


Walau tidak di perkosa beramai-ramai. Tapi dia melayani orang yang berbeda tiap hari. Hingga tidak tahu siapa ayah biologis calon bayi yang dia kandung.


Dan semenjak Indri di ketahui hamil. Sekarang di perkirakan hamil dua bulan.


Polisi menstop para laki-laki yang biasa main dengan tahanan wanita mengauli Indri.


Polisi merasa bersalah pada Indri. Membiarkan preman datang untuk memuaskan syahwatnya. Tapi lupa memberi obat anti hamil pada indri. Hingga tahanan hamil.


Padahal polisi awalnya hanya memanfaatkan keadaan. Indri yang butuh perlindungan, dan polisi butuh info.


Padahal polisi banyak dapat info dari indri, hingga mereka dapat menangkap bandar besar yang merupakan sasaran polisi sudah lama.


"Kita harus menjaga wanita itu hingga melahirkan. Dan baru kita proses setelah dia melahirkan". Ujar polisi yang menjaga sel wanita.


Kehamilan Indri sampai ke orang tuanya. Tapi orang tuanya tidak bisa melakukan apa.


Karena polisi mengatakan akan betanggung jawab menjaga Kesehatan indri hingga anak yang di kandung indri lahir.


Dan calon anakya akan ada yang akan nengadopdsi nanti setelah lahir.


.

__ADS_1


.


__ADS_2