Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 144


__ADS_3

"Mereka berhasil membuat polisi itu kecelakaan bos. Saat ini dia sedang kabur".


Intel dan anak buah Dika sedang menelfonnya.


Anak buah Dika bergerak cepat. Belum satu jam Dika menyuruh mencelakai Guntur.


Dika sudah menerima kabar pergerakan mereka. Guntur kecelakaan.


"Bagus.


Kalau dia berhasil untuk kabur, sembunyikan motor itu. dan juga dia usahakan pergi dulu keluar kota. Agar tidak terdeteksi". Jawab Dika.


Dia tidak ingin jika orang suruhannya tertangkap. Tentu dia juga akan ikut terseret jika mereka menyebutkan semua itu atas suruhan dia.


"Apa polisi itu parah?. Maksudnya meninggal". tanya Dika.


"Kurang tahu bos. polisi itu tertidur di jalan, saat di bantu waga duduk tidak bisa.


Aku tidak berani mendekat bos ramai warga yang menolongnya. Apalagi orang suruhan kita yang berusaha kabur, ikut di kejar warga.


Sayapun buru-buru pergi dari sana saat polisi itu dimasukan kedalam Ambulan". Terang orang suruhan Dika.


"Bersembunyilah. Jangan tinggaljan jejak". Ujar Dika.


Dia ingin tujuannya tercapai dengan lancar. Tanpa ada yang tahu, kalau kecelakaan Guntur adalah adanya andil darinya.


"Ada apa bos?. Kok resah begitu?". Tanya asisten Dia.


Dia masuk ruangan bosnya saat Dika selesai telfonan dengan anak buahnya.


"Aku tidak resah kok. Malah aku sedang senang. Bahagia.


Sebentar lagi gita pasti akan aku bawa, untuk meninggalkan suami cacatnya itu".jawab Dika.


"Cacat?. Suami bu Gita cacat?". Tanya asisten Dika.

__ADS_1


"Belum tahu.


Tadi orang suruhanku memberi kabar, kalau mereka sudah berhasil membuat polisi itu celaka.


Kata mereka polisi itu tidak bergerak. Bisa jadi cacat, atau kalau boleh segera meninggal". Ujar Dika sadis.


"Terus, apa yang akan bos lakukan sekarang?". Tanya asisten Dika.


Aku minta orang yang memata- matai pergerakan Indri dan anak buahnya untuk mengagalkan mereka yang berencana mencelakai Gita.


Aku tidak mau Gita mereka culik atau mereka celakai. Jadi Gita aman dari mereka walau suaminya sedang kritis di rumah sakit". Ujar Dika.


Sang asisten mengangguk paham dengan keterangan bosnya itu.


Tapi, dia sedikit berfikir, kalau...".


"Ada apa kamu?. Kok binggung". Tanya Dika memutus lamunan nya.


"Ah tidak apa-apa bos. Hanya kepikiran saja.


Seandainya polisi itu tidak meninggal dan hanya cedera, apa bu Gita...".


Tentu Gita butuh laki-laki normal dan banyak uang. Biar dia bisa hidup penuh kemewahan.


Gita masih muda untuk membenamkan dirinya mengasuh suami cacat.


Hal itu akan membuatnya tertekan". Ujar Dika.


Tidak terima asisten mengucap kan krmungkinan apapun.


Asisten menganggik saja. Tidak mau bosnya murka karena ucapannya.


Tapi dalam hatinya dia berdo'a, agar Gita yang pernah dia kenal walau sebentar untuk tabah dengan cobaan yang datang.


"Aku mau pergi ke depan asrama, untuk menunggu Gita yang pasti akan berangkat ke rumah sakit". Ujar Dika.

__ADS_1


Dia berdiri dari kursi kebesarannya untuk pergi.


"Tunggu dulu bos. Aku tadi kesini disuruh pak direktur memanggil bos.


Beliau minta bos untuk keruang kerja beliau sekarang". Ujar sang asisten.


Mengemukakan maksud kedatangannya keruang sang bos .


"Ah.


Kamu saja menghadap ke sana. Bilang pada papa kalau aku sedang ada tugas luar". Ujar Dika.


"Saya baru saja dari sana bos. Dan beliau minta bos kesana. Ada hal yang harus dibahas tentang jerja sama dengan perusahaan Z". Ujar si asisten.


"Ah. Gita lebih penting sekarang. Kerha sama itu bisa kapan-kapan di laksanakan". Ujar Dika.


Dia sudah tidak sabar untuk sampai di asrama polisi. Menemui Gita.


"Yang minta kerja sama perusahaan kita pak. Dan mereka sydah memberikan jadwal.


Tapi terserah bapak. Mau kerja samanya berhasil atau tidak.


Karena yang akan memimpin pertemuan itu pak direktur menyerahkan pada Bos.


Makanya bos diminta ke ruang direktur untuk mendengarclangsung arahan dari beluau". Ujar sang asisten.


"Ah, bikin kesal saja.


Aku padahal ingin pergi menemui Gita.


Menyebalkan". Ujar Dika kesal.


Walaupun kesal, dia tetap menuju ruang direktur. Papanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2