
"Sayang. kita akan kedokter untuk periksa setelah makan siang. Tadi abang minta bantuan teman abang untuk mendaftarnya di rumah sakit.
Dan katanya dokter prakteknya siang". Ujar Guntur.
Semalam Gita dan Guntur sudah berencana untuk pergi periksa ke dokter kandungan di rumah sakit.
Rencana mereka yang tertunda dari beberapa hari yang lalu.
"Baik bang. Nanti abang jemput saja aku ke kantor". Jawab Gita.
"Ok sayang. Nanti pas mau jemput abang kabari". Ujar Guntur.
Saat ini mereka sedang di perjalanan menuju kantor Gita. Sementara Guntur hari ini dinas malam.
Makanya Guntur mengantar istrinya ke kantor. kebiasaan Guntur jika tidak ada dinas pasti akan mengantar istrinya pergi bekerja.
"Abang jemput pas istirahat siang saja. Kita makan siang dulu, baru kerumah sakit". Usul Guntur.
"Baik bang!". Ujar Gita.
Setelah mengantar istrinya ke kantor, Guntur kembali ke apartemennya untuk istirahat sampai menjelang siang.
Apartemen yang hanya sepuluh menit dari kantor.
Tapi Guntur tidak membiarkan istrinya untuk berangkat sendiri. Kalau dia dinas pagi maka sang asisten istrinya yang menjemput.
Seperti ucapannya tadi pagi, Guntur menjemput istrinya pas istirahat siang.
Makan siang terlebih dahulu di warung bebek tempat favorit mereka. Baru mereja menuju rumah sakit.
"Apa selama ini sudah pernah periksa kedokter kandungan bu, pak?". tanya dokter wanita yang dikunjungi oleh Gita dan Guntur.
"Belum pernah dok. Selama ini kami hanya menerapkan hidup sehat saja". Ujar Gita.
"Kalau boleh tahu sudah berapa lama menikahnya. kenapa buru- buru untuk berobat dan konsultasi untuk program hamil?". Tanya dokter itu.
"Kami menikah belum setahun dok. Selama ini kami hubungan suami istri lancar. Tapi belum pernah telat datang bulannya.
Makanya kami ingin cek kesuburan kami dok. Apa diantara kami ada yang bermasalah.
Kalau ada kami ingin lebih cepat tahu dan berobat". Jawab Guntur.
"Baru setahun pak, bu. Mungkin masih menikmati masa penganten baru. Nikmati saja dulu". Ujar sang Dokter.
"Tapi dok. Sebelum ini saya pernah menikah lebih dua tahun. Dan selama Pernikahan pertama dulu juga tidak pernah telat dok.
Saya hanya was-was saja dok, apa saya yang kurang subur". Uhar Gita.
"Oo. Apa dulu pernah periksa?". Tanya dokter.
"Belum pernah dok. Dulu juga hanya menerapkan pola hidup sehat saja". Jawab Gita.
__ADS_1
Dokter mengangguk paham, mendengar ucapan mereka berdua.
"Hm. Sebaiknya untuk awal periksa kita periksa ibunya dulu ya. Coba kita usg kandungan ibunya.
Ibu boleh tiduran di kasur sana dulu. Kita periksa. Apa ada penyumbatan atau apa". Ujar dokter.
"Baik dok". Jawab Gita.
Maka dia berjalan menuju kasur yang ada di ruang praktek dokter itu.
Guntur membantu istrinya untuk rebahan, menyelimuti kaki istrinya. Sementara Gita tiduran telentang.
"Di buka saja bajunya bu. Bantu pak naikan blus istrinya". Ujar dokter.
Guntur yang dulu pernah menemani istrinya periksa kehamilan dengan telaten menaikan blus istrinya hingga pusar, dan menurunkan resleting celana kerja ustrinya.
Agar perut bagian bawah istrinya bisa di periksa mengunakan alat untuk usg.
"Ssshhh...".
Gita terjejut karena jel yang di oleskan asisten dokter mengenai kulit perut bawahnya.
Guntur tersenyum melihat istrinya yang terlihat tegang. Karena baru pertama kali melakukan pemeriksaan seoerti ini.
"Bismilah". Ujar Guntur mengelus pipi istrinya dengan ibu jarinya.
Mereka sama-sama mengucapkan bismilah.
Sambil terus mengerakan alat yang ada di perut Gita dengan lancar. sambil melihat layar yang ada di samping kiri kepala Gita. Sementara Guntur berada di sisi kanan.
Gita dan Guntur saling pandang. Terjejut dengan ucapan dokter wanita itu.
"Maksudnya apa dok?. Apa istri saya tidak bisa hamil?". Tanya Guntur hati-hati.
Setelah nenarik nafas pelan.
"Bapak sama ibu bisa lihat layar itu". Tunjuknya.
Pada dinding yang tertempel layar televisi mengantung di sana.
Guntur dan Gita serentak melihat kesana.
"Sepertinya sudah ada isinya di sana. Coba bapak ibu lihat.
Itu calon anaknya sedang berkembang di dalam sana". Terang dokter.
"mak.. Maksud dokter, istri saya hamil dok?". Tanya Guntur tanpa mengalihkan pandangannya pada layar yang tertempel di dinding.
"Benar pak.
Bapak bisa lihat titik kecil yang sebelah kiri itu". Tunjuk dokter.
__ADS_1
"Kecebong bapak sudah nempel. Kalau melihat besar dan bentuknya di perkirakan sudah lima minggu usia kecebong bapak Disana".Terang dokter itu lagi.
Guntur dan Gita saling pandang. Kaget dan terharu.
Tanpa terasa air mata Gita menetes dan mengalir kesisi dekat telingganya. Untung Gita memakai jilbab. Hingga terserap kai jilbab itu air matanya.
"Alhamdulillah sayang. Kamu hamil. Hamil anak kita". Ujar Guntur.
Dia menciumi pipi dan kening istrinya untuk mengungapkan rasa syukurnya. Mereka sama- sama terharu. Menangis bahagia.
Tidak peduli dengan adanya dokter dan asistennya. Dokter pun membiarkan sepasang suami istri itu melepas rasa harunya.
Asisten dokter membantu membersihkan jel yang menempel di perut Gita.
Setelah menangis haru dan berpelukan sejenak, Guntur membantu Gita merapikan baju istrinya itu. Dan kembali duduk di depan meja dokter.
"Apa ada yang harus dilarang bagi ibu hamil dok. Misalnya bekerja?". Tanya Guntur.
Karena istrinya sekarang memimpin perusahaan cabang milik orang tuanya di kota ini.
"Tidak ada pak. Selama ibunya nyaman dan tidak terlalu capek. Tidak apa ibu hamil untuk bekerja dan cukup untuk istirahat". Jelas Guntur.
"Untuk urusan ranjang bagaimana dok?". tanya Guntur.
Hingga dapat cubitan dari Gita istrinya. Seperti baru saja. Padahal Guntur sudah pernah menghadapi istri yang sedang hamil.
"Selagi ibunya nyaman pak. Tapi tidak boleh memaksa saat istrinya sedang capek.
Juga tidak boleh terlalu bersemangat, karena masih sangat muda". Tambah dokter itu.
Gita dan Guntur mengangguk paham.
"Ini vitamin obat yang doperlukan oleh ibu hamil. Di tebus ya pak.
Untuk penambah nutrisi ibu juga minum susu ibu hamil juga rutin.
Ini juga ada buku perkembangan kehamilan dan setiap periksa selalu di bawa". Ucap dokter.
"Baik dok. Terima kasih". Ujar Gita dan Guntur keluar ruang praktek dokter itu.
Setelah beberapa wejagan dan keterangan di berikan oleh dokter. Maka Guntur dan Gita menuju apotik. Untuk mengambil obat dan vitamin.
Lebih setengah jam mereka menunggu obat. Barulah mereka keluar rumah sakit.
Mereka menuju supermarket, untuk membeli susu dan cemilan. Karena Guntur tahu, ibu hamil sering merasa lapar.
Tadi Gita sudah mengatakan pada asistennya kalau dia tidak balik ke kantor.
.
.
__ADS_1