
"Kenapa kamu mencari tahu semua tanpa seizinku. Dan kamu tidak memberi tahuku dari tadi pagi soal ini". Ujar Dika.
Sang asisten baru saja memasuki ruang kerja Dika. Dan dika sudah memberondong pertanyaan pada sang asisten.
Dika melemparkan map biru keatas meja kerjanya. Dia duduk di kursi kebesarannya dengan menatap tajam asistennya.
Terlihat sang asisten menarik nafas pelan dan juga dia menghembuskannya dengan pelan.
"Maaf bos. Aku penasaran dengan..".
"Kenapa baru sekarang kamu bisa mendapatkan info seakurat ini?!". Potong Dika.
"Kan dari pembicaraan dengan pekerja wo di taman bos.
Saya sangat penasaran dengan foto...".
"Selama beberapa bulan kemaren kok kamu tidak ada dapat info apa-apa tentang Gita?!". Dika menantang asistennya.
"Info dari bos tentang bu gita yang kurang. Bos tidak ada memberi petunjuk menyangkut semua.
Aku baru kemaren dapat sedikit petunjuk untuk memulai pencarian. Dan dalam tiga hari mereka dapat semua info yang bisa di percaya". Jawab sang asisten.
Dika termenung.
Ya. Dia yang selama ini tidak ada petunjuk yang mengarah ke latar belakang Gita.
Tentu sang asisten dan anak buahnya kesulitan untuk mencari.
Mereka secara acak dan berpencar untuk mencari keberadaan Gita.
Bahkan dengan mengikuti hingga menguntit Gita. Dan beberapa kali Gita lolos dari iringan anak buah si asisten.
"Terus aku harus bagaimana sekarang. Gita sudah menikah. Dengan polisi lagi. Dan juga ternyata dia anak seirang pengusaha besar.
__ADS_1
Perusahaan yang tidak mungkin aku saingi". Ujar Dika frustasi.
Setelah beberapa saat dia terdiam, merenung. Dia mengungkapkan keresahannya
Sang asisten hanya diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Juga dia takut bosnya akan marah jika ucapannya tidak sesuai inginnya.
"Apa Gita keguguran?. dan kenapa secepat ini dia menikah?". Gumam Dika.
"Maaf bos Kalau bokeh berbicara.
Kita juga tidak tahu kalau bu Gita benaran hamil. Karena pihak yayasan juga tidak memberi tahu data yang akan menyerahkan bayinya". Ujar si asisten.
"Bisa jadi Gita memang sudah mekahirkan. Prematur misalnya.
Kan sudah lebih tujuh bulan dari hari dimana aku melakukannya
Dan mereka mengambil anakku.". Ujar Dika
"Kamu selidiki lagi. Cari tahu tentang Gita beberapa bulan yang lalu.
"Apa bos sebaiknya cari wanita lain saja bos. Selain bu Gita sudah menikah, aku juga khawatir.
Perusahaan orang tua bu Gita itu besar. Mereka bisa menghambat kelancaran perusahaan kita kedepannya. Jika mereka terganggu.
Dan juga, suaminya seirang polisi. Tentu kita tidak bisa dengan kancar untuk mencari tahu. Bisa jadi dia di jaga atau pakai bodyguard". Ujar si asisten.
"Aku cuma ingin tahu tentang anakku. Bisa jadi mereka tidak mau mengasuhnya". Ujar Dika.
"Kalau soal anak, bos katanya juga sudah punya anak dari beberapa wanita.
Atau bos menikah saja. Cari wanita baik-baik. Biar bos Dika juga punya anak.
Banyakpun tidak ada yang melarang. Bos kan kaya". Usul si asisten.
__ADS_1
"Aku maunya Gita!". Ujar Dika.
Dika melihat asistennya dengan garang. Dia tidak terima dengan usulan asistennya.
"Hmmm.. Itu hak bos, tapi aku tidak mau mencari tahu tentang bu Gita.
Bukan tidak mau ikut perintah bos. Tapi karirku yang orang biasa akan di pertaruhkan disini.
Beda dengan bos sebagai pewaris perusahaan ini.
Aku akan bekerja sebagai asisten seperti biasa bos. Tidak dengan penyelidikan atau mencari tahu data diri diluar perusahaan". Ujar si asisten.
"Kamu takut?". Tanya Dika.
"Iya bos. Aku tidak mau di pecat juga. Karena aku masih butuh pekerjaan". Jawab Dika.
"Ok. Kamu cukup menjadi asisten biasa. Semua pekerjaan kantor kamu yang kerjakan.
Dan urusam diluar pekerjaan akan aku cari intel yang profesional". Ujar Dika.
"Terima kasih bos. Aku akan bekerja dengan giat". Ujar si asisten.
"Baik. Silahkan kamu bekerja kembali. Mengerjakan oekerjaan seperti biasa. Juga pesananku tiap malam". Ujar Dika.
Karena hanya dengan asisten yang ini Dika bisa memesannya. Yang sebelum ini tidak mau mengurus urusan diluar pekerjaan. Apalagi urusan bawah perut.
"Baik bos". Ujarnya.
Kembali keruang kerjanya. Mengerjakan pekerjaan yang sering menumpuk.
Karena Dika sering tidak balik kekantor jika rapat saat makan siang.
'Untung gaji dan bonusnya besar, hingga aku bisa menabung'. Gumam sang asisten dalam hati.
__ADS_1
.
.