Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 178


__ADS_3

"Kamu hebat sayang. Nyalinya ciut saat kamu berbicara". Ujar Guntur.


Mereka baru saja memasuki ruang kerja Gita.


Mereka mengadakan pertemuan hampir tiga jam. Dan sekarang sudah pukul setengah lima.


"Biar saja bang. Aku geram dan pesal padanya. Sudah jelas nampak kejahatannya.


Tapi dia hanya minta maaf begitu saja. Seolah kelakuannya itu bisa di maafkan begitu saja"..ujar Gita kesal.


"Kita sholat ashar dulu bang, sudah telat nih. Gara-gara menghadapi si Dika itu". tambah Gita.


"Kamu jaga emosi saat berbicara. Nanti tekanan darah kamu tinggi. Kasihan calon bayi kita". ucap Guntur mengingatkan istrinya.


Gita selama ini tidak oernah dia lihat se emosi itu berbicara.


"Iya bang. Hanya ingin menampakkan padanya, kalau aku tidak bisa di tindas". Jawab Gita.


Lalu mereka melaksanakan Sholat ashar yang sudah telat.


Sambil menunggu keputusan Dika.


Sementara Dika dan asistennya sedang berdiskusi di ruang rapat perusahaan Gita.


"Kenapa dompet dan ponsel bos di bawa?. Apa maksud bos akan di bawa ke kantor polisi". Tanya asisten Dika.


"Hhfffff...". Dika menarik nafas kasar sebelum menjawab.


"Aku di suruh turun langsung mengawasi proyek di pulau K. Dengan syarat.....".

__ADS_1


Dika menceritakan semua yang di ucapkan Gita. Kalau dia tidak mau, dia akan di penjara.


"Kalau menurutku itu lebih baik bos. Dari pada bos di teror Indri.


Apalagi di sana bos akan tenang bekerja. Walau diawasi pihak bu Gita.


Dari pada di penjara bos. Enakan di proyek, masih bisa melihat dunia luar.


Angab saja bos jadi tahanan kota, di ungsikan ke sana. Biar bekerja dengan tenang". Jelas asisten Dika.


"Juga dari pada di kebiri bos. Hancur dunia pergelutan bos nanti". Tambah asisten Dika.


Dika merasa tenang, setelah asistennya memberi pendapat. Tapi mendengar ucapan di kebiri, Dika merinding.


"Itu yang aku cemaskan. Kalau aku di kebiri, aku tidak bisa menikah seumur hidup. Aku juga mau punya anak kedepannya". Ujar Dika.


Membayangkan tubuhnya yang tidak bisa enak-enak lagi.


"Aku ingin anak yang bersih, dari wanita baik-baik.


Lagi pula anak yang di akui para wanita tersebut aku ragu.


Mereka wanita yang suka dicelupin banyak pria. Jadi aku tidak yakin mereka melahirkan anakku". Jawab Dika.


Asistennya diam. Mendengar ucapan bosnya.


"Jadi keputusannya apa bos?.


Kalau menurutku, bos ikut saja semua perintah bi Gita. Selain bos bisa menebus kesalahan pada bu Gita dan suaminya, bos juga akan amsn dari teror indri". Ujar asisten Dika mengulang pendapatnya.

__ADS_1


Tidak tahu apa keputusan bosnya itu. Apa menolak atau di penjara. Dan di kebiri.


"Iya. Sebaiknya aku ikut saja keputusan Gita". Ujar Dika setelah terdiam beberaoa saat.


"Urusan dengan papa kamu yang bilang. Biar papa tidak cemas.


Aku juga tidak tahu, apa bisa minta izin langsung karena ponselku di ambil Gita.


Juga pekerjaan disini tolong kamu tangani selama aku di pulau k". Ujar Dika.


"Sebaiknya bos langsung menelfon pak direktur. Biar beliau memberi izin dan restu bos pergi bekerja.


Pasti beliau sangat senang mendengar bos akan turun langsung mengawasi proyek di sana.


Untuk pekerjaan di sini serahkan saja pada saya. Saya akan kunjungi bos seperti ucapan mereka". Usul asisten Dika.


Dika mengangguk paham. Betul juga usulan asistennya. Dan juga dia ingin papanya tidak cemas. Karena mungkin tidak bisa menghubunginnya selama beberapa bulan kedepan.


Maka Dika menelfon papanya menggunakan ponsel sang asisten, dengan alasan ponselnya rusak.


Dika minta izin untuk berada di pulau K untuk beberapa bulan. Dan berpesan pada ayahnya, jika ada orang yang mencari dirinya. Jangan katakan dimana dia berada.


Dia beralasan tidak ingin di ganggu jika sedang bekerja. Dia ingin fokus menyelesaikan proyek besar yang baru pertama kali dia tangani.


Apalagi waktu yang di berikan dia rasa sangat sedikit. Tapi dia tidak bisa mendebatnya untuk sekarang.


Semoga saja dia dan tim yang akan turun mengerjakannya bisa bejerja sama.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2