
Setelah bang Guntur pulang kerumahnya. akupun memasuki kamarku.
Tadi dia bilang ada makanan untuk makan siang, maka aku mengambil bungkusan yang tadi dibawa bang Guntur.
Dan makanan yang dibawa oleh bang guntur nasi rumahan. apa dia yang memasak atau katering?. pikirku.
Tidak masalah soal itu. yang penting aku makan siang. karena aku lapar.
Aku memakan makanan bawaan bang Guntur. Ada ayam bakar dan tumis kangkung, juga kerupuk udang. tidak ketinggalan sambal bawang juga dadar telur.
Aku merasa porsinya cukup untuk satu orang yang sedang kelaparan sepertiku. maklum sudah hampir setengah tiga makan siang.
Selesai makan aku santai sejenak di kamar kosanku. duduk di dekat jendela sambil mendengarkan musik.
Sedang santai sejenak, aku ingat. kalau aku akan disuruh kerumah bang Guntur. dan akan di jemput oleh anna.
Sebaiknya aku kabur sampai magrib. pergi kemana entahlah. keliling dengan mobil boleh juga. yang penting pergi saja dulu untuk menghindari mereka.
Aku menganti baju dengan pakaian santai saja, celana kulot dan switer tipis, tidak lupa jelbab instan. tanpa memoles wajah dengan bedak, karena niat di atas mobil saja atau ketaman sekedar joging sore.
Aku tersenyum penuh kemenangan karena akan menghindar sejenak dari bang guntur yang bilin aku pusing.
Lalu aku mengambil kunci mobilku, memasukan ponsel dan dompet ke saku kulotku.
Ku kunci pintu kamar kosanku, dan memasuki mobil.
Aku panaskan sejenak, lalu maju menuju gerbang kosan. Aku biasa memundurkan mobil kedalam halaman. agar pas keluar langsung berabgkat.
Saat berbelok keluar pagar. tiba di depan rumah bang guntur aku di hadang bang guntur.
"Ish. bikin kesal saja. kok dia tahu aku keluar rumah!". gumamku.
__ADS_1
Dia langsung menuju pintu arah kemudi. dan mengetok kacanya.
"Mau kemana sayang?!". tanya bang guntur.
"Itu kedepan!". jawabku.
"Kedepan kan banyak tujuannya!".
"Itu. aku.. aku mau kemini market!". jawabku.
Hanya it yang terlintas di benakku.
"Oo.. kok tidak pakai motor anna?!. kan masih disana?!". tanya bang Guntur memasukan kepalannya melihat kearah kakiku.
Aku nemundurkan tubuhku. karena keoalanya hampir mengenai daguku.
Mungkin memastikan aku pakai sepatu, bisa jauh aku belanja. Untung aku cuma memakai sendal jepit rumahan.
"Mau aku antar?!". tawarnya.
"Tidak usah. aku bisa sendiri!". jawabku.
Bisa tidak jadi aku menghindar darinya nanti.
"Ok. cepat balik ya. orang tuaku sudah di perjalanan. mungkin sebentar lagi sampai.
Ak tidak ingin mereka kecewa. Aku yang memaksa mereka pulang cepat, aku ingin memperkenalkan kamu sebagai calon istriku.
Dan mereka sangat senang mendengarnya. hingga buru-buru balik untuk menyambut kamu yang akan datang!". jelas bang Guntur memandangku dalam. dengan penuh harap.
Aku sedikit heran, kami baru saja bertemu tadi pagi, dan dia langsung menyatakan kalau aku adalah calon istrinya.
__ADS_1
Tidak salah memang, karena aku dan dia sama-sama sendiri. dengan status duda dan janda.
Tapi aku belum berfikir untuk memulai hubungan serius. Aku masih sedikit takut, dan was-was.
Agak lama kami saling pandang, dan saling merenung.
"Hati-hati ya, cepat balik. aku akan menunggu dirumah dengan orang tuaku!". ucapnya tersenyum.
Aku mengangguk ragu, karena aku sudah berniat tidak akan datang nanti kerumahnya.
Tapi. melihat dia mengharapkanku untuk datang. aku jadi kasihan. Ragu dan.
Ah pusing.
Dia orang baik, tidak tega untuk mengecewakannya.
Aku menjalankan mobil pelan. kulihat bang guntur mrlihatku sampai mobilku berbelok.
Fikiranku bimbang. apa yang harus aku lakukan. Aku memang belum memikirkan kearah sana. tapi menolaknya juga aku tidak sanggub.
Aku menjalankan mobil menuju jalan utama. dan mengikuti arah jalan yang ramai. hingga sepuluh menit berkendara, aku memutus kan untuk balik arah.
Sebaiknya aku hadapi saja, mungkin aku bisa minta pendapat pada bang guntur nanti sebelum bertemu orang tuanya.
Mungkin aku minta waktu atau sedikit memikirkan keputusan yang tidak membuat aku menyesal kedepannya.
Juga ingin bicara dengan orang tua dan abangku.
.
.
__ADS_1