
"Lucu anaknya teman abang. Aku gemes". Ujar Gita.
"Kita akan berusaha lebih giat sayang. Abang berencana untuk mengajak kamu untuk konsultasi dengan dokter kandungan.
Bukan hanya kamu yang akan di periksa. Abang juga akan periksa". Ujar Guntur.
Mereka sedang duduk di ruang menonton bersantai setelah setengah jam yang lalu baru sampai di apartemen.
Sudah bersih-bersih dan dan berganti dengan pakaian rumahan.
"Aku sudah siap bang. Aku sudah tidak sabar untuk segera mempunyai anak.
Umurku sudah lebih dua puluh tujuh. Dan sudah waktunya punya anak". Ujar Gita.
Dia sudah sangat menginginkan punya anak. Saat menikah untuk pertama kalinya. Dua tahun peenikahan, tapi belum pernah hamil atau telat.
Dan sekarang. Sudah tujuh bulan pernikahan keduanya. Belum juga dia hamil atau telat datang bulan.
"Kita akan konsultasi besok. Sepulang abang dinas kita ke praktek dokter, yang ada di dekat asrama.
Nanti abang minta nomor dokter prakteknya ke si arfan, kan istrinya disana periksa". Ujar Guntur.
"Boleh bang. Aku tidak sabar.
Mungkin melihat bayinya pak Arfan tadi keinginanku untuk punya anak semakin tinggi.
Ingin hamil dan melahirkan". Ujar Gita bersemangat.
Guntur melihat keinginan istrinya yang menginginkan anak.
Guntur memeluk istrinya, mendekap sambil menciumi pucuk kepala dan kening istrinya.
"Semoga kita tidak ada halangan untuk punya anak ya bang". Ujar Gita.
"Inshaa allah sayang. Kita akan berdo'a pada yang kuasa. Dan akan selalu berusaha". Ujar Guntur.
Dia menciumi wajah istrinya, dengan lembut.
"Abang pijiti ya, biar tubuhmu rileks dan santai". ujar Guntur.
Dia membopong tubuh istrinya, menuku kamar mereka. kamar peraduan tempat mereka mengisi hari-hari dan nalam panas mereka.
__ADS_1
Semenjak mereka menikah siri tujuh bulan yang lalu, dan baru menikah secara negara beberapa hari yang lalu.
Kamar ini menjadi saksi hangat dan panasnya hubungan dan olah raga ranjang mereka.
Hingga beberapa kali Gita dibuat tidak bisa berjalan oleh Guntur. Namun, kemesraan dan kehangatan mereka selalu mengisi hari-hari mereka.
"Enak bang, tubuhku rileks rasanya". Uhar Gita.
Saat Suaminya dengan lincah memijiti bahu, punggung hingga bokong istrinya.
Gita yang tidur telungkup dipijiti oleh Guntur menggunakan hand body saja. Agar kulit putih dan mulus milik istrinya tidak panas karena obat gosok.
"Rileks dan santai sayang. Tubuhmu harus dimanja, biar tidak terlalu capek saat aku gempur. He. He.". Ujar Guntur.
"Hhmm ". Ujar Gita. Menikmati pujatan suaminya. Sambil merem.
Guntur yang memijiti punggung polos istrinya, dari tadi berusaha menahan sesuatu yang nenonjol. Semakin mengembang karena terbangun.
Apalagi sesekali mendengar istrinya mendesah, mengerang nikmat saat dipijiti.
Tapi dia sudah berniat dari tadi, saat mendengar ucapan teman saat di asrama tadi. Menabur benih menjelang subuh, biar benihnya subur.
Dan mudah- mudahan bisa nyangkut jadi Guntur junior.
"Abang mau tukar suasana sayang. Tadi mendengar ucapan teman abang, sebaiknya kita melakukannya menjelang subuh.
Katanya saat itu bibit unggul sedang aktif". Jawab Guntur.
Gita yang sedang menelungkup membalikan tubuhnya.
Guntur menelan ludahnya, melihat tubuh polos istrinya yang menampakkan puncak favoritnya untuk di pegang dan di ****. Menyusu.
"Kenapa bang?. Biasanya abang juga melakukan malam dan subuh hari". Ujar Gita heran.
"Ah... Itu...
Hmm.. Simpan tenaga untuk subuh, kan maunya dua ronde. Jadi malam kita tidur untuk istriahat". Ujar Guntur.
Dia memeluk tubuh polos istrinya sambil menciumi bahu istrinya. Tidak lupa tangannya bertualang ke puncak tubuh istrinya.
"Kalau pegang dan nen bolehlah. Kan penambah tidur nyenyak". Uhar Guntur.
__ADS_1
Malah mulutnya mulai mencari pucuk dada istrinya yang menganggur, untuk di sesap. tidak dia pegang.
"Abang ada-ada saja". Ujar Gita.
Mengelus rambut suaminya, dimana kepala suaminya itu sedang berada di dadanya, dengan wajah menempel.
Gita menarik selimut, menutup sebagian tubuhnya. Hingga leher suaminya.
Mereka tidur dengan gaya bayi.
Dengan tersenyum Gita mengelus rambut dan kepala suaminya.
'Semoga aku bisa di beri kepercayaan oleh allah untuk hamil dan punya anak sholeh dan sholehan'. Gumam Gita dalam hati.
Bersamaan dengan Gita yang tertidur dipelukan suaminya. Dika malah sedang di layani oleh dua orang wanita yang dia minta carikan pada asistennya.
Setelah kedua orang suruhan Dika tadi pulang, dia minta asistennya untuk mencarikan wanita. Dua orang.
Maka, terpaksalah sang asisten membawa dua orang wanita ke apartemen bosnya.
Padahal, sudah sekitar lima bulan ini bosnya mengurangi jadwal celap celup. Cukup sekali atau seminggu. Tapi malam ini minta dua.
Dika yang sedang di gerayangi oleh dua wanita, tidak henti-henti nya menyebut nama Gita.
"Dasar bos aneh. Ini bukan cinta namanya pada bu Gita. Hanya obsesi untuk memiliki bu Gita saja". Ujar si asisten.
Dia yang sedang duduk di ruang tamu apartemen bosnya itu mendengar dengan jelas kegiatan panas bosnya itu.
"Iya, aku terobsesi untuk memiliki Gita. Karena dia wanita baik yang pernah aku kenal". Jawab Dika dari dalam kamar.
Sang asisten kaget, bosnya itu mendengar ucapannya. padahal dia tidak begitu keras berbicara. Dia juga duduk membelakangi pintu kamar.
Dia sengaja duduk disana disuruh Dika, agar dengan mudah dipanggil. Saat akan mengantar kedua wanita itu keluar dari apartemennya.
"Makanya aku ingin Gita itu menjadi istriku. ibu dari anak-anakku. Wanita solehah, yang pasti bisa mendidik anak- anakku kelak". Tambah Dika.
Sang asisten mengeleng sambil tersenyum. Mengingat kelakuan bosnya yang suka celap-celup, tapi ingin wanita solehah.
"Bangun bos". Ujarnya dalam hati.
Sang asisten tidak berani melihat, tapi,
__ADS_1
Senjatanya mulai bangun. Karena mendengar suara-suara dari dalam kamar.
.