Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Masih Canggung


__ADS_3

Selesai melaksanakan sholat berjamaah. Guntur menghadap kearah istrinya. Mengulurkan tangannya.


Gita menyambut tangan suaminya menciumnya takhzim. Dan Guntur mencium pucuk kepala istrinya sambil berdo'a. lalu mengecup kening istrinya itu. Untuk pertama kalinya.


"Aku sengaja mempercepat pernikahan kita". Ucap Guntur saat mereka sama-sama melipat perlengkapan sholat mereka.


"Kenapa tidak dibicarakan bersama bang?. Aku serasa berhenti bernafas saat baru sampai tadi.


Juga, tadi dirumah mama dan Anna santai saja. Malah sibuk ngurusin aku yang katanya dajak pergi kondangan". Keluh Gita.


"Maaf. Semua memang rencana aku. juga dibantu orang tua.


Selain ingin kita segera halal, aku ingin menjagamu dari orang yang berniat mencelakaimu.


Dengan kamu menjadi istri, nama baik kamu bisa terjaga. Tidak ada yang bisa melecehkan kamu lagi". Jawab Guntur.


"Tapi tidak perlu dirahasiakan bang". Ujar Gita.


Dia duduk di sofa yang ada dalam kamar. Kamar dengan suasana baru. Dan mereka duduk berdampingan.


"Bukan rahasia kok. Kamu yang mungkin lupa.


Kan malam itu waktu kita datang, para orang tua membicarakannya. Kalau kita bisa menikah siri dulu setelah satu hari masa iddahmu habis.


Dan kita sama-sama mengurus surat kepengadilan juga ke instansiku.


Ingat tidak?". Ucap Guntur.


Gita merenung. Mengingat kejadian waktu itu. Dan.


Iya. Semua merencanakan, walau tidak ada jawaban dari Gita.

__ADS_1


"Maaf ya. Aku bukan tidak mau memberi tahu. Tapi sekalian surprise juga". Tambah Guntur.


Guntur mengenggam tangan istrinya yang baru dinikahinya itu.


"Menualah denganku Gita. Istriku.


Jadilah istri dan ibu bagi anak- anakku. Dan selalu berada di sampingku hingga tua". Ucap Guntur mencium punggung tanggan Gita.


Gita hanya mengangguk sekilas. Karena dia masih ada sedikit trauma dengan pernikahannya yang lalu.


"Aku ingin kita saling terbuka dan saling melengkapi. Dan jangan ada yang bisa memisahkan kita kecuali takdir allah". Tambah Guntur.


Hhff


Gita menarik nafas pelan. Dan menghembuskannya.


"Bang. Mungkin abang tidak tahu dengan yang aku alami kemaren, dalam rumah tanggaku.


Ada sedikit ketakutan dihatinya.


"Maaf..".


Guntur mengeratkan gengaman tangannya. Agar istrinya tenang. Dia melihat istrinya yang sedikit terisak. Mungkin ada yang di tahan.


"Mulai sekarang. Aku akan menhadi tempat berkeluh kesah mu. Tempat kamu bercerita, juga tempatmu bersandar.


Kamu boleh bercerita semua yang kamu pendam selama ini padaku. jika kamu percaya, aku akan jadi pendengar terbaik". Ucap Guntur.


Gita mengangguk, melihat mata teduh suaminya.


"Nanti aku ceritakan. Kalau aku siap". Jawab Gita.

__ADS_1


"Ok. Sekarang waktunya tidur, kita istirahat ya. Besok aku dinas pagi. Dan juga sedikit jauh dari tempat dinasku dari sini.


Besok kita berangkat bersama. Dan kamu tunggu aku di restoran bebek tempat mobil kamu di simpan". Ujar Guntur.


Deg


Gita tertegun.


Istirahat?


Tidur?


Pasti akan berlanjut ke...


"Kita istirahat saja. Aku tidak minra hakku kok malam ini. Kecuali kalau kamu siap". Jawab guntur tersenyum.


Dia tahu. Istrinya itu masih belum siap untuk itu. Karena masih canggung dengan pernikahan ini.


Apalagi suaminya baru meninggal. Tentu masih ada rasa dan kenangan yang tetinggal.


Dia saja yang sudah setahunan berpisah dengan istrinya, masih mengingat momen kebersamaan itu. Walau hatinya masih sakit, karena di hianati pasangan.


Guntur memang berniat untuk pendekatan dulu beberapa hari ini dengan Gita. Agar ada rasa nyaman dan santai antara mereka berdua saat berdua.


Dia melihat Gita yang pendiam, dan seperti was-was saat berbicara. Mungkin dia ada rasa tidak percaya atau takut berbicara.


Selama beberapa kali melihat Gita, Guntur memang melihat Gita tidak banyak berbicara. Bukan hanya padanya. Tapi juga pada yang lain.


Hanya dengan Anna Gita berbicara santai. Mungkin sifat anna yang ceria dan juga sedikit usil. Hingga mereka sering bercanda dan tertawa.


.

__ADS_1


.


__ADS_2