Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Lagi


__ADS_3

Setelah kumpul sebentar di kamarku, semua teman kosan akan kembali kekamar mereka masing-masing.


Tapi


"Buk!!!..


Ini punya siapa?!". tanya seorang pekerja rumah di kosan bu rt.


Kami semua melihat keluar dan berdiri di depan kamar kosanku.


"Ada apa mbak?!". tanya Oliv.


"Itu mbak. seperti tas. tapi aku ragu mau pegang!. takutnya bom!". ucapnya menunjuk sesuatu, dan berdiri agak jauh.


"Apaan sih!". ucap Silvia kepo.


Dan mendekat ke teras tempat..


Aku ingat, kan aku yang mengantungkaan tadi. sebuah kresek yang aku temukan di bawah jendela kamarku, membuat kain tile jedeka kamarku tersingkap.


Juga bangkai tikus yang sudah aku buang di tempat sampah tadi.


Untung aku mengantungnya di dekat kursi teras depan.


"Ada apa?!". tanya ibu kos dan suaminya.


Juga.


Sepertinya aku kenal. Apa dia anak ibu kos ku?!.


Aku yang masih berdiri di dekat mobilku sedikit mundur. Bukan takut, tapi risih.


"Itu bu, pak!". tunjuk di mbak.


Tiba-tiba anak ibu kos mengambil kantong kresek yang aku gantung tadi.


Aku penasaran, punya siapa barang itu. Dan mengapa dia meletakan di kamarku. Apa dia berniat untuk menjebakku?!.


"Tas mah. punya siapa ini?!".tanya Rendra.

__ADS_1


Ya. anak ibu kos. Aku kenal dia, dia adalah Rendra, temanku smp. Dan istrinya Citra. Dia..


"Coba buka isinya, mana tahu ada tanda pengenal!". ucap bapak kos.


"Biar ibu yang periksa!". ucap ibu kos.


Semua mendekat ke teras depan, dan aku kembali saja kekamar. Malas untuk bergabung.


Biar ibu kos yang menyelesaikan. Aku mau istirahat saja. karena aku capek dan lelah.


Paginya aku tidak bergabung untuk sarapan.


Tadi selepas subuh aku mengambil sarapan di dapur, membawanya ke kamar. Alasanku ke mbak di dapur, aku lapar pagi, karena aku sibuk menyelesaikan pekerjaan. dan tidak bergabung untuk sarapan.


Selama aku kos di sini memang belum pernah bertemu dengan Rendra dan Citra.


Entah dia yang berangkat telat, atau duluan, dari waktu aku berangkat bekerja.


Tok.. tok...


"Gita!!. kamu tidak ikut sarapan?!". panggil mitha.


"Aku sudah ambil tadi. aku keburu waktu. semalam aku lupa menyelesaikan pekerjaan yang aku bawa pulang. dan harus aku serahkan pagi ini!". tunjukku pada laptopku yang sedang menyala.


Padahal aku tidak pernah membawa pekerjaan pulang. Kalau ada pekerjaan yang belum selesai, aku lebih sering lembur. Atau besok datang lebih pagi.


Mitha sedang berdiri di pintu kamar juga melihatku yang juga sudah rapi berpakaian kantor.


"Ooo. Aku kira kamu malas bertemu hani!". ujarnya.


"Kenapa memang. aku kan tidak ada masalah dengannya!?". ucapku.


"Ternyata yang semalam di temukan oleh mbak, tergantung di teras adalah tasnya Hani.


eh dia malah sewot kalau kamu yang ambil, sampai geledah kamar kamu.


Dan semalam dia dimarahi ibu kos, karena menuduh sembarangan!". jelas mitha.


"Ooo!!".

__ADS_1


aku tidak begitu respek. Malas untuk ikut campur. Karena dia sudah menabuh genderang perang padaku.


"Ya sudah, aku mau sarapan dulu!". ucapnya.


Maka aku pun menutup pintu kamarku lagi. Aku harus hati-hati. kamarku harus dikunci dan jendela kamar juga harus tertutup rapat.


Jangan sampai dua kali aku di jebak lagi.


Aku mengambil steples dari kotak akat tulisku. Untung ada yang besar. Aku ambil kertas dan kulipat memanjang.


Jendela kamarku seperti sudah pernah di conkel, karena kayunya lecet. Aku tidak tahu, apa dia yang mencongkel, atau sudah ada sebelumnya. walau terali ada, tapi tidak rapat.


Sebelum mengklep kain tile, aku memasang kunci jendela terlebih dahulu. dan memasang paku payung menghadap ke atas dan di tempel di dobel tip pada kunsen bagian dalam. Untung kaca kamarku berwarna hitam.


Aku mengklep sekeliling kain tile pada kunsen pintu. dan di lampisi kertas berlipat pada setiap steples.


Hingga kain tidak bergeser. jika sesuatu terdorong, akan merobek kain.


Pukul tujuh kurang lima Anna datang dengan ocehan cerianya.


Dan akupun berangkat kekantor dengan Anna menuju sekolahnya.


Tidak lupa mengunci pintu kamar.


Waspada.


Aku harus wapada saat ini, karena ada yang berniat jahat padaku.


Tapi.


Sepulang dari kantor, aku menemukan surat terselip di bawah pintu kamarku.


Aku membawanya masuk, lalu membacanya.


Surat yang berisikan ancaman dan kata-kata kotor tertulis di sana. Walau tidak menulis nama pengirimnya. aku sudah bisa menebak, kalau hani yang mengirim.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2