
"Bang. Kok tidak bangunkan aku kalau mau kekamar mandi". Ujar Gita.
Saat merasakan kasurnya bergerak. Dan melihat suaminya itu sedang berjalan di bantu tongkat penyangga
"Abang bisa kok. Bergerak pelan saja". Jawab Guntur.
"Ya. Walau bisa sendiri harus di temani bang". Ujar Gita.
Membimbing suaminya berjalan ke kamar mandi. Yang hanya beberapa langkah dari kasur.
"Mau aku bantu bang?". Tanya Gita.
Melihat sarung yang di pakai Guntur hanya di pegang. Tidak diikat.
"Terima kasih sayang. Abang cuma mau buang air kecil saja kok". Jawab Guntur.
"Ok. Aku tunggu di luar ya bang". ujar Gita.
"Baik sayang.
Ambilkan dalamanku sekalian ya sayang, juga celana rumahan yang longar". Ujar Guntur.
"Baik bang". jawab Gita.
Diapun berjalan menuju pintu ruang ganti yang berada di samping pintu kamar mandi.
Mengambil dalaman suaminga, juga celana longar se lutut.
"Kamu bolehasuk sayang". Panggil Guntur dari dalam kamar mandi.
Maka Gita membawa celana ganti buat suaminya. Tidak luoa handuk.
"Bantu abang menerunkan celananya". Ujar Guntur.
Sarung sudah terketak di lantai. Dan hanya memakai dalaman saja.
Maka Gita melilitkan handuk di pinggang suaminya. Dengan meraba-raba. Gita menurunkan dalaman suaminya
Saat dalaman suainya sampai lutut, gita menyuruh suaminya duduk di atas closet duduk. Agar dia bisa menurunkan dengan leluasa.
Karena kaki kirinya di semen, maka Gita menyuruh Guntur harus duduk, agar kaki kirinya tidak berdiri dan menginjak lantai.
"Apa sebaiknya abang tidak pakai dalaman saja bang. Langsung pakai celana pendek saja.
Atau pakai sarung saja". Usul Gita.
"Ah, enak di kamu dong sayang". Ujar Guntur.
"Kok enak di aku bang?. Kan abang yang tidak susah untuk membukanya jika mau kekamar mandi" jawab Gita heran.
"Iya sayang. Kan kamu bisa lihat dan pegang tanpa....".
"Aku tidak semesum itu bang". Potong Gita.
Langsung tahu maksud suaminya.
"Hmmm...Tapi boleh juga, seberapa tahan abang kali ya, jika aku mainkan itu abang.
Secara abang belum bisa mandi besar". Ujar Gita usil.
Menyengir sambil mengedip -ngedipkan matanya. Membuat Guntur merinding.
"Ah tidak-tidak. Aku tidak mau". Ujar Guntur.
__ADS_1
"Sekali-sekali bang. Biar aku mainkan. Emes aku bang". Ujar Gita.
merambatkan tangannya di paha Guntur yang tertutup handuk. Dan masih duduk di atas kloset.
"Ah. Jangan sayang. Aku tidak sangub. Ampun!". Ujar Guntur geli.
"Tapi aku mau bang". Desah Gita.
"Ihhh..". Guntur merinding.
"Cepat kamu pakaikan dalaman abang. lalu bantu abang berwudhu. Mau sholat Subuh.
Sebentar lagi azan". Ujar Guntur.
Berusaha mendorong tangan istrinya yang nakal.
"Aku...".
"Sayang.. Jangan" ucap Guntur geli.
Saat telapak tangan Gita sedikit lagi menyentuh....
"Ha.. Ha... Ha...".
Tawa Gita pecah. meligat suaminya merinding.
"Iya kali bang, aku mau mem bangunkannya. Kasihan dia nanti, tidak tersalurkan maunya itu.
juga pasti ada yang pusing". Ujar Gita tersenyum.
Menarik dalam suaminya, yang tadi sudah dia pasangkan ke kedua kaki.
"Hfff....
Kamu usil sayang. Geli...". Ujar Guntur.
"Abang juga sih yang mancing. Aku minta jangan pasang biar abang tidak susah ke kamar mandi. Eh malah berfikir mesum". Jawab Gita.
Menyuruh suaminya berdiri. Dan memasang dalaman dan celana longgar.
"Maaf sayang. Habis aku tidak biasa tidak pakai dalaman". Ujar Guntur.
"Masa sih bang?. Biasa juga kalau tidur di buka. Malah ....". Gita tidak melanjutkan ucapan nya.
"Itu beda". Jawab Guntur.
"Ayo. Abang mau wudhu. Gosok gigi dulu". ujar Gita.
Menyuruh Guntur duduk lagi, untuk mengosok Gigi.
Dan bersiap untuk sholat subuh. Sementara Gita mandi dulu sebelum sholat. Karena merasa gerah.
"Jangan banyak gerak dulu. Makan di kamar saja". Ujar Mama Guntur.
Guntur yang sudah duduk di kursi roda, untuk keluar kamar akan sarapan bersama.
"Tidak apa-apa ma. Tulangnya hanya patah, dan sudah di semen begini tidak apa di bawa bergerak.
Lagian kan pakai kursi roda, tidak berjalan". Jawab Guntur.
Mereka berempat menikmati sarapan pagi. Mama Guntur dan ibu Gita menyiapkan sarapannya.
"Iya tidak apa, tapi kan istrimu capek membantu kamu dan mendorong kursi roda.
__ADS_1
Ingat. Istri kamu itu lagi hamil, dan butuh banyak istirahat". Jawab mama Guntur.
"Makanya aku tidak ingin tidur dan bermanja ma. Tidak mau di rawat di rumah sakit juga.
Aku usahakan untuk beraktifitas di rumah agar aku juga bisa menjaga istriku". Jawab Guntur.
"Terserah kamu saja. Kamu nyaman dan yang penting tidak merepotkan istri". Jawab mama Guntur.
"Pasti ma. Aku hanya butuh istirahat beberapa minggu saja di rumah. Biar suasana tenang dulu". Jawab Guntur.
Gita tidak ikut berbicara. Dia membantu menyiapkan sarapan untuk suaminya. mendengar saja perdebatan suami dan mertuanya.
"Baiknya begitu. Gitapun bisa bekerja dari rumah saja dan sesekali pergi ke kantor". Tambah mama Guntur.
"Tapi kata ayah Gita boleh libur kok. Karena sedang hamil cukup mengerjakan pekerjaan dari rumah saja".
Dan juga, suasana pasti sedang panas. Mereka pasti saling serang dan saling menyalahkan.
Aku tidak mau mereka akan mencelakai Gita. Seperti ancaman Indri". Jawab Guntur.
"Indri mengancam?". Tanya Mama Guntur.
Maka Guntur menceritakan semua yanh dia dengar dari istrinya semalam. Dan juga info dari teman yang selana ini menjadi bodyguard Gita.
Bahkan papanya juga mendapat info dari mereka.
"Makanya papa dan ayah mau membuat drama. Seolah-olah aku sedang kritis.
Hingga mereka bertengkar dan saling serang.
Maka dari itu ayah yang minta kalau Gita untuk beberapa minggu kedepan tidak usah bekerja dulu. Cukup dari rumah". Jelas Guntur.
"Indri. Dasar wanita tidak tahu malu. Sudah mencemarkan nama suami dan keluarga kita. Sekarang malah ingin mencelakai kalian.
Apalagi Gita sedang hamil. Sungguh tidak akan ada maaf untuknya, walau dia bersujud dan tobat". ujar mama mertua kesal.
"Ponselku banyak panggilan tidak terjawab bang. Mungkin mereka mau meneror lagi". Ujar Gita.
Tadi dia melihat ponselnya setelai selesai sholat subuh.
"Biarkan saja sayang. Jangan tanggapi". Jawab Guntur.
"Papa dan ayah tidak ada kabar ya ma. Kok tidak memberi tahu kita apa yang terjadi di rumah sakit". Ujar Guntur.
"Tidak ada. Mungkin belum ada kejadian yang meresahkan dari mereka". Jawab mama Guntur.
Gita dan ibunya hanya mendengar saja. Gita tidak tahu mau bertanya apa. tidak tahu juga yang di rancang papa mertuanya dan juga ayah.
Saat mereka sedang makan, tiba-tiba ponsel mama Guntur berbunyi.
"Dari papa". Ujar mama Guntur.
Dan mama Guntur berbicara sebentar dengan suaminya.
"Ternyata kejadian subuh tadi di luar skenario papa dan ayah.
Ada seseorang yang meninggal di dalam ruang intensif.
Dan mereka mengira itu kamu
Indri mendatangi rumah tadi pagi. Karena rumah sepi, dia bertanya pada buk rt. bu rt bilang kalau dia belum mendapat kabar dari kita" jelas mama Guntur.
.
__ADS_1
.
.