
"Tasku hilang!!!!". Teriak Hani dari lantai atas.
Mengaget kan kami yang sedang berbincang. padahal dia baru saja masik kekamarnya.
Kami saling pandang, dan saling bertanya.
"Hilang?!".
"Kok bisa?!"
"Hah!!!".
Semua masih tetap duduk di meja makan. tidak ada yang meninggalkan meja.
"Kenapa bisa hilang dirumah?!. Selama dua tahun aku tinggal disini tidak pernah ada yang kehilangan!!?". ucap silvia
"Betul itu. aku juga tidak pernah mendengar ada yang kehilangan!!. aneh!". tambah mitha.
"Betul!. ibu saja semenjak dulu juga tidak ada yang hilang. bahkan juga saat menerima anak kos yang sudah lebih tujuh tahun, tidak ada yang pernah kehilangan!". kaget bu kos.
"Coba kalian lihat sana. mana tahu salah taroh atau lupa membawa tasnya pulang!". perintah bapak kos.
"Kamu sil, aku malas!". jawab mitha.
"Ayo berdua oliv, aku juga malas sendiri!". ajak Silvia pada Oliv.
"Pergilah bersama. kalian di rumah ini bersaudara!". ucap ibu kos.
Maka kamipun menuju kamar Hani yang berada di lantai atas. berada di sampibg kiri.
Kami memasuki kamarnya. aku dan mitha berdiri saja di dekat pintu, dan ada ruang santai di depan kamarnya.
Ada empat kamar saling ber hadapan. Dan di bagian depan ruang yang langsung nampak ruang tamu di lantai satu. karena lantainya terbuka dan dipagari.
di seberang juga terlihat ada kamar. ada dua kamar sepertinya.
"Kamar kamu mana Mitha!". tanyaku.
"Kamarku yang sebelah kanan, di sebelahnya kamar silvia. disamping kamar hani kamar oliv!". jelas mitha.
"Yang di sana?!". tanyaku.
"Itu kamar anak laki-laki ibu kos. da tinggal bersama istrinya.
Mereka sama-sama dokter, suaminya di rsud kota sebelah. dan istrinya di rumah sakit medika!.
Mereka baru menikah sekitar tiga bulan yang lalu". jelas mitha.
"Hm..!". Aku mengangguk.
Terdengar perdebatan di dalam kamar Hani.
"Hani, selama ini belum ada kasus kehilangan di sini!". ucap oliv.
"Iya.
Mungkin kamu salah taroh atau lupa bawa tas pulang!". tambah Silvia.
"Tadi waktu aku pulang kerja ada. ini buktinya. ponselku ada!". jawabnya.
"Tidak mungkin bisa hilang begitu saja. aku sudah lama tinggal disini. tidak pernah ada yang hilang!". ucap silvia.
"Memang selama ini tidak perbah kehilangan. dan berarti pendatang baru yang maling. pahamkan??". sewot Hani.
"Hah... maksudnya?!". tanya oliv.
__ADS_1
"Pasti dia yang mencuri. dia kan memang pencuri. satu bukti yang dia curi itu bang guntur. dan sekarang pasti tasku yang dia curi untuk memenuhi kebutuhannya!". tuduh Hani.
Menunjukku yang masih berdiri di depan pintu kamarnya bersama mitha.
"Jangan asal tuduh kamu!!". ucapku emosi.
Enak saja dia menuduhku. buat apa aku mengambil tas yang mungkin saja hanya berharga ratusan ribu. sementara tasku saja berharga jutaan, bahkan ada yang lima puluh juta.
Gila.
"Buktinya. baru dua minggu tinggal disini sudah ada kehilangan di rumah ini!". serangnya.
"Hani!. jaga mulut kamu!. jangan asal tuduh.
Kalau tidak ada bukti fitnah kamu jadinya!". sela mitha.
"Kita harus buktikan, kalau dia itu oencuri. coba kita lihat bersama kekamarnya!". ucap Hani menantang.
"Memangnya tas kamu yang mana yang hilang?!". tanya oliv.
"Tas berwarna merah. tas itu aku beli waktu pameran!. barang limited edition tas ku itu.
Tidak ada di jual di pasaran". ujarnya.
Tas merah?!. aku ingat. dalam kantong kresek merah yang aku temukan di kamarku tadi kan tas merah!.
Jangan-jangan....
"Berapa sih harga tas kamu?!. seperti sangat spesial?!". tanya silvia.
"Bukan tentang harga Sil. ini tentang pencuri. pencuri mana tahu harga tasku. Mingkin dia tidak mampu membeli tas, hingga mencuri tasku!.
Punya mobil pasti juga hasil mencuri atau jual diri. mana sanggub dia membeli mobil mahal seoerti itu!". ucapnya pedas.
Sudah banyak kata-kata kotormu untuk menghinaku!.
Silahkan kamu periksa kamarku. jika tas kamu ada di kamarku, akan aku ganti sepuluh kali lipat harga tasmu itu. itu jaminanku!". ucapku juga menantangnya.
"Halah dasar maling. cari muka kamu!.
Tasku berharga tujuh ratus ribu. jika tasku ada di kamar mu. kamu harus ganti tujuh juta!. Apa kamu sanggub??.
Kalian saksinya!
Ayo!". Ajaknya keluar kamarku.
Menyenggol kasar bahuku.
Semua teman kosan hanya memandangku tidak percaya. dan kami mengiringi turun kebawah.
"Sudah bertemu?!". tanya ibu kos yang masih duduk di meja makan. sementara bapak kos sudah tidak ada.
"Pasti dia yang mencuri bu!. selama ini kosan aman, tidak ada pencuri.
Dan ini kali pertamanya kehilangan di rumah ini. itu karena dia baru masuk di sini. dan ternyata dia pencuri!". ucapnya tegas.
Ibu kos hanya memandangku. akupun hanya mengangkat bahu. cuek.
Semua berjalan ke kamarku. ibu kos juga ikut mengiringi.
"Lihat. kamarnya di kunci.
Pasti banyak barang curian yang di sembunyikan di dalam!". ucapnya.
saat mencoba membuka pintu kamarku.
__ADS_1
"Iyalah di kunci. kan kamar gita di luar rumah. Aku saja kalau pergi kamarku di kunci kok!". jawab Silvia.
Semua mengangguk.
"Cepat buka!". perintahnya.
Akupun membuka kunci pintunya.
Dan.
semua memasuki kamarku. kamarku memang agak besar dari kamar Hani tadi. mungkin juga kamar yang lainnya.
"Wah besar juga kamar yang disini!". ucap oliv.
"Iya. kan sewanya juga lebih besar dari yang di atas!". ucap Mitha.
Semua masuk kekamarku. kulihat Hani menyingkap kain tile tempat aku menemukan kantong merah dan kantong hitam.
'Pasti kamu ingin menjebakku!'. ucapku dalam hati, sambil tersenyum miring.
"Silahkan periksa!". tantangku.
Karena aku yakin, hani ternyata ingin main-main.
Dia terlihat agak gugup.
semua teman kosan hanya berdiri, juga ibu kos.
"Silahkan duduk bu, semua!". ucapku menunjuk karpet bulu tebal yang ada di tengah kamarku.
Saat semua duduk, hani hanya berdiri binggung di tepi jendela tempat barang temuanku tadi.
"Berapa harga tasmu Hani?!. tujuh ratus ribu?!".tanyaku.
Dia bergeming.
Lalu aku membuka lemari pakaian ku. lemari tiga pintu. yang sudah ada di kamar ini.
Kamar ini sudah di sediakan kanar set. aku hanya mambawa bad cover dan karpet. juga gorden aku yang bawa.
Aku mengeluarkan beberapa koleksi tasku dari dalam lemari. ada tujuh buah tas.
"Coba pilih. mana tas kamu!!". ucapku meletakan semua di atas karpet depan semua duduk.
Sebagian tas masih berada di dalam kotak dan juga tas kain. karena setiap selesai memakai, aku mengemas rapi kembali tasku. biar awet.
"Hah... semua tas bermerek!". kaget mereka.
Memang tasnya belum kelihatan bentuk dan warna tasnya.
"Buka saja!. mana tahu ada tas dia. silahkan ambil!". ucapku santai.
kulihat hani sedikit pucat dan bibirnya bergetar. Saat semua kokeksi tasku di bongkar dan di susun di atas karpet.
"Ini semua mah berhaga belasan hingga puluhan jeti. mana sanggub Hani beli!!". gumam Silvia.
Semua mencek tas dan logo. hingga kartu asuransi dan tanda pengenal di setiap tas ku.
"Kamu anak sultan Gita?!". tanya mitha.
"Bukan. bapakku bernama Burhan!". jawabku.
.
.
__ADS_1