Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 171


__ADS_3

Sudah tiga hari semenjak pertemuan Indri dengan pasangan Guntur dan Gita.


Dia tiap hari di periksa dan ditanyai. Kadang pagi, kadang siang. Sekalipun dia tidak pernah bertemu dengan teman sesama dia kurir pada gembong besar itu.


Kata polisi yang memeriksa, ada sekitar tiga atau lebih kurir komplotan itu tertangkap.


Indri masih memikirkan siapa yang bisa membantunya keluar dari sini. siapa kenalannya yang mungkin bisa menjamin keamanannya.


Tadi pagi saat di periksa, seorang polisi mengatakan kalau orang tuanya datang bertemu.


Dan polisi memberikan jadwal sore nanti. karena harus izin dari atasan.


Tidak semua orang bisa menemuinya. Harus ada jaminan atau izin atasan untuk melihat dan menemui tahanan.


Indri merupakan tahanan yang harus di jaga ketat. Agar tidak ada rencana kabur atau transaksi terselubung.


Tapi saat dia di jemput polisi ke selnya untuk menemui mamanya yang datang.


Dia teringat Guntur yang waktu itu yang memakai tongkat penyangga karena kecelakaan. Kecelakaan yang di rencanajan oleh Dika.


Maka dia akan minta bantuan Dika. mengancam nya jika tidak mau bantu.


"Ma. Mama coba hubungi Dika. Dia pimpinan perusahaan z di kota sebelah. Dia harus mau bantu aku". Ujar Indri.


Sore itu mama Indri datang dengan seorang pengacara yang dibawa mamanya.


Tadi dia sudah mendapat ide. Untuk minta bantuan pada Dika. Karena dia akan menyeret Dika jika dia tidak mau menolong.


Pasti Dika takut, jika dia tahu kalau Guntur tidak meninggal. Dan Gita akan semakin marah dan benci padanya.


Ditambah Gita yang sedang hamil. Pasti Dika bertambah kecewa.

__ADS_1


"Kamu berikan nomor ponsel dan nama lengkap orang yang akan kami temui. Kalau bisa kamu telfon dia terlebih dahulu agar saat kami bertemu langsung meminta dia untuk bantu kamu". Ujar pengacara itu.


"Ponselku entah dimana. Entah tinggal diapartemen atau disita polisi, aku kurang tahu.


Nomor ponsel Dika aku kurang hafal". Ujar Indri.


Dia menyebutkan alamat perusahaan Dika dan posisi Dika yang dia ketahui.


"Oh ya. Coba pinjam ponsel mama. Waktu itu aku pernah menelfon Dika pakai ponsel mama beberapa bulan yang lalu". Ujar Indri teringat sesuatu.


Dia mencari pangilan yang pernah dia lakukan. Lama dia mencari. Karena panggilannya sudah lama, atau terlalu kebawah. katena di pobsel mamanya tidak menyimpan nomor Dika.


Indri cukup senang, setelah menemukan satu panggilan keluar di pobsel mamanya, yang dia ingat nomor belakangnya nomor Dika.


Dia langsung menekan tombol panggil.


Beberapa kali mencoba, tidak diangkat oleh Dika. Mungkin dia sibuk atau tidak mau mengangkatnya. Karena nomor baru.


'Aku Indri. Angkat telfon aku. Kalau kamu tidak mau terseret dalam kasus perencanaan pembunuhan.


Suami mantan kamu tidak meninggal. Dia masih hidup'.


Itu bunyi pesan yang Indri kirim pada Dika. Agar Dika ketar ketir.


Dika yang sedang berbicara dengan asistennya terjejut saat nomor yang tidak diketahui menelfonnya berulang-ulang.


Masih belum lepas dari rasa terkejutnya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang menelfon tadi.


"Indri?!". Ujar Dika kaget.


Karena beberapa hari yang lalu asistennya mengabarkan kalau Indri tertangkap polisi. Tapi kasus kurir narkoba.

__ADS_1


"Dia mau mengancam lagi". Kesal Dika.


Karena dia tidak mau tersetet kasus Indri. Bisa dibilang pelindung kurir narkoba dia nanti.


"Pasti Indri mau menipu bos. Mengatakan kalau polisi itu tidak meninggal. Dari mana dia tahu itu?.


Apa selama ini dia tahu itu". Ujar asisten Dika.


Dika mengangguk. Setuju kalau indri ingin memanfaatkan dia untuk berlindung. Juga untuk menjamin dia karena kasusnya.


Tidak berapa lama ponsel Dika berdering lagi. dari nomor yang tadi. Nomor yang mengaku Indri.


"Angkat dulu. Ikuti saja semua ucapannya biar dia senang. Mungkin dia stres di dalam tahanan.


Dan mungkin jawaban iya dari kamu akan membuat dia sedikit tenang di dalam sel". Ujar asisten Dika.


Maka Dika mengikuti semua yang Indri ucapkan. Agar tidak di ganggu terus.


"Nanti akan ada pengacaraku menemuimu. dia akan.....".


"Maaf Indri. Aku sedang di luar pulau sekarang, mengurus perusahaan cabang papa beberapa bulan ini.


Mungkin aku akan bantu nanti saat aku kembali". Bujuk Dika.


Agar Indri tenang dengan angin segar yang Dika hembuskan. Dan tidak ingin terseret kasus Indri.


Dan dia tidak di teror oleh Indri.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2