
Guntur yang sore itu selesai berdinas, segera menuju apartemen Gita.
Tapi dia tidak bisa masuk, karena belum punya akses. Tidak semua orang bisa masuk.
Apartemen Gita sangat menjaga privasi penghuninya. Yang tidak punya kartu tidak bisa masuk. Dan hanya pemilik Apartemen yang bisa punya kartu akses masuknya.
Maklum, apartemen mewah. Dan eksklusif.
"Sayang, aku sudah di depan pos satpam nih, kamu bisa jemput aku". Ucap Guntur menelfon istrinya.
"Oh iya. Tadi aku sudah tinggalkan kartu untuk abang pada satpam yang bernama puji.
Abang bilang saja yang aku titup buat abang. Tadi dia sudah paham kok". Ujar Gita
"Tunggu sebentar sayang aku ke pos satpam". Ujar Guntur.
"Maaf mas. Yang nama mas puji yang mana ya?". Tanya Guntur.
"Oh sebentar pak aku panggil". Ucap yang berdiri di depan pos jaga.
Tidak lama datang seorang satpam yang mungkin seumuran dengan Guntur.
"Ada yang bisa saya bantu pak?". Tanya satpam ber nametag Puji.
"Ini mas, Istri saya bilang dia menitipkan kartu akses kepada mas". Jawab Guntur.
"Oh iya. Pak Guntur ya. Tadi mbak Gita menitipkan pada saya!". Ucapnya sambil menunjuk nametag pada seragam Guntur.
Lalu mengambil sesuatu di saku bajunya. Dan memberikan sebuah amplop yang masih tersegel pada Guntur.
Walau seragam mereka sama. Tapi beda instansi. Terlihat dari bordiran nama dan instansi di dada kiri.
"Ini pak yang dititip mbak gita tadi. Motor bapak bisa langsung bapak bawa ke lantai dimana unit apartemen bapak". Ujar satpam Puji menerangkan.
"Baik pak. Terimakasih". Ucap Guntur.
Lalu guntur kembali menelfon Gita, berbicara di ponsel kepada istrinya.
"Sayang, sudah aku ambil kartu nya. dilantai berapa unit aoartemen kamu?". tanya Guntur.
"Lantai tujuh belas bang. Nomor empat.
__ADS_1
Abang langsung saja bawa motornya ke lantai tujuh belas. parkir saja nanti di parkiran itu". Jawab Gita.
"Baik". Ucap Guntur.
Dia membuka amplop itu. menempelkan pada akses portal. Baru portal bisa terbuka.
Begitu juga menuju pintu masuk motor, harus menempelkan baru terbuka portal. Guntur membawa motornya menaiki jalan menuju lantai tujuh belas. Dan parkir di parkiran khusus motor.
Parkirannya tidak begitu luas. Mungkin hanya untuk sepuluh mobil. Karena tiap lantai ada parkiran khusus untuk tiap penghuni apartemen.
Setelah memarkirkan motornya, yang terdapat di sisi menghadap luar. Menampakan pemandangan sore kota besar.
Sekali lagi menempelkan kartu akses masuk, baru pintu kaca terbuka.
Saat masuk di sambut loby kecil apartemen yang asri. Karena ada dua pot bunga besar yang tersusun. Juga ada pagar yang berada di tengah ruangan. tersusun bunga.
Juga ada lukisan bunga di dinding.
Ternyata hanya ada enam unit di lantai ini. Terlihat dari jumlah pintu yang ada.
Tiga dibagian kiri, dan tiga di bagian kanan. Di tengahnya ada pagar ternyata bisa melihat kebawah. Hingga lantai dasar.
Dan tiap lantai berbeda jumlah unitnya. Mungkin ada yang enam seperti di apartemen Gita. Juga ada delapan, sepuluh. Atau..
Tidak nampak, karena saking tingginya dia berdiri.
Guntur melihat keatas. terlihat langit biru yang tembus dari atap kaca gedung apartemen. Dan hanya ada satu lantai lagi di bagian atas.
Guntur menuju pintu nomor empat, nomor yang di bilang istrinya tadi. Ada di paling ujung, sisi kanan.
Setelah menempelkan lagi kartu akses masuk. Guntur memasuki unit apartemen.
Mewah.
Itu kata pertama yang ada dalam benak Guntur. Sebagai seorang polisi, tentu ini sangat jauh dari fikirannya untuk memiliki.
Tapi, bagi istrinya yang seorang anak pengusaha kaya dan punya beberapa cabang perusahaan tentu tidak akan sulit untuk mendapatkannya.
"Assalamualaikum". Ujar Guntur. Saat memasuki ruangan apartemen.
"Waalaikummussalam". Jawab Gita.
__ADS_1
Yang ternyata gita sedang membersihkan ruangan tengah apartemen.
"Sibuk sayang?!". Tanya Guntur.
Dua mendekati istrinya, dan Gita menyalami takzim suaminya.
"Tidak juga. Kan memang sudah bersih". Jawab Gita.
Dia mengajak suaminya duduk di sofa ruang tamu apartemen. Yang sudah ada eh hangat dan cemilan.
"Minum dulu bang". Ujar gita memberikan sati cangkir teh.
"Terima kasih sayang. Senang rasanya pulang kerja disambut istri tercinta". ujar guntur menyesal teh hangat buatan istrinya.
"Kapan kamu membersihkan?. Perasaan kamu baru tadi kesini". Tanya guntur.
Setelah meletakan cangkir teh yang diminumnya habis tanpa sisa.
"Dua hari yang lalu aku minta pembantu bang Zai untuk bantu membersihkan". Jawab Gita.
"Kok dia bisa masuk kesini?. Kan sulit untuk masuk gedung ini?". Tanya Guntur.
"Setiap awal pekan pembantu bang zai itu membersihkan apartemen milik temannya yang ada di lantai lima.
Makanya aku juga minta tolong bersih-bersih. Biar kita siap menempatinya". Jelas Gita.
Gubtur mengangguk paham.
"Tidak keberatan kan bang, kita tinggal disini?". ujar Gita.
"Tidak. Apartemen ini aman, dan juga tidak terlalu jauh dari polres . Juga tidak jauh dari tempat kamu akan bekerja.
Tapi sesekali kita menginap di asrama. Kamu mau kan". ujar Guntur.
"Baik bang". Jawab Gita.
.
.
.
__ADS_1