Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 154


__ADS_3

"Apa?. Polisi itu meninggal?". jawab Dika.


Dika yang baru tertidur sebentar di kejutkan dengan dering ponsel yang di letakan di atas nakas samping tempat tidurnya.


"Itu yang kami dengar dari Indri bos. Tadi dia menemui dokter yang baru saja keluar dari ruang intensif, mengatakan kalau pasien yang kecelakaan tadi sore meninggal.


Sekarang kami sedang mengikuti dia menuju ruang tempat keluarga pasien istirahat. Kemungkinan bu Gita disana". Jawab anak buah Dika.


"Kamu awasi gerak-gerik anak buah Indri itu. Jangan sampai dia menculik atau mencelakai Gita.


Dan kabari aku terus". perintah Dika.


"Baik bos".


Dika yang tadi sudah mulai tenang, karena Gita merespon pesannya yang menyuruh untuk hati-hati.


Sekarang menjadi cemas lagi. Bahkan lebih cemas.


Dia senang mendengar kabar kalau polisi itu meninggal. Tapi dia menjadi was-was, jika Indri yang sudah gelap mata tambah ingin mencelakai Gita.


Apalagi mendengar kalau Indri menyewa seseorang yang ahli untuk menculik dan mencelakai Gita.


Dia bangun, bersiap untuk kembali kerumah sakit. Dia harus ikut turun tangan menjaga Gita.


"Kenapa Gita tidak mengangkat telfonku?. Aku ingin mengetahui keadaanya!". Cemas Dika.


Setelah berganti pakaian, dia menelfon Gita. Untuk mengetahui keadaan dan dimana Gita sekarang.

__ADS_1


Dika sangat tidak sabar untuk mengetahuinya. Keselamatan Gita sedang terancam.


Ingin segera pergi ke sana.


"Bos. Ternyata tidak ada Bu Gita di sini bos. Mungkin tadi saat polisi itu meninggal, dia langsung di bawa pergi oleh polisi yang berjaga.


Atau di jemput keluarganya". Kembali anak buah Dika menelfon Dika.


"Kok bisa?. Apa dia tidak di culik oleh anak buah Indri?". Cemas Dika.


"Tidak bos. bu Indri saja sedang marah-marah pada anak buahnya yang lengah.


Tadi mereka mengikuti bu Indri ke ruang istirahat untuk mengetahui keberadaan bu Gita.


Dan maaf, kami yang ingin melindungi bu Gita ikut lengah. Hingga kami tidak menemukan keberadaannya.


Bahkan, jenazah polisi itu di bawa keluar dari ruang intensifpun telat kami ikuti.


Kamu mengejarnya melalui tangga darurat. tapi kami telat sampai di pintu igd. Karena kami sampai di sana, ambulan akan berangkat". Jelas Anak buah Dika.


Dika meremas rambutnya. Kesal.


"Kalian Ikuti si Indri itu. Pasti dia tahu dimana rumah mantan mertuanya. Dan akan pergi kesana juga.


Tentu Gita juga ada di sana". Ujar Dika


"Baik bos". Jawab Anak buah Dika.

__ADS_1


Sementara itu, Indri sedang marah pada anak buahnya yang juga kehilangan jejak.


"Kenapa kalian tidak berjaga di depan. Membiarkan dia begitu saja". Oceh indri.


Dia sedang mengumpulkan anak buahnya di parkiran. Dekat mobilnya parkir.


Padahal masih dini hari, masih pukul empat pagi.


"Kami dibawah tidak melihat wanita itu bu. Kami hanya melihat jenazah di naikan ke ambulan. Dan hanya dua orang perawat yang naik.


"Terus, kemana wanita itu?. Tidak mungkin hilang begitu saja. Apa tidak ada yang menjaga di pintu lain?". Tanya Indri.


"Tidak ada wanita itu turun bos. Bahkan saya yang berjaga di tangga darurat tidak melihatnya". Ujar anak buah Indri.


"Atau saat polisi itu meninggal, dia di panggil ke ruang intensif, dan dia terlebih dahulu turun.


Mungkin juga dia lebih dahulu pulang dengan mobil keluarganya, tidak menaiki ambulan". Tebak yang lain.


Indri menganguk paham, bisa jadi yang di ucapkan anak buahnya ada benarnya juga.


"Ok. Aku akan rumah bang Guntur sekarang. pasti jenazahnya di bawa kerumah orang tuanya". Ujar Indri.


"Aku ingin


Dia memasuki mobilnya, untuk segera pergi ke rumah mantan mertuanya.


Dan.

__ADS_1


Anak buah dika yang menguping juga akan mengikuti kemana Indri pergi. Ingin berjaga-jaga, jika Gita butuh bantuan


.


__ADS_2