
"Iya bos. Banyak yang bernama Gita. Anggita. Bukan bu Gita saja.
Dan mudah-mudahan Anggita bukan bu Gita yang kita cari". Tambah si asisten.
Dika yang semula juga berfikir begitu, mulai sedikit waa-was. Dia mulai melihat jejeran papan bungga yang menampilkan nama Anggita dan Guntur.
Juga melihat nama pengirin bunga papan. Nama-nama dari perusahaan terkenal, intansi swasta dan pemerintah.Juga ada atas nama pribadi.
"Coba kamu cari tahu. Keluarga dari perusahaan mana tuan rumah pengantin.
Aku rasa ini bukan pesta orang sembarangan.
Perusahaan kita saja tidak di undang. Padahal perusahaan kita cukup ternama di kalangan bisnis". Ujar Dika.
"Mungkin saja perusahaan kita juga di undang, dan orang tua bos yang datang.
Atau bisa juga orang tua bos di undang secara pribadi". Ujar si asisten.
"Papa kan sedang keluar kota. Apa sekretaris papa tidak ada bilang kalau ada undangan atasxbama papa atau perusahaan kita?". tanya Dika.
"Tidak bos.
Atau pengusahanya yang mengadakan acara dari kota sebelah, atau kota lain.
Jadi kita tidak kenal.
Bunga papan itu banyak nama perusahaan dan instansi juga ada yang dari luar kota bos. beberapa kota sebelah juga". Ujar si asisten menduga.
"iya. Tapi kamu cari tahu saja". perintah Dika.
"Penasaran bos?. Aku juga". Ujar si asisten.
Mereka larut dalam fikiran masing - masing, menyusuri padatnya lalu lintas sore yang macet.
Si asisten dengan sigap mengirim pesan pada anak buahnya, untuk mencari tahu keluarga yang punya pesta di taman green house Mermaid, yang baru saja mereka lewati.
Tidak sampai sepuluh menit, ponsel si asisten berdering. Tanda panggilan dari anak buahnya yang dia suruh tadi, mencari tahu.
"Iya. Apa kamu sudah ada informasi?". Tanya si asisten.
"Pestanya tertutup bos. Hanya untuk keluarga dan kerabat saja.
__ADS_1
Tamu yang hadirpun harus yang ada undangannya. Jadi saya tidak bisa masuk bos". Ujar penelfon.
"Yang perlu kamu tahu itu siapa pengantinnya. Tidak perlu masuk kesana.
Cukup bertanya ...".
"Tapi aku dapat foto pengantinnya bos.
Aku harap bos besar jangan sampai mengamuk sama bos. Karena..".
"Kirim fotonya segera". Potong si asisten.
"Baik bos". Ujarnya.
Mengirim foto, tadi sempat dia minta pada seorang ibu yang baru saja keluar dari tempat resepsi.
Dengan alasan apa benar ini pesta temannya. Dan ibu itu mengirim fotonya yang sedang berfoto dengan pengantin di pelaminan.
Ponsel si asisten berdenting tiga kali. Tanda pesan masuk tiga kali.
Si asisten membiarkan sebentar, karena dia baru saja lepas dari kemacetan. Dan mengemudikan mobil dengan tenang. Hingga lampu merah depan mobil kembali berhenti.
Si asisten menarik nafas pelan sambil melihat bosnya yang sedang termenung melihat keluar mobil yang sedang berdiri di lampu merah.
'Bagaimana cara menyampaikan pada si bos. Pusing aku.
Ternyata memang bu gita yang menikah.
Walau wajahnya sedikit berbeda. Mungkin karena riasan. Tapi aku yakin ini bu Gita'. Gumam si asisten dalam hati.
Wajah Gita sedikit berbeda dari biasa yang terlihat sehari-hari. Karena efek riasan pengantin.
Hingga mobil yang di kemudi kan asisten Dika memasuki parkirah sebuah hotel. Karena Dika ada janji bertemu seseorang di sana.
"Hhmmm bos. Aku mau bicara sebentar. Tapi jangan kaget ya". Ujar si asisten.
"Apa. Aku mau buru-buru. sudah ada yang menungguku dari tadi". Ujar Dika.
"Hmm. Ini.
Aku baru dapat foto...".
__ADS_1
"foto?. Foto apa?". Potong Dika.
Si asisten memberikan ponselnya pada Dika. Menampakan foto sepasang pengantin yang sedang tersenyum berfoto dengan ibu-ibu yang diminta anak buah si asisten Dika tadi.
"Ini foto siapa?!". Tanya Dika.
Melihat foto yang ada di layar ponsel asistennya. Dika melihat dengan teliti foto tersebut.
"Menurut penglihatanku dan anak buahku yang aku suruh tadi. Itu foto bu Gita bos.
Ternyata pesta di green house mermaid tadi memang acara pernikahan bu Gita". Ujar si asisten.
"Tidak mungkin ini Gita. Coba lihat wajahnya. Berbeda dari yang aku kenal". Ujar Dika memperlihatkan foto di ponsel.
"Ini sangat berbeda. Wajah Gita tirus. Dan ini sedikit berisi pipinya.
Juga tubuh gita tidak pendek seperti ini. Dia itu bahkan hampir sama tinggi denganku.
Ini hanya sebahu pengantin pria". Ujar Dika.
Menolak ujaran asistennya.
"Kalau melihat sekilas sih kurang mirip bos. Tapi jika di perhatikan dengan teliti, senyumnya sangat mirip bu Gita, apalagi tadi namanya juga Anggita". Ujar si asisten.
"Aku tidak percaya sebelum melihat langsung. Lagi pula tidak mungkin Gita pesta disini. Kan keluarganya bukan dari kota ini.
Tadi juga bunga papannya sangat banyak. Tidak mungkin juga keluarganya sepenting itu". Tolak Dika dengan tebakan asistennya.
"Bagaimana jika mertua dan suaminya orang terpandang. Dan itu pesta dari pihak prianya". Tebak si asisten lagi.
Dika berfikir sejenak. Saat mendengar tebakan dari asistennya.
Si asisten melihat bosnya yang mulai sedikit ragu. Merasa ucapan nya mulai di pertimbanggan.
"Kita kesana sekarang!". Ucap Dika tiba-tiba..
.
.
.
__ADS_1