Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 168


__ADS_3

"Kamu sudah selesai sayang?. Kita berangkat bersamaan saja". Ujar Guntur melihat istrinya merapikan hijabnya.


"Iya bang. Aku juga sudah selesai kok". Ujar Gita memasang jarum pentul terakhir di bagian puncak kepalanya.


Mereka sedang bersiap untuk berangkat bekerja. Guntur ke polres, sementara Gita ke perusahan cabang milik orang tuanya, yang dia pimpin.


Mereka berbimbingan tangan menuju parkiran yang ada dilantai apartemen mereka. Yang sudah di jemput oleh asisten Khaira yang ditugaskan antar jemput khaira.


Terlebih dahulu mereka mengantar Guntur ke polres, baru pergi ke perusahaan Gita.


Sesampai di polres, Guntur turun dari mobil dan Gita ikut turun menyemangati suaminya untuk bekerja.


Dengan masih memakai tongkat sebelah, guntur turun dari mobil. Dan Gita membantu memegang tongkat saat suaminya turun dari mobil.


Setelah berpelukan sesaat dan Guntur mengelus mesra perut istrinya yang sedikit buncit.


Setelah mobil yang membawa istrinya pergi dari halaman polres, Guntur berjalan pelan kedalam kantornya yang berada di sebelah kiri gedung utama polres.


Dengan bantuan tongkat dia berjalan pelan. sedikit miris memang, melihat seorang ber pakaian polisi menggunakan tongkat pergi dinas di polres.


Tapi itu sudah pemandangan biasa dari rekan kerja sesama polisi. rekan kerja mereka itu baru saja kecelakaan dan oatah tulang.


Guntur berjalan menuju ruang cctv yang merupakan tempat dia bekerja sekarang. Karena belum bisa turun langsung kejalan raya sebagai polantas.


Tanpa Guntur ketahui, kedatangan dia tadi di perhatikan oleh seseorang yang berada di lorong pemisah banguan kantor.


Dia sedang berdiri di di depan sebuah pintu dengan pakaian tahanan dan tangan di borgol.


"Ternyata bang Guntur memang belum meninggal, hanya kakinya yang mungkin cedera.


Dan istrinya juga benar-benar hamil. Menyebalkan". Gerutu wanita yang melihat Guntur dan istrinya yang sangat mesra.


"Aku harus segera memberi tahu anak buahku, biar mereka menangkap dan melenyapkan wanita itu.


Kalau wanita sialan itu tidak ada, pasti rencanaku berjalan mulus. aku bisa membujuk bang Gintur untuk mengeluar kan aku dari sini. dan meringankan hukumanku". Guman Indri.

__ADS_1


Ya. Yang melihat Guntur dan Gita dihalaman polres adalah Indri.


Indri yang pagi ini di jemput petugas untuk di bawa keruang interogasi. Untuk di tanyai.


Indri sudah memakai pakaian tahanan sekarang.


Dia sedang di tinggal berdiri di sisi bangunan. Yang langsung terlihat kearah depan gerbang masuk polres. Hanya berbatas pagar terali tinggi.


Indri di tinggal sebentar oleh petugas penjemput, karena ada berkas yang tertinggal. Dia juga di tinggal tidak jauh dari meja piket yang ada penjaganya.


Dia sangat penanaran, bagaimana Guntur bekerja jadi polantas, kalau memakai tongkat sepeeti dia lihat tadi.


"Pak. Apa polisi yang memakai tongkat tadi bang Guntur?!". Tanya Indri mendekati meja piket.


"Benar!. Kenapa?. Kenal dengan pak Guntur". Tanya polisi yang berjaga itu.


Penjaga meja piket adalah polisi muda, mungkin polisi baru lulus dan baru berdinas. Terlihat dari wajah dan badannya yang masih belum terbentuk.


Indri yakin, kalau polisi baru itu tidak mengenal dia.


"Ayo jalan!".


Terdengar perintah dari polisi yang menjemputnya tadi, sambil mendorong bahu Indri.


Indri padahal mau mengatakan pada polisi yang berjaga tadi kalau dia mantan istri Guntur.


Agar dia bisa minta tolong oada polisi baru itu.


"Kenapa lama sekali jalannya?. Cepat. Waktu kamu tidak banyak!". Ujar polisi itu.


Indri memang berjalan pelan. Selain capek, dia tidak tidur tadi malam karena tidak enak tidur di sel yang hanya beralaskan tikar pkastik dan selimut sarung bau.


Juga memikirkan kemesraan yang dia lihat barusan.


Guntur dan Gita.

__ADS_1


Gita kesal, karena dia di bentak polisi itu, membuat dia terkejut.


"Pak, jangan bikin kaget dong. Bilang pelan saja!". Kesal Gita.


"Habis kamu jalannya seperti keong. Lama". Ucap polisi itu.


"Aku mengantuk pak, tidak tidur semalaman. selnya hanya beralaskan tikar plastik". Keluh Indri.


"Namanya juga sel. Ya begitu keadaannya. Kalau mau enak, jangan bikin masalah hukum. Agar tidak di penjara". Jawab polisi itu santai.


"Saya juga tidak mau di penjara kalian saja yang tidak punya pekerjaan menangkap orang sembarangan". Ujar Indri.


"Kalau di tangkap polisi pasti punya kasus. tidak mungkin polisi sembarangan tangkap saja.


Kamu kira kurir narkoba itu tidak kasus. Berat itu kasus kamu. Apalagi kamu beberapa kali lolis dari polisi. Pasti berat tuntutannya". Ujar polisi itu.


Memasukan Indri keruang interogasi yang masih kosong. lalu membuka borgolnya.


"Apa kamu bisa pangilkan bang Guntur untuk kesini. Aku mau bertemu dia". Ujar Indri saat polisi itu akan keluar ruang interogasi.


"Maaf. Itu diluar wewenang dia. Kasusmu tidak ada bisa dibantu oleh polisi. Baik polisi biasa ataupun kepala polisi. Tidak akan bisa.


Apalagi kamu mantan istri Guntur. yang sudah mencoreng nama baiknya. pasti dia tidak akan mau turun tangan.


Kasusmu itu berat. Bisa di hukum mati atau seumur hidup". Ujar polisi itu.


"Alu hanya ingin bertemu saja dengannya. Aku ...".


"Untuk bertemu dengannya, harus melalui kepala polisi bidang narkoba.


Tanya saja nanti". Ujar polisi itu memotong ucapan Indri.


Polisi ini usianya lebih tua dari Guntur. Senior. Tapi beda bagian. Guntur di bagian lalu lintas, dan polisi ini mungkin bagian narkoba.


.

__ADS_1


.


__ADS_2