Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 163


__ADS_3

"Aku minta pengacara handal untuk membelaku. Aku tidak mau di penjara". Ujar indri.


Dia sedang di tanyai oleh polisi dari pagi. Sudah hampir empat jam dia diinterogasi, mengenai keterlibatannya sebagai kurir seorang bandar narkoba.


"Kami akan sediakan saat akan di sidang nanti. Tapi kamu harus kerja sama dengan kami, agar kasusnya cepat selesai.


Kami akan buat bapnya". Jawab seorang polisi.


"Aku lelah, bolehkah aku istirahat dulu?. Besok saja lanjutkan". Pinta Indri.


Ketiga polisi yang sedang menanyai Indri saling pandang dan berbisik.


"Biar aku tanya kepala bagian dulu". Ujar salah satu polisi.


Menuju ruang bagian penanganan narkoba.


Sekitar lima menit, dia datang lagi. Dan berbisik.


"Baik. bawa dia dan tahan di sel khusus wanita, yang berada di bagian luar, belakang pos jaga samping". Ujar polisi yang mungkin senior.


Kedua polisi itu memasang borgol pada Indri. mengiring keluar ruang menuju sel khusus wanita.


Indri yang lemas dan mengantuk berjalan dengan sempoyongan. jarak bagunan tempat interogasi dengan sel wanita hanya berbatas jalan kecil pemisah antar gedung.


Beberapa polisi yang kebetulan berpapasan, melihat kearah Indri. Pasti ada yang kenal dengannya.


Bahkan ada yang langsung berucap.


"Ini mantan istri bang Guntur yang tertangkap selingkuh itu ya?". Ujar salah satu polisi.


"Iya. Yang tertangkap di grebak sedang kuda-kudaan di hotel oleh mertua". Jawab yang lain.


"Mungkin uangnya tidak cukup dengan hanya menyewakan lahan yang sepetak itu pada pria hidung belang. Hingga sekarang juga jadi kurir narkoba.


Dari ucapan gembong itu kemaren, dia juga jadi wanita giliran para kurir jika sedang bertransaksi.


Istilahnya tempat kencing dewasa mereka. Digilir dimana saja.

__ADS_1


Pemuas nafsu saat sedang pesta narkoba jika mereka berhasil mengirim barang". Tambah yang lain.


mereka menertawakan Indri. Indri dihina habis-habisan oleh anggota polisi.


Mereka menghina Indri karena kesal denga kekakuannya. membuat rejan kerjanya merasa di rendahkan oleh Indri.


"Untung bang Guntur cepat melepas wanita penjaja lendir ini cepat.


Kalau tidak, pasti bang Guntur masih di tipunya". Sela yang lain.


Indri hanya diam mendengar ocehan dan hinaan polisi itu. Nau menjawab juga tidak ada gunanya. Tidak ada yang mereka segani.


'Coba kalau bang Guntur masih hidup. pasti dia dengan murah gati membantu dan membelaku'. Gumam Indri.


Mengikuti kedua polisi yang membawanya.


Entah keberuntungan atau apa, sel khusus wanita yang terdiri tiga sel, hanya ada satu wanita yang sedang di tahan di sana.


Dan Indri menempati sel paling ujung. Sendiri.


Bisa jadi ada polisi sangar dan kawanan preman yang jomblo dari sel sebelah minta kamu servis.


Pasti mereka ingin mengetahui dan mencoba keahlianmu bergumul".ujar salah satu polisi setelah membuka borgol.


Indri berfikir, mungkinkah isu yang pernah dia dengar dulu. Jika ada tahanan wanita, polisi pasti akan mengilir mereka.


Atau membawa tahanan dan juga preman untuk mengilir sambil di interogasi.


Membuat Indri merinding.


Walau Indri sudah sering bermain dengan berbagai macam pria. Tapi tidak terbayangkan jika dia melayani di lantai dingin sel yang hanya beralaskan tikar plastik.


.


"Bos, aku tidak menemukan bu Gita bos. Tadi aku lihat ke tempat periksa sampai ke apotik. Tapi tidak aku temukan bu Gita". Lapor asisten Dika.


Dia yang sedang berada di parkiran setelah mengantar dan menurunkan bosnya itu di lobi rumah sakit. Dan parkir.

__ADS_1


Setelah menerima telfon dari bosnya, yang mengatakan melihat Gita yang hamil muda dan diperiksa di ruang khusus ibu hamil.


Maka sang asisten langsung menuju ke ruang yang di ucapkan bosnya.


Dia sudah melihat kesana, bahkan sampai ke ruang tunggu apotik yang ramai dia telusuri. Pasti Gita sedang mengantri obat karena sudah di periksa.


"Kenapa tidak ada?.


Aku yakin itu Gita. Dan aku melihat perutnya yang mulai membuncit karena hamil.


Dia memakai baju bercorak, warna abu-abu pink.


Coba kamu cari lagi. Aku yakin dia masih ada di rumah sakit ini". perintah Dika.


"Aku sedang di ruang tunggu apotik bos. Tapi tidak ada terlihat bu Gita". Ujar Asisten Dika.


Dia melihat kesekeliling. Memastikan dan melihat satu- satu pengunjung wanita.


"Tidak mungkin langsung hilang. Belum juga sepuluh menitan.


Atau setelah memberikan resep ke apotik, Gita pergi ke kamar kecil". ucap Dika.


"Bisa jadi bos.


Atau, bu Gita mengambil obat di apotik luar bos. Bukan disini.


Disini ramai, pasti bu Gita tidak mau berlama-lama". Ujar asisten Dika berpendapat.


"Sekarang kamu coba lihat ke apotik sekitar sini. biar aku melihat di sekitar apotik di rumah sakit ini.


Aku akan turun segera". Ujar Dika.


Dia yang baru saja berbasa basi dengan temannya yang sakit. Minta izin untuk pergi terlebih dahulu.


Dengan alasan ada yang akan diurus.


.

__ADS_1


__ADS_2