
"Apa aku hubungi bang Guntur saja Ya". Gumam Gita.
Dia mendengar rekaman percakapan dengan Indri tadi. Dia merekamnya untuk barang bukti agar bisa menjerat Indri dan Dika.
"Tapi kan bang Guntur sedang di ruang intensif. Pasti tidak membawa ponsel.
Apa aku hubungi ayah atau asistenku saja". Pikir Gita.
Sudah hampi satu jam dia berfikir.
Dalam kebingungannya, bel apartemen Gita berbunyi. Tapi dia tidak langsung membukanya. Bahkan dia tidak bergerak sedikit pun dari tempat duduknya.
"Siapa yang datang?. Tidak mungkin ayah atau asistennya.
Mereka pasti sedang di rumah sakit". gumam Gita.
Setelah beberapa kali bel berbunyi hingga berhenti sendiri. Berganti bunyi ponselnya yang berdering.
"Assalamualaikum yah. Aoa bang Guntur baik-baik saja". Ujar Gita saat mengangkat telfon ayahnya.
"Buka pintu dulu Gita. Ini sudah dari tadi kami menejan bel". jawab Gita.
"Eh ayah yang datang. Aku siaga yah. Takut ada orang yang berniat jahat padaku datang". Jawan Gjta sambil berjalan menuju pintu.
Dan Membukanya.
"Abang!!".
Kaget Gita saat melihat Suaminya duduk di kursi roda. Banyak balutan perban di kaki dan tangan Guntur.
"Apa abang tidak dirawat?. cedera begini?". Heran Gita.
Kenapa suaminya yang kecelakaan tadi sore dan banyak luka dan balutan perban di perbolehkan pulang.
"Abang mau dirawat di rumah saja sayang, dokter yang akan periksa kesini tiap pagi". Jawab Guntur.
Kursi roda di dorong oleh seorang dokter. Dokter ini yang Gita tahu teman abang Gita. Bang Zain yang juga seorang dokter.
Gita mengiringi dokter yang mendorong suaminya masuk kedalam unit apartemennya.
Juga ada ayah dan ibu Gita. Bahkan mama mertua juga ada.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang, saat mendengar kabar abang kecelakaan?". Tanya Guntur.
"Tadi cemas bang.
Rasanya ingin pergi kerumah sakit saat mendengarnya dari ayah.
__ADS_1
Tapi saat abang menelfon, aku sudah sedikit tenang
Dan Alhamdulillah abang tidak apa-apa". Jelas Gita.
"Makanya aku minta di rawat kerumah saja. Karena hanya luka lecet dan terkilir persendian.
Hanya ini yang patah". Ujar Guntur.
Memperlihatkan tangan kirinya yang pakai semen.
"Terus luka abang. Apa tidak perah?". Tanya Gita.
Memperhatikan tangan dan siku suaminya yang di perban.
"Tidak terlalu mengkhawatirkan. Bisa di obati sendiri. Juga dokter akan memeriksa tiap pagi". Jawab Guntur.
Gita mengangguk paham. Terlihat suaminya tidak begitu tidak begitu kesakitan saat ini.
Entah nanti pas tidur atau besok badannya ngilu. Sebab orang yang jatuh dari motor, badannya terasa sakit saat malam atau besok harinya.
"langsung saja ditidurkan di kamar saja. Biar istirahat cepat". Ujar mana Guntur.
Sang dokter mengangguk paham, dan mendorong kursi roda ke kamar tidur Guntur dan Gita.
Gita menyiapkan tempat yang nyaman untuk suaminya. Biar tidurnya lebih rileks.
Melihat paha kiri guntur juga memakai semen. Gita baru melihat saat Guntur di bantu pindah je kasur.
Tadi saat duduk di kursi roda tidak terlihat, karena Guntur memakai sarung dan juga menutup pahanya dengan selimut tipis dan kecil.
"Retak tulang keringnya sayang. Tidak butuh dirawat di rumah sakit kok". Jawab Guntur.
Gita mengangguk, membantu suaminya untuk untuk rebahan.
Dokter yang membantu pun minta izin untuk pulang. Sudah malam, Semua juga mau istirahat.
"Ibu dan mama makan dulu, baru istirahat". Ujar Guntur.
"Iya. Kami mau makan dulu, sudah lapar belum makan malam". Jawab Ibu.
"Biar aku siapkan, tadi aku juga masak, walau sedikit". ujar Gita.
"Mama sudah beli sate, tadi mama suruh supir mampir dipasar kuliner". Ujar mama mertua Gita.
Mengajak besannya keluar kamar anak dan menantunya, untuk makan malam. walau sudah sangat telat.
Sudah pukul sepuluh malam.
__ADS_1
"Kama mau Gun?". Tanya mama Guntur saat si depan pintu kamar.
"Biar Gita yang ambilkan ma. Mama dan ibu makan saja duluan". Ujar Guntur.
Karena istrinya itu sedang merapi kan posisi Guntur, untuk duduk bersandar.
"Sudah nyaman kok sayang. Ambilah satenya. Abang Sudah lapar". Ujar Guntur.
"Baik bang". jawab Gita.
Dia mengambil sate yang di bawa tadi. Dan Gita membawanya ke kamar.
Ternyata sudah disediakan oleh ibunya di atas nampan. Yang di letakan di meja makan.
Dua bungkus sate, juga ada seteko air minum.
"Biar aku bantu bang". Ujar Gita.
Dia duduk di sisi tempat tidur, ingin menyuapi suaminya.
"Kamu letakan saja di paha abang. Abang bisa sendiri makan kok. Kamu makan juga". Ujar Guntur.
Aku nanti makannya bang. Masih kenyang. Abang yang lapar". Ujar gita memaksa menyuapi suaminya.
Walaupun hanya kaki kiri dan tangan kiri yang retak. Tapi ada beberapa tubuh yang lecet.
"Iya lapar sekali. Dari sore sampai pukul delapan di ruang igd. Abang belum makan.
Abang sibuk di periksa sana sini.
Semua bagian tubuh di ronsen. Dan periksa kepala juga, apa ada pendarahan.
Kata dokter jaga tidak boleh di beri makan atau minum dulu. Mana tahu nanti ada pendarahan dan perlu di operasi.
Kaki dan tangan yang retak dan patah di semen, luka lecet diobati dan di perban.
Hingga malam akan di pindah barulah abang di beri minum dan roti". Jelas Guntur.
Sambil bercerita, Gita menyuapi suaminya yang kelaparan.
Sementara itu, mama dan ibu beristirahat di kamar sebelah. Karena sudah capek dan lelah.
.
.
.
__ADS_1
.