
Aku sholat zuhur setelah aku terlelap kurang dari satu jam. Siang ini aku keluar kamar. bahkan untuk makan siang saja aku malas.
Malu dan risih untuk bertemu teman kosanku. walau hanya Hani yang memberi respon tidak terima kalau aku ada hunungan dengan bang Guntur.
Akupun tidak bisa menjelaskan apa pun padanya. karena aku juga bingung dengan yang aku dengar tadi.
Sebenarnya aku lapar, karena tadi pagi saja sarapan ketupat. Ada sih ketupat yang dibungkuskan anna tadi. tapi pasti kuahnya dingindan beku. karena lemak kuah gulai cambuk sapi. Malas untuk menghangatkan kedapur. pasti akan bertemu dengan teman kosan yang lain.
Lama aku bermenung di dalam kamar, hanya memakan kerupuk dan biskuit kering sebagai penunda lapar.
Mau menghubungi anna, nomor ponselnya juga tidak ada. apa dia sudah pulang atau belum.
kulihat jam didindingku sudah hampir pukul dua. Aku yang sudah lapar ingi keluar saja. mungkin penghuni kosan lain sudah selesai makan siang.
"Astaghfirullah!!".
Ucapku saat membuka pintu kamarku. Ternyata ada hani yang akan mengetuk pintu kamarku. hingga hampir saja kepalan tangannya mampir diwajahku.
"Maaf.. maaf.
Tadi aku ingin mengetuk pintu kamar kamu!". ucapnya.
"Tidak apa-apa!. ada apa Hani?!". tanyaku.
Kenapa dia kekamarku, ada perlu apa dia.
"Itu. kamu tidak makan siang. sudah hampir jam dua ini!". ucapnya.
Aku tidak tahu, apa dia berbasa basi atau apa. dia malah duduk di tembok teras yang ada di depan kamar kosanku. tinggi temboknya selutut.
"Oo. aku ketiduran tadi. ini juga mau makan!". ucapku ikut duduk di dekatnya.
Sepertinya ada yang ingin dia bicarakan.
"Boleh aku bertanya padamu gita?!. sejak kapan kamu kenal dengan bang guntur. Kan kamu baru tinggal di kosan ini.
Apa sebelum ini kamu sudah punya hubungan dengan bang guntur sebelum kamu kos disini. seperti ucapannga tadi!".tanya Hani langsung.
Aku belum menjawab, tapi dia sudah berbicara lagi.
"Kamu tahu?.
Aku kos kesini karena ingin lebih dekat dengannya. setelah tahu dia menceraikan istrinya dan pindah kesini.
Aku tahu dengannya waktu dia masih berstatus suami orang lain!. karena aku tinggal dulu dekat asrama polisi, tempat mereka tinggal". jelasnya.
Aku menarik nafas pelan, sambil memandangnya. apa aku jujur saja pada hani. tapi di surat yang aku baca, jadi sedikit di pertimbangkan.
__ADS_1
Sebaiknya aku tidak mengatakan apa-apa dulu. Karena aku tdak tahu apa reaksinya.
"Aku kenal dia sekitar enam bulan yang lalu. Kami sebenarnya...".
"Sayang!. ponselnya kok tidak di aktif kan?!. aku menunggu kamu membalas pesanku!".
Tiba-tiba bang guntur datang dengan tentengan di tangannya. dia sudah berada disamping teras.
"Mana ponselnya?!". tanya bang guntur memberikam telapak tangannya, seperti meminta .
Aku menunjuk kedalam kamarku, kalau ponselku ada di dalam kamar. Memandang heran. kok bisa datang tiba-tiba.
"Aku ambil ya!". ucapnya.
Lalu dia langsung memasuki kamarku tanpa bicara. Apa-apaan dia. main masuk saja. Aku melihanya dengan kesal.
Aku ingin menyusulnya masuk. tapi aku urungkan. takut jadi bahan gunjingan. dalam kamar berduaan.
Aku tahu ada hani jadi saksinya, tapi aku tidak tahu dia akan bersaksi jujur atau malah bikin masalah buatku. Sepertinya dia marah, karena aku dekat dengan bang Guntur.
Apalagi melihat cara bicaranya yang sangat akrab dan mesra. tentu siapa yang mendengar akan berfikir kami pasangan kekasih.
Apa Hani juga salah satu wanita yang ingin dekat dengan bang guntur. mencari waktu untuk dijadikan pacar atau istri.
"Ternyata kamu menikungku gita. aku yang berharap menjadi pendamping hidup bang guntur.
sudah hampir delapan bulan aku mengikutinya. mencari waktu untuk bertegur sapa, melihat dia sedang dinas. hingga sering menitip salam melalui temannya.
Lalu dia pergi dari depan kamarku. masuk kedalam, dan menghilang.
Tidak berapa lama bang Guntur keluar dari kamarku, dan ikut duduk di tembok depan kamarku.
"Jangan dihiraukan. aku sering lihat dia. Dia mencari tahu tentang aku. perempuan aneh. selalu mengikuti aku kapan dan dimanapun.
Bahkan pernah beberapa kali dengan sengaja berbuat ulah saat aku dinas di jalan raya. sepertinya ingin aku tilang. tapi aku seperti tidak lihat, dan fokus pada pengendara lain saja.
Padahal aku dinas di jalan yang jauh dari sini. Sampai teman tim aku sudah hafal wajahnya!". ujar bang Guntur.
"Namanya juga sedang naksir, ya dia melakukan berbagai cara agar bisa dekat. tapi kasihan, dicuekin sang pujaan hati!". ucapku santai.
Aku tidak melihat kearahnya. risih, pasti ada anak kosan yang sedang mengintip aku.
"Harus bagaimana lagi. kan orang yang dia inginkan tidak tertarik!". jawabnya.
"Ooo!". jawabku.
"Kok cuma oo!?. tiak ingin tahu alasannya?!". tanya bang guntur.
__ADS_1
"Tidak berminat!". jawabku.
"Oo..
oh ya. ini ponsel kamu, sudah aku simpan nomor aku. jangan blokir. awas kalau berani!". ucapnya.
"Baik. nanti aku blokir!". jawabku.
"Gita!!!. kamu mau...".
"Cie.. cie... yang lagi pacaran. sampai ada tetangga yang sedang menangis darah noh!". ucap mitha tiba-tiba sudah berdiri di pintu samping rumah utama.
hhff. aku menarik nafas saja. tidak ingin tahu lebih jauh. Aku saja sekatang sedang dalam masalah. aku tahu, yang dibilang mitha pasti Hani yang baru daja masuk, dan menangis.
"Bilang saja. Kami akan menikah, jadi jangan jadi penguntit lagi!". ucap bang Guntur datar tanpa senyum.
"Eh bang. kok kamu tidak berbicara santai seperti pada gita?!. Aku juga mau di respon baik lho kalau sedang berbicara?!". protes mitha.
"Ada apa teman calon istriku. kamu mau aku bicara apa denganku?!. Aku tidak mau kamu nanti teringat aku jika aku tersenyum. aku cuna mau senyumku untuk calon istriku yang sebentar lagi menjadi istriku!". ucap bang guntur berbicara sedikit lembut, dan senyum tipis.
"Ilih... aku tidak tertarik ya pak pol ganteng. Walaupun kamu ganteng dan banyak fansnya. seperti yang baru saja patah hati.
Tapi kamu bukan tipe aku. datar, dingin dan ngeselin. pasti hidupnya juga datar, seperti wajahnya!.
Aku juga sudah punya pacar kok!". omel mitha melotot pada bang Guntur.
Aku bisa lihat, mitha kesal dengan ucapan narsis bang guntur.
"Itu lebih baik. Aku juga sudah punya calon istri. jadi jangan berniat untuk mengaet aku!". ucap bang guntur lagi.
"Tidak akan. aku....".
Tin.. tin...
Bunyi klakson motor memotong ucapan mitha.
"Pacarku menjemputku. permisi..!". ucap mitha.
Menuju gerbang, dimana pacarnya menunggu.
"Kamu belum makan siang kan?. itu aku bawakan untuk makan siang kamu.
Makan dulu, nanti aku akan jemput kamu siap ashar. Karena orang tuaku sudah datang, ingin ajak kamu bicara!". ucap bang guntur.
"Aku...!".
"Bersiap saja. sial ashar akan di jemput Anna!". ucapnya berlalu. tanpa mau di bantah.
__ADS_1
.
.