
"Apa?!. Si Dika itu ada di atas?". Ucap Indri.
Dia baru saja sampai parkiran rumah sakit. Tempat Guntur dirawat.
Dia buru-buru kerumah sakit. Tapi terjebak macet, jalanan pas magrib memang macet menuju rumah sakit.
Apalagi Indri yang tadi dari asrama polisi harus bertemu seseorang dulu dengan seorang yang dia percayakan untuk mencelakai istri Guntur. Gita.
Dia merencanakan dengan matang agar Tidak akan mengecewakan lagi.
Sebab sudah beberapa bulan ini dia menyuruh anak buahnya untuk memata-matai Guntur dan istrinya, tidak pernah memuaskan.
Bahkan melihat istri Gunturpun tidak pernah. Bagaimana mereka akan mengeksekusi untuk mencelakainya.
"Iya bos, dia sedang di ruang tunggu di lorong ruang intensif.
Dan pantauan teman di sana, wanita itu, dari suaminya masuk ruangan intensif, belum ada keluar".
Jelas anak buah Indri, yang ada di parkiran dekat igd.
"Terus, apa ada keluarga mereka yang ikut berjaga". Tanya Indri.
"Tadi ada ibu-ibu dan bapak- bapak dua orang. Tapi mereka sekitar setengah jam yang lalu pergi, masing-masing mobil membawa sepasang paruh baya.
Aku yakin itu orang tua mereka". Jawabnya.
"Apa salah satu bapak-bapak itu ada yang memakai baju polisi?". Tanya Indri.
Karena dia tahu, mantan ayah mertuanya juga polisi.
"Tidak bos". Jawab mereka.
Indri swmakin yakin, jika orang tua mantan suaminya itu pergi, pasti istrinya sendiri menjaganya di dalam sana.
Dan dia akan bisa melaksanakan aksinya bersama abak buahnya.
Hanya menghadapi Dika dan anak buahnya saja.
"Apa anak buah Dika juga banyak?". Tanya Indri.
Memastikan keadaa.
"Yang bersama dia tiga orang bos. Tapi kita tidak tahu, apa ada yamg berada di sekitar igd dan ruang intensif.
Tapi, polisi masih berjaga di ruang tunggu bos". Tambah anak byah Indri.
"Baik. Kita harus main aman. Jika orang ini sedang beraksi, kalian alihkan kegiatan orang yang kalian curigai anak buah Dika.
Biar polisi yang berjaga juga lengah". Ujar indri.
__ADS_1
Dia memperlihatkan foto seseorang yang akan mengeksekusi Gita.
"Dia yang akan menculik wanita itu. Kalian cukup memberi kabar kakau wanita itu keluar dan kearah mana.
Biar dia yang akan bergerak". Ujar Indri mengatur strategi.
"Baik bos!". Ujar mereka.
Mereka berbincang di bawah pohon dekat parkiran. Agak jauh dari lalu lalang orang yang datang ke igd.
Tapi. Mereka tidak tahu.
Di belakang mereka, banyak deretan warung tenda pedagang makanan khusus malam. Hanya berbatas pagar besi.
Dan, anak buah Dika yang sedang makan malam mendengar rencana mereka.
Tentu rencana mereka sudah bocor terlebih dahulu.
Dan tentu Dika tidak akan mau Gita celaka, apalagi di culik dan di aniaya.
"Awasi saja gerak-gerik mereka. Jangan membuat mereka curiga kalau sedang di awasi.
Jika Gita ada keluar dari ruang intensif. Jaga dan lindungi Gita dari mereka.
Kalian cukup mengalihkan saja.
Kita harus hati-hati bergerak. Tugas kita hanya membuat Gita aman.
"Aku akan ke luar dari ruangan ini. Dan akan berjaga di ruang bawah dekat tangga darurat.
Kabari aku jika ada apa-apa". Ujar Dika.
"Baik bos". Jawabnya.
Saat Dika akan berdiri, pintu ruang intensif tiba-tiba terbuka. Dika yang setengah berdiri, duduk kembali.
Melihat kearah pintu tersebut.
Terlihat sebuah kursi roda sedang di dorong oleh seorang perawat laki-laki.
Dan pasien yang duduk di kursi roda itu. terlihat kaki juga tangannya berbalutan semen pasien patah tulang.
Dan juga kepalanya dililit kain kasa, menutupi kepala dan sebelah wajahnya, Menuju lift.
Dika menarik nafas lega, dia yang was-was. mengkhawatirkan kalau Gita yang keluar.
Barulah dia melangkah kearah tangga yang berada di sudut lorong, tidak jauh dari mereka duduk.
Saat Dika belok ketangga, lift terbuka membawa pasien yang di kursi roda ditarik mundur memasuki lift tersebut.
__ADS_1
Saat bersamaan, Indri keluar dari lift itu.
Tanpa dia sadari, pasien yang di kursi roda yang di tarik mundur memasuki lift adalah Guntur. orang yang dia khawatirkan.
Dikapun tadi tidak curiga kalau yang didorong di kursi roda itu adalah Guntur. karena mereka yakin, Guntur sedang kritis di ruang intensif.
Kejadian setengah jam yang lalu itu melancarkan perjalanan Guntur pulang keapartemen. Menemui istrinya yang pasti sedang cemas menunggu kabar darinya.
Hingga saat ini Guntur menikmati sate di suapi oleh istrinya.
"Bagai mana cara abang bisa pulang kerumah. Apa mereka tidak curiga kalau abang tidak apa-apa?". tanya Gita.
Setelah suaminya selesai di suapinya sate. Dan memberinya minum.
"Buktinya berhasilkan?. Abang sampai di rumah.
Teman abang yang membantu abang di igd tadi, mengatakan kronologi kejadian abang yang di tabrak itu.
Dan penabrak itu kabur saat abang sedang di bantu warga.
Ditambah tadi sore saat Indri datang keasrama, katanya dia ingin menjemput kamu untuk bersama ke rumah sakit. Abang kecelakaan katanya.
Tentu teman abang yang berjaga curiga. Dari mana dia tahu abang kalau abang kecelakaan. Sementara dia belum dapat kabar dari yang lain.
Dia curiga, kalau kecelakaan ini mereka rencanakan. Dan langsung menelfon abang.
Lalu mereka berembuk dengan papa untuk membuat sebuah berita. Kalau abang sedang kritis akibat kecelakaan ini.
Makanya tadi ayah datang kekantor kamu, untuk memberi tahu, agar kamu tidak cemas. Juga takut kandungan kamu kenapa-kenapa kalau kamu kaget.". Terang Guntur.
Gita mengangguk paham. Dengan cerita suaminya. Dia pun ikut menceritakan, kalau dia juga di telfon Dika dan mantan istri suamiinya itu.
Hingga ancaman untuk mencelakainya.
"Mereka menelfon, mengatakan kalau abang sedang krisis. Dan mantan istri abang mengatakan ingin membalas perbuatan si Dika itu. Juga dia akan mencelakaiku juga". Ucap Gita.
Memberikan bukti percakapan yang dia rekam tadi.
Guntur mengangguk paham. Dengan tindakan mereka. Yang saling ingin mencelakai orang yang menghambat keinginan mereka.
"Makanya papa akan membuat drama. Agar mereka berdua yang bertengkar". Ujar Guntur.
"Maksudnya?". Tanya Gita .
"Tunggu saja telfon kamu berdering subuh nanti atau pagi hari". Ujar Guntur tersenyum.
Gita yang belum paham tentu tidak tahu, apa arti senyuman suaminya itu.
.
__ADS_1
.
.