Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Pergi


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu aku sudah memeriksa tempat tersembunyi. Baik yang ada sofa, tempat tidur juga semua.


Rasanya tidak ada yang mencurigakan.


Menjelang magrib, pak putra datang dengan anak laki-lakinya. membawa sebuah mobil pick up. karena rumah pak putra dekat dengan cluster yang di jaganya.


Sementara supir mama katanya akan jemput agak malam. karena rumahnya satu jam perjalanan. lebih jauh dari rumah mama.


"Mbak gita ini anak saya namanya yudi. Yudi yang akan memakai perabot mbak Gita!. karena mereka baru menikah". perkenalan pak putra.


Aku tersenyum menyambut kedatangan mereka.


"Terima kasih kak. aku sangat terbantu dengan yang kakak berikan.


He.. maklum. masih pengantin baru dan baru pindah!". ucapnya tersenyum.


"Rizki kamu Yud. aku kan mau pindah!". ucapku tersenyum.


Karena aku memberi sesuai dengan yang dia butuhkan.


Ternyata kontrakannya juga berada di belakang cluster ini. Katanya tidak terlalu besar.


Malah dia kaget saat aku ajak tiga orang temannya kekamar untuk membawa tempat tidurku yang berukuran king size.


"Pasti guling-gulingnya enak saat bergelut dengan istriku!. tidak akan sakit pinggang istriku selesai aku gempur". gumam yudi pelan.


Tapi masih bisa kudengar.


"Iya yud. kalau begini kasur kamu tidak akan menganggu tetangga karena deritan ranjangmu!". ucap temannya.


Yudi hanya tersenyum.


"Apa tidak sayang tempat bersejarah kakak dengan suami untuk di berikan padaku?!". tanya yudi.


"Tidak yud. sekarang kamu yang lebih membutuhkan!". jawabku.


"Apa sudah bisa dibawa mbak?!". tanya teman yudi.


"Boleh. bawa semua kamar setnya. yang muda lebih membutuhkan!". jawabku.

__ADS_1


"He. he.. terima kasih kak!". ucap yudi.


Maka yudi di bantu ketiga temannya membawa kamar set yang berada di kamar utama.


Aku juga memberi yudi satu kulkas dan mesin cuci, juga beberapa peralatan dapur.


Teman yudi juga di beri kompor gas, megic dan dispenser. juga ada kursi diteras mereka bawa.


Mereka selesai setelah sholat magrib. Dan aku memesan makanan online saja.


Saat makan malam kedua mertuaku mampir. katanya dia mau berangkat keluar kota beberapa hari, katanya ada keluarga ibu yang meninggal.


Akupun minta izin kalau beberapa hari kedepan akan pindah.


"pakaian fajri apa sudah kamu sisihkan untuk ayah?!". tanya ibu.


"Besok aku antar kerumah ibu!". janjiku.


"Baik. semoga kamu cepat dapat jodoh, ibu hanya bisa mendo'a kan kamu!.


jaga diri baik-baik". hanya itu pesan ayah dan ibu mertua.


Mereka masih mertuaku. Karena surat dari pengadilan belum kuterima.


Pukul delapan, supir mamaku juga sudah datang. membawa mobil yang sedikit besar. karena banyak perabot untuknya.


Semua perabot dibawa. peralatan makan, beberapa piring dan pecah belah dan pajangan yang tidak aku berikan. karena merupakan barang oleh-oleh dan sedikit mahal.


Semua sudah dibawa. Tinggal beberapa perkakas dan pakaian serta punya pribadiku yang tertinggal. sudah aku kemas semua.


Bunga dan tanaman yang aku rawatpun aku bawa.


Aku menelfon seseorang, agar pagi menjemput semua perkakasku dan meletakan di tempat yang masih aku rahasiakan.


Aku tidur di gelaran karpet bulu tebal. dan selimut tebal.


.


Hah.. hah... hah...

__ADS_1


Aku terbangun dari tidurku.


Aku bermimpi, bang Fajri mengatakan. Ada sesuatu didalam tas kerjaku, yang dibelikan waktu bang fajri ke eropa.


Aku bangun dari rebahanku. aku lihat sekeliling. Mencari dimana kokeksi tas ku.


Aku ingat, tas-tasku kumasukan ke koper biru. Dan aku membongkar nya.


Aku meneteskan airmataku, saat membaca surat yang terletak di dalam tas tersebut.


Aku menutup kembali surat itu, dan memasukan kedalam tas itu lagi.


.


Pagi sekali mobil yang akan membawa barang-barangku datang, semua dinaikan dan aku hanya keluar dengan pakaian di tubuh saja.


Aku izin agak telat kekantor pada atasanku. karena akan pindahan, ucapku pada atasan.


Tidak lupa aku memesan kurir komplels untuk mengantar dua koper pakaian dan barang milik bang Fajri kerumah orang tuanya.


Rumah yang tidak jauh dari cluster tempat tinggalku.


Setelah semua berangkat, aku kembali mengelilingi rumah. memeriksa, mana tahu masih ada yang tertinggal dan harus kubawa.


kedua kamar juga sudah kosong. tidak ada apapun yang tertinggal. Ruang tengah dan ruang tamu juga sudah kosong.


kuperiksa setiap rak, laci yang ada di dapur. kosong, tempat cuci dan menjemur. juga kosong.


Aman.


Maka aku keluar dari rumah itu. melangkah menuju masa depan. meninggalkan semua kenangan yang tertulis indah.


Selamat tinggal masa lalu. Semoga bang Fajri tenang di alam sana. Aku sudah ikhlas dengan sema yang terjadi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2