
.
.
.
Malam harinya Lukman masih setia di ruang tamu. Mereka sudah makan malam bersama dengan kuah soto yang dibelinya saat diperjalanan pulang setelah menjemput Laila.
Sesampainya di rumah tanpa diminta Laila memasak nasi untuk makan malam mereka bertiga. Selepas Solat Isyak Lukman tetap berada di ruang tamu. ia menata kursi-kursi itu sehingga bisa dijadikannya tempat tidur.
__ADS_1
Jam setengah sepuluh lebih Doni baru pulang dari tokonya. Ia menyuruh Doni makan kemudian menemani Doni belajar hingga hampir setengah dua belas malam. Mereka berbincang sebentar. Lukman menanyakan apa saja yang terjadi padanya hari ini. Mereka terlihat sangat akrab seperti saudara kandung.
Justru Laila yang merasa diabaikan oleh lukman, suaminya. Lukman hanya berbicara yang perlu-perlu saja padanya. itupun sangat sedikit hanya beberapa patah kata saja.
Tapi malam ini ia bisa tidur dengan nyenyak tak seberapa memikirkan Lukman. Kalau dia mau tidur di ruang tamu yang sempit itu ya sudah.... hibur hatinya. Meski ada keinginan Lukman akan tidur di kamarnya dan memeluknya tapi ia memilih untuk memejamkan matanya agar besok bisa bersemangat dan beraktifitas kembali.
Tengah malam Lukman masuk ke dalam kamarnya, memeluk Laila dari belakang. Ia hanya mencium rambut Laila pelan kemudian tidur dengan tenang. Ia belum bisa berbicara selayaknya pasangan seperti seorang suami kepada istrinya. Sebenarnya ia ingin berdiskusi tentang mendaftarkan pernikahan mereka tapi mulutnya masih kelu. Sementara ini biarlah begini saja yang penting urusan dengan para rentenir preman sudah selesai. semoga keluarga ini tidak pernah berurusan dengan mereka lagi, batinnya
Pagi harinya setelah solat subuh Laila memasak nasi kemudian hendak belanja sayuran di bakul sayur yang ada di gang itu. Ia berencana untuk memasak sayur bening dengan dadar jagung saja.
__ADS_1
Lukman mengangsurkan uang lima puluh ribuan dua lembar saat Laila hendak keluar. Laila menatap Lukman dengan perasaan bersalah. Ia kerap kali merepotkan Lukman. Mungkin ia punya rasa perduli yang tinggi pada orang-orang seperti ku sampai ia rela menikahiku batinnya, Laila merasakan sesak di dadanya.
"Aku sudah bawa uang" kata Laila sambil menunjukkan uang dua puluh ribuan di genggaman tangannya.
"pakai ini saja! Sekarang kamu adalah tanggunganku. Aku ini suamimu!" wajah Lukman datar saja nada bicaranya sedang tapi itu malah membuat Laila ingin menangis sejadi-jadinya. Ia menerima uang itu dan segera meninggalkan Lukman dengan hati yang meracau.
Bagaimana kau menganggap dirimu seorang suami kalau kau tak menghiraukan ku dan memilih tidur di ruang tamu sendiri. Fix Laila yakin jika Lukman tak punya perasaan padanya dan bersedia menikahiku hanya karena kasihan saja, batinnya. Ia tak tahu jika tadi malam suaminya memeluk tubuhnya saat ia terlelap.
Saat akan berangkat kerja Lukman menarik tangan Laila agar memeluk perutnya. Laila tetap melakukannya dengan ogah-ogahan saja. Tak ada rasa berdebar hanya kekesalan yang menghinggapi hatinya. Lukman juga merasa jika pegangan istrinya itu tak seperti kemarin yang bersemangat dan menempelkan tubuhnya ke badan Lukman. Pagi ini Laila hanya berpegangan pada pinggang Lukman. Ia ingin menanyakannya tapi urung. Ia malah lebih memilih untuk menunggu Laila yang bicara terlebih dahulu.
__ADS_1