Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Baru


__ADS_3

Kliningan kalung sapi di taruh di atas baki yang dihias sedemikian rupa beserta foto tujuh sapi dan uang tujuh ratus ribu yang menjadi mas kawin Zainal untuk Ani.


"Sudah siap mas.... Zainal?" Tanya pak penghulu sambil membaca nama Zainal yang ada di kertas di depannya.


"Insya Alloh.." Jawab pengantin pria dengan wajah tegang. Ia gugup bukan kepalang. Semua yang di pandang terlihat putih sampai-sampai Zainal tak tahu siapa orang yang ada di depannya kecuali dari suaranya.


" Rupanya pengantinnya sudah tak sabar ya? sabar sebentar ya mas Zainal....!" Pak Penghulu mencoba mencairkan suasana agar si pengantin pria bisa lebih rileks. Beliau kemudian mengisi dan memeriksa dokumen-dokumen yang ada sebagai kelengkapan pernikahan untuk pencatatan sipil negara.


"Mas kawinnya uang senilai 700 ribu rupiah dan tujuh ekor sapi ya mas....?" Kata pak penghulu lagi.


"Iya benar..." Jawab Zainal mantap.


Para hadirin terkikik berjamaah merasa lucu karena baru sekarang mereka mendengar mahar yang tak seperti biasanya.


"Silahkan ustadz bisa di mulai..." Ujar pak penghulu pada Bang Alif setelah semua persyaratan dan administrasi dipenuhi.


Bang Alif kemudian mengajak seluruh yang hadir membaca syahadat bersama membuat suasana semakin melow seperti orang tua yang menyaksikan anak-anaknya pergi untuk berangkat perang.


"Zainal dan Ani adikku benarkan niat kalian lagi. Niat kan pernikahan kalian ini karena Alloh karena mengikuti sunnah Rosululloh dan ingin menggapai ridho Nya. Berjanjilah kalian untuk menjaga pernikahan ini dengan sepenuh hati, bukan janji kepada manusia tapi janji pada Dia yang Maha Kuasa"


Ani yang berada di balik tirai penghalang ruangan bersama para wanita lainnya tak kuasa menahan air matanya.


" Sudah hafal ijabnya?" Tanya Bang Alif.


"Insya Allah bang...!" Jawab Zainal sambil mengangguk.


Bang Alif menjabat tangan Zainal kemudian menatap pengantin pria di depannya yang malah semakin gugup karena bang Alif tak segera mengucapkan kata-kata.


Bang Alif menarik nafasnya dalam-dalam kemudian membaca basmalah dan mengeratkan jabatan tangannya.


"Saudaraku Zainal..... Aku nikahkan engkau dengan adikku Aniyah binti Abu Dardak dengan mahar uang sebesar tujuh ratus ribu dan tujuh ekor sapi di bayar tu-nai"


Dengan segera Zainal menjawab, "Saya terima nikah dan kawinnya Aniyah binti Abu dardak dengan mas kawin tersebut tunai..."


"Bagaimana para saksi?" Tanya Bang Alif sambil melihat ke arah para saksi dan hadirin yang ada.


"Sahhh...."


Butiran air mengalir di pipi Zainal. Merasa sangat bahagia karena bisa mengucapkan ijab kabul tanpa kesalahan dan juga karena status barunya yang kini resmi menjadi seorang suami.


"Alhamdulillahirobbil alamiin....." Seluruh hadirin berucap syukur karena janji yang di sebut dalam Al Qur'an sebagai salah satu perjanjian yang berat telah selesai ditunaikan.


"Mohon doanya pak penghulu..." Bang Alif berucap sopan sambil menengadahkan tangannya.


"Silahkan ustdaz saja, saya yang mengaminkan " Kata pak penghulu sambil satu tangannya mempersilahkan.

__ADS_1


" Yang lebih tua yang lebih makbul do'anya. Yah....minta do'anya " Kata bang Alif pada pak Dirman.


Pak Dirman pun mulai menengadahkan tangan dan berdo'a. Lelehan air mata tak berhenti mengalir di pipi kedua sejoli yang kini resmi jadi pengantin.


"Nanti riasannya cemong lho An....! Jangan nangis lagi...!" Bisik kak Mia sambil mengusap mata adik iparnya dengan tisu.


Ani pun mencoba menghentikan tangisnya karena tak ingin saat bertemu suaminya riasannya tak lagi sempurna.


"Amin ya robbal alamiin..." Pak Dirman sudah menyelesaikan do'anya kemudian mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya begitupun para tamu yang hadir saat itu.


"Pengantin wanitanya di persilahkan masuk...!" Kata pak penghulu.


Bang Alif kemudian berbisik-bisik dengan pak penghulu yang disambut pria itu dengan manggut-manggut tanda setuju.


"Syakiron hamidan kaanahul badru fi tamamih....!" Suara bang Alif terdengar mengalun sangat merdu.


Bang Alif pun berdiri dan para hadirin pun serempak ikut berdiri.


"Ya Nabi ...salam alaika


ya Rosul salam alaika


Ya Habib salam alaika


Sholawatulloh alaika....2x"


Mulut Zainal ikut menyenandungkan solawat tapi jantungnya berdebar-debar menunggu kemunculan sang kekasih untuk pertama kalinya setelah mereka sah menjadi suami istri.


Bang Alif dan pak Dirman menggandeng Ani di sebelah kanan dan kiri.


Zainal terpaku saat melihat istrinya. Bagaimana gadis cantik ini wajahnya berkali-kali lipat cantiknya padahal ia sudah sering bertemu dengannya. Waktu fitting baju pun ia ikut menyaksikannya. Gadis bernama Ani ini juga memakai make up setiap hari meski tipis sekali. Kenapa dia jadi bersinar seperti ini. Ini benar istri ku kan? Batin Zainal.


Ani yang saat ini tampil cantik dengan kebaya warna putih dan kerudung dari bunga melati, pun terlihat terkesima melihat wajah suaminya. Wajah Zainal yang biasanya dipenuhi bulu kini berubah penampilannya. Ya, Zainal sudah mencukur kumis dan jenggotnya hingga hampir bersih, hanya menyisakan sedikiit sekali seperti rambut yang baru tumbuh dan kalau di pegang itu rasanya trecep-trecep bigamana.. gitu. ups!


Bang Alif mempertemukan tangan pasangan suami istri baru itu yang membuat keduanya tersadar dan segera berjabatan tangan.


Ani mencium tangan sang suami untuk pertama kalinya. Jangan ditanya bagaimana rasanya. Seperti tersengat listrik ribuan watt. Ia memejamkan mata merasakan bagaimana indahnya dunia.


Zainal juga merasakan hal yang sama dan rasanya ia ingin membawa istrinya ke kamar agar bisa memberikan ciuman bertubi-tubi untuk pertama kali tapi dia ingat pesan bang Alif saat pertama kali bertemu istri agar berdoa di ubun-ubunnya. Zainal pun melakukannya. Meletakkan telapak tangannya pada kening sang istri dengan berdo'a sambil memejamkan mata.


Setelah selesai orang-orang berhenti membaca solawat dan mereka pun duduk kembali.


Acara selanjutnya yaitu penandatanganan dokumen oleh pihak istri kemudian sesi foto-foto dengan memegang buku nikah, bersalaman dengan papa mamanya Zainal yang kini resmi menjadi mertuanya dan foto-foto bersama keluarga.


Acara pagi menjelang siang itu pun berakhir dengan makan-makan dan pembagian bingkisan sebagai rasa syukur dan terima kasih pada para tamu undangan karena sudah mau meluangkan waktu berharga mereka.

__ADS_1


Saat mama mertuanya berpamitan dia memeluk Ani sambil berbisik, " Jangan marahi Zainal ya An, mama sudah sering memarahi dia. Kasihan....! Kalau ada apa-apa bilang saja mama biar mama yang marahi dia"


Ani mengangguk sambil mengulas senyum cantiknya. Bagaimana pun seorang ibu pasti tidak rela anaknya disakiti siapa saja. Sedang papa mertuanya hanya menepuk pundaknya dengan penuh kasih sayang.


Setelah sebagian besar tamu pulang Ani yang sedari pagi belum sarapan kini mulai kelaparan. Ia segera berjalan ke dapur untuk minta makan.


"Ee ee eh.... pengantinnya mau kemana?" Tanya kak Mia yang melihat adik iparnya berjalan tergesa sambil mengangkat sedikit kain jariknya.


"Minta makan kak, lapar...." Kata Ani sambil memegang perutnya.


" Ajak suamimu masuk ke kamar dan tunggu di sana. Makanan akan segera diantarkan. Hari ini kamu jadi ratu jadi nggak perlu susah-susah, mau apa-apa tinggal perintah "


Ani malah diam saja tak berani bergerak.


"Tunggu apalagi, ajak suami kamu ke kamar ! Dia juga pasti lapar..."


"Malu kak..." Kata Ani.


" Sekarang bilangnya malu. Kita lihat satu bulan ke depan ya, pasti nggak mau ditinggalin. Kemana-kemana maunya berduaaa..n aja...!" Kata kak Mia dalam mode rempong.


" Siapa yang nggak mau ditinggalin kak?" Tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang sedang mereka bicarakan berada di dekat Ani.


"Ehhem...."


"Ehm.... ehmm.... "


"Ehem ehem.... Ada yang nyariin istrinya tuh....!"


Kak Mia,Laila dan Karina yang melihat Zainal langsung berdehem menggoda keduanya membuat wajah Ani bersemu merah. Ia segera menarik tangan Zainal ke dalam kamarnya agar tidak di goda oleh saudara-saudaranya.


Zainal melihat tangannya yang sedang diatarik oleh istrinya. Ia tersenyum dan ikut melangkah dengan bahagia.


"Udah nggak sabar ya...." Karina berseru saat Ani dan Zainal sudah masuk kamar.


Dengan cepat Ani menutup pintunya kemudian bersandar pada daun pintu dengan tangannya yang masih menggenggam tangan suaminya.


Zainal menunggu dengan penasaran, ia ingin tahu setelah ini apa yang akan di lakukan oleh istrinya.


Sekarang Ani bingung harus berbuat apa karena jantungnya berdetak cepat seakan berlomba dan saling berkejaran.


Perlahan ia mulai merenggangkan genggamannya dan mencoba melepaskan tangan suaminya tapi Zainal yang kini mengambil alih kendali. Ia menarik tangan istrinya hingga posisi mereka kini berhadapan dan tubuh mereka mulai saling menempel.


Dug dug dug dug dug


Tanpa aba-aba Zainal langsung mencium kening Ani untuk pertama kalinya. Mereka saling memejamkan mata merasakan gelenyar-gelenyar aneh yang menjalar di seluruh tubuh keduanya.

__ADS_1


End


__ADS_2