Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Aku masih normal


__ADS_3

Ani pun kelimpungan karena Zainal sepertinya merasa sangat kesal.


"Mas.... besok aku pakai kebaya-kebaya yang kamu belikan waktu itu untuk foto prewedding kita. Boleh nggak?"


"Terserah..!"


Zainal mode on manja. Sedang ingin di mengerti jika hatinya kini tersakiti dan Ani harus berusaha sekuat tenaga mencari cara untuk membuatnya kembali ceria.


Di sinilah Ani baru ingat jika umurnya lebih tua dari calon suaminya dan sudah seharusnya ia yang mengalah. Dia pun mengikuti kemana Zainal melangkah sambil menjinjing sepatu dan tangan lainnya masih memegang botol mineral.


Zainal yang juga menjinjing sepatu dan gelas minumannya ternyata berjalan ke sebuah restoran. Ia memperlambat langkah kakinya agar bisa sejajar dengan Ani. Meskipun hatinya sedang marah tapi ia tak ingin kekasih hatinya jauh dari jangkauan matanya.


Ia melihat sekilas pada restoran bertemakan korea dan pasti makanan yang disajikan di dalamnya adalah makanan-makanan khas negri gingseng dengan segala keunikannya.


Zainal asal masuk saja meskipun sebenarnya dia lebih suka makanan khas Indonesia tapi karena sudah waktunya makan siang dan lagi mereka baru saja berlarian pasti perut kekasihnya sudah keroncongan.


Zainal membukakan pintu dan mempersilahkan Ani untuk masuk terlebih dahulu. Gadis cantik berkerudung abu-abu itu merekahkan senyumnya. Dia merasa Zainal begitu menyayanginya. Dalam keadaan marah saja dia bisa seromantis itu membuat hatinya berbunga-bunga.


Melihat berbagai menu yang tersaji Zainal nampak kurang bersemangat sedangkan Ani terlihat berbinar-binar matanya. Zainal memperhatikan gerak gerik gadis yang kini mengalihkan dunianya meski ia masih memandangnya dengan muka cemberut karena kecemburuannya.


"Mas Zein pesan apa?", tanya Ani sambil menyelipkan senyuman manisnya.


"Aku ikut saja", katanya sambil mengalihkan pandangan matanya pada buku menu. Entah kenapa dia jadi salah tingkah dipandang Ani seperti itu. Wajahnya memerah dan Ani menyadari hal itu.


Setelah memesan makanan, Ani menyangga wajahnya dengan telapak tangan sambil memandang Zainal dengan melipat kedua bibirnya menahan senyumannya. Dia merasa gemas dengan sikap Zainal yang nampak malu-malu kucing. Jika biasanya seorang pria yang menggoda gadis yang salah tingkah ini justru kebalikannya.


Sadar jika gadis cantik di depannya sedang memandanginya dengan seksama, hati Zainal semakin berdebar-debar. Itu sangat bertolak belakang dengan brewok di wajahnya. Dia yang harusnya punya tatapan tajam dan mendebarkan pasangannya ini malah terlihat malu-malu meong. Zainal menunduk berpura-pura melihat aneka menu sambil menutupi sebagian muka tampannya dengan tangan sehingga yang terlihat hanya hidung dan bibirnya yang dipenuhi bulu-bulu maskulinnya.


"Mas..."


"Hem...?"


"Kenapa mas menyukaiku?", goda Ani.


"Lalu kenapa kamu tidak menyukaiku?", bukannya menjawab dia malah balik bertanya.

__ADS_1


"Siapa yang bilang?".


"Lalu?"


"Lalu.... kenapa mas menyukaiku?". Ani masih penasaran kenapa Zainal menyukainya.


Zainal dan Ani kini saling bertatapan. Si gadis menahan senyumnya sedangkan si pria dengan wajah cemberutnya.


"Seluruh dunia juga tahu kalau aku menyukaimu di.... "


"Oh ya..? Kenapa aku tidak tahu? Kapan mas bilang menyukaiku?". Ani mengernyitkan keningnya seolah tak percaya untuk melihat bagaimana reaksi calon suaminya.


"Tidak sekarang. Nanti kalau kita sudah menikah aku akan mengatakan semuanya". Zainal lagi-lagi kembali pada idealismenya.


"Sama. Aku juga akan mengatakannya nanti kalau kita sudah sah". Mereka sama-sama teguh pada pendiriannya. Sudah mulai kelihatan keras kepalanya.


"Tapi.... tunggu dulu! Mas Zein punya mantan berapa?", Ini yang sejak dulu ingin dia dengar dari mulut Zainal, sungguh Ani sangat penasaran.


"Ehem. Hanya beberapa... tidak banyak".


"Beberapa? Astaghfirullahaladzim... Jadi mas Zein sudah beberapa kali jatuh cinta sedangkan mas Zein adalah cinta pertama ku? Oh my God... ini tidak adil?". Ani tiba-tiba merasa kesal. Dia baru pertama kalinya mengenal cinta pada Zainal sedangkan Zainal sendiri sudah beberapa kali jatuh cinta.


"Oh no.... bukankah disini aku yang seharusnya marah. Ustadz itu sudah tidak ada tapi kamu masih saja menyimpan semua kenangan tentang dia. Sebegitu cintanya kamu sama dia sampai tak bisa melupakannya. Sampai harus sakit berbulan-bulan saat dia meninggal..". Zainal tak lagi bisa memendam emosi sehingga dia meluapkan semua kekesalannya.


Suara Zainal yang sedikit keras membuat semua mata pengunjung melihat dua orang insan yang sedang duduk berhadapan dan terlihat sedang berselisih paham itu.


Ani langsung diam mendengar kemarahan Zainal. Ia tak menyangka jika kekasihnya ini begitu cemburu pada Zainuddin.


"Mas... bisakah tidak membicarakannya? Dia bahkan sudah tidak ada?", katanya pelan menahan emosinya karena malu bertengkar di depan banyak orang.


"Justru itu. Dia sudah tidak ada di dunia ini lagi tapi kamu belum move on juga", suaranya kini sudah sedikit melunak.


Ani kini diam mencoba menelaah apa yang barusan dikatakan Zainal. Benar ... seharusnya dia sudah melepas cincin pemberian ustadz Zein karena sebentar lagi akan menikah dengan Zainal. Itu pasti menyakiti calon suaminya dan selama ini dia hanya memendamnya saja.


Ani membulatkan tekad akan melupakan Ustadz kesayangannya, dia hanyalah masa lalu yang hanya boleh sesekali saja diingat tapi yang menjadi prioritas sekarang adalah Zainal, pria yang akan membersamai masa depannya.

__ADS_1


Para pramusaji datang dan menata pesanan Ani yang ternyata tidak banyak.


Hanya kimbab, bibimbap dan kimchi serta air putih.


Ani menaruh cincin dari ustadz Zainuddin di depan Zainal.


"Ini.... ku serahkan sama mas. Aku minta maaf...", kata Ani tulus dari hatinya.


"Mari kita mulai lagi semuanya. Anggap saja kita impas. Aku akan melupakan kalau mas Zein punya beberapa mantan dan mas Zein juga tidak boleh cemburu pada ustdaz Zainuddin lagi".


"Asal kamu bisa melupakannya...", Zainal masih merajuk rupanya.


"Iya aku janji... Aku akan menata niatku lagi. Menikah dengan niat beribadah pada Alloh taala. Semoga aku bisa menjadi istri yang baik yang bisa memuliakan suami dan keluarganya..."


"Amiiin...", bisik Zainal. "Aku juga jauh dari kata sempurna jadi tolong ingatkan aku jika aku salah. Aku juga akan berbenah agar kita bisa jadi manusia yang lebih baik lagi. I am sorry". Kata Zainal penuh penyesalan.


Keduanya saling menatap dan tersenyum tipis kemudian melanjutkan makannya.


"Benar kata bang Alif. Rumah tangga yang retak itu bukan karena kekurangan cinta tapi karena cara komunikasinya yang salah. Satu sama lain hanya berpikir menurut cara pandangnya saja bukan menurut cara pandang pasangannya....", kata Ani mengingat nasehat bang Alif pada bang Lukman dan Laila saat mereka bertengkar.


"Lalu apa kata bang Alif?", Zainal yang mengidolakan bang Alif selalu antusias mendengar nasehat-nasehatnya.


"Apa ya...? Aku lupa. Aku cuma mencuri dengar saat bang Alif menasehati bang Lukman yang sedang bertengkar dengan kak Lala".


"Kamu ternyata suka menguping di?"


"Nggak sengaja dengar.... Kan aku juga harus belajar....", elaknya.


"Pasti kak Mia bahagia punya suami seperti bang Alif. Kalau saja aku perempuan aku pasti mau jadi istri kedua....", Zainal membayangkan yang aneh-aneh saja.


Tuk


"Aduh...", Zainal mengusap punggung tangannya yang dipukul Ani dengan sumpit.


" Mas Zein buka...n ga...y kan?"

__ADS_1


"Hei.... apa maksudmu? Tentu saja aku ini masih normal di!"


__ADS_2