Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
cemas


__ADS_3

Dokter Ani memeriksa denyut nadi bapak itu kemudian melihat infus dan mengatur tetesan infusnya.


Tatapan tajam dokter Ani membuat bapak itu langsung menunduk ketakutan. Bukan hanya itu, dokter ani kemudian mencondongkan kepalanya lalu berbisik di telinga sang bapak" Kalau bapak berani keluar dari pintu itu aku akan mencarimu sampai dapat dan mengembalikanmu ke rumah sakit ini, ke ruang mayat "


Ia mengangkat kepalanya, berdiri tegak dengan gaya khasnya, memasukkan tangannya disaku dengan menyisakan ibu jarinya di luar saku jas dokternya.


"MENGERTI?" gertaknya membahana ke seluruh ruangan, memberi peringatan sekaligus ancaman


Orang itu menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan menunduk. Raut wajahnya ketakutan dan kesakitan karena pergelangan tangannya sangat nyeri.


Dokter ani berjalan keluar dari ruangan itu sambil meniup rambut poninya yang sedikit berantakan. Bersamaan dengan itu rina masuk ke ruangan tersebut untuk mengembalikan gadis kecil yang ada digendongannya.


"Mohon maaf atas keributan tadi" kata rina sambil sedikit membungkukkan badan, minta maaf kepada semua orang.


Rina pun memberikan kartu nama kakaknya pada ibu tadi sambil berkata, "Ibu bisa menghubungi nomer ini jika butuh sesuatu. semua biaya akan kami tanggung jadi ibu tidak perlu khawatir, ok?"


Ibu itu mengangguk-angukkan kepalanya sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali. Rina meninggalkan ruangan perawatan kelas tiga itu sambil tersenyum setelah sebelumnya mengacak-acak rambut gadis kecil yang kruwel-kruwel itu.


.

__ADS_1


Sementara itu, dr. ani yang sudah berada di resepsionis menoleh ke pintu masuk rumah sakit. Ia merasa seperti melihat orang yang beberapa hari ini ada dalam pikirannya.


"Dokter...!"


"iya ", ia menoleh ke arah beberapa perawat yang kini sedang memperhatikannya.


" kok jadi nglamun. kenapa dok?"


" itu kayaknya....." kata-katanya terputus saat melihat para perawat itu sedang penasaran menunggu kata-kata berikutnya.


"nggak jadi, nggak ada apa-apa".


"yah dok..."


"itu dok, tadi ada pa..k zainal yang itu lho dok, yang waktu itu nyariin dokter ani dan ngasih kita donat itu lo dok. Tadi dia ngasih ini sama katanya biayanya bapak tadi akan dibayar oleh perusahaannya. Terus minta kita buat menghubungi nomer ini" , kata tini sang resepsionis sambil menyerahkan kartu nama zainal pada dokter ani.


Mendengar nama Zainal disebut, jantung dokter ani berdebar-debar, hatinya berbunga-bunga tapi ia berusaha agar tidak nampak tersenyum di hadapan teman-temannya,stay cool lah. Ia kemudian menerima kartu nama zainal meski ia juga sudah punya.


" Biar saya yang menghubunginya", katanya sambil bergegas masuk ke ruangannya.

__ADS_1


Rasa lapar itu hilang ketika mendengar nama zainal


Saat masuk ke dalam ruangannya ia langsung tersenyum. Pikirannya melayang-layang. hatinya bahagia, ia yakin Zainal datang ke rumah sakit ini untuk bertemu dengannya dan mungkin melihat kejadian di ruang rawat inap tadi.


Wajah yang tadinya terlihat bahagia tiba-tiba menjadi cemas. Ia menggigit ujung jarinya sambil berjalan mondar mandir.


'Dia pasti ill feel liat aku kayak gitu tadi'


'dia datang kesini untuk bertemu denganku kan?'


' tapi langsung cabut nggak nemuin aku dulu'


' apa dia langsung benci sama cewek galak kayak aku?'


'terus aku harus gimana?huhuhu....'


ia berbicara pada dirinya sendiri, sampai ia dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Detik kemudian pintu langsung dibuka dari luar.


"siang dokter, boleh saya masuk?" kata rina yang langsung menyelonong masuk tanpa menunggu persetujuan penguasa ruangan itu.

__ADS_1


"nggak boleh," kata dr. ani


" eh... aku datang bawa makanan lho, maska nggak boleh masuk. Aku tau kakak belum makan, belum solat. makanya aku beliin ini" " katanya sambil menyodorkan sebungkus makanan pada kakaknya. "maaf aku tadi makan duluan sama gadis kecil tadi", lanjutnya


__ADS_2