
" Sudah semua?" Bang Alif melihat satu persatu orang-orang yang ada di rumahnya. Kali ini bang Alif memakai kemeja dan celana dengan kopyah bercorak deperti daun yang merayap. Kak Mia kali ini memakai longdress dengan kerudung senada. Sedangkan Lukman dan Karina memakai celana training dan baju olahraga kemudian ditutup dengan jaket kulit warna coklat tua.
"Sydah lengkap,..."Jawab lukman
"Ayo berangkat.....! baca ayat kursi ya....!" kata bang Alif kemudian bibirnya terlihat bergerak-gerak membaca ayat kursi. Ani, Zainal , Kak Mia, Karina dan Lukman pun mengikutinya, membacanya dengan pelan.
Pak Dirman yang sejak tadi duduk di teras rumahnya kemudian mendekat ke arah anak-anaknya yang sudah turun ke halaman.
"Ayah nggak mau ikut?" kata Karina sambil mencium tangan sang ayah.
"Nggak.... ayah yang nunggu rumah.... Ini mau pakai dua mobil?" pak dirman bertanya saat bang Alif mencium tangannya.
" Satu cukup kan? " tanya bang Alif sambil melihat Lukman.
"Cukup bang, aku naik motor sama Rina. soalnya nanti aku mau langsung ke toko. Nanti kalau pulang Rina baru ikut naik mobil" kata Lukman
"Zein naik mobilku nggak papa kan? biar ngirit bahan bakar juga mengurangi kemacetan." kata bang alif
"Iya nggak papa bang" Zainal yang terbiasa dengan fasilitas mewah rela mengikuti gaya hidup keluarga kekasihnya yang sederhana namun terlihat bahagia.
"Kalau mobil cantikku ini bisa muat banyak orang" kata bang Alif seperti sedang menyindir Zainal yang saat itu membawa Mercedes nya yang hanya muat sekitar empat sampai lima orang saja.
Zainal tidak merasa marah mendengar bang Alif berkata demikian. Ia menyadari memang betul apa yang dikatakan oleh bang Alif. Mobilnya mahal tapi tak bisa menampung banyak orang.
__ADS_1
Setelah semua bersalaman dengan pak Dirman mereka mulai naik ke kendaraan. Bang Alif di belakang kemudi dan Kak Mia duduk disampingnya. Sedangkan Zainal dan Ani duduk di bangku tengah.
"Sudah naik saja, nanti ayah yang nutup gerbangnya!" kata pak Dirman ketika melihat Karina berjalan tidak langsung naik ke motor Lukman . Ayahnya itu membelai kepala putrinya dan disambut dengan pelukan sayang dari sang putri.
Sepanjang jalan mereka yang sedang berada di dalam mobil terlihat begitu tenang mendengarkan seikh Sa'ad Al ghomidi yang sedang melantunkan surat Lukman. Bang Alif sepertinya hafal sehingga ia bisa mengikutinya dengan lancar.
Ditengah perjalanan Lukman yang sedari tadi berjalan di depan seperti menjadi petunjuk jalan tiba-tiba menurunkan Karina di pinggir jalan. Ia terlihat masuk ke gang jalan menuju satu kampung. Bang Alif pun berhenti di tempat Karina berdiri.
"Jauh nggak rumahnya? Kenapa nggak di jemput pakai mobil saja tadi?" bang Alif bertanya pada Karina yang sedang berdiri di pinggir jalan.
"Nggak tau tuh bang Lukman. Seharusnya tadi dijemput pakai mobil saja ya bang...?" kata karina
"Jemput siapa Di..?" tanya Zainal pada Ani
"oh... mereka tinggal disini? kamu sering kesini Di?" Tanya Zainal lagi.
"nggak sering juga sih...." Jawab gadis yang hari ini nampak lebih cantik dari biasanya.
Sebenarnya Zainal penasaran ada hubungan apa sebenarnya Laila dengan keluarga kekasihnya itu tapi dia tidak bertanya lebih jauh . Toh akhirnya nanti akan tahu juga, pikirnya.
Beberapa saat kemudian Lukman terlihat sedang membonceng Laila dibelakangnya.
"Oh.... pantes .... nggak boleh dijemput pakai mobil " kata bang Alif melihat Lukman yang sedang melihat Laila turun dari motornya Lukman
__ADS_1
"Iihhh matanya...." Mia menutup mata suaminya dengan tangannya. "Kalau lihat yang aduhai langsung lupa istri yang duduk disamping ya...!" katanya kesal pada sang suami karena melihat bodi Karina yang super seksi meskipun baju yang dipakai Laila sekarang lebih panjang dan longgar. Bagian tubuh depan dan belakangnya masih saja terlihat sedap dipandang mata terlebih oleh kaum adam.
"Nggak ada kayak gitu yank.... cuma kamu yang bisa bikin hatiku dag dig dug.... " Gombalan bang Alif cek...
"Masa....?" Kak Mia mencebik seakan tak percaya.
Bang Alif meletakkan telapak tangan istrinya didadanya. Mata mereka saling berpandangan mencoba menyelami hati berbalut raga yang berdetak indah karena simphoni cinta yang menggema.
Assek...
"Percaya nggak?" bang Alif bertanya dengan mata indahnya yang bisa menghipnotis siapa saja yang memandangnya.
Kak Mia tak sanggup mengeluarkan kata karena tatapan mata suaminya yang selalu membuatnya berdebar. Ia hanya tersenyum sambil mencubit pinggang sang suami kemudian memalingkan mukanya ke jendela kaca disebelahnya untuk menutupi rasa malu dan bahagianya.
Zainal yang melihat hal itu ikut senyum-senyum tak jelas. Ternyata bang Alif juga pernah marah-marahan, ambek-ambekan, rayu-rayuan. Kirain selalu adem ayem nggak pernah berselisih paham.
*Namanya rumah tangga pasti ada saja selisih paham zainal. Sealim apa pun orang nya kalau masih hidup ya pasti ada masalah.*
"Zein pindah ke belakang nanti sama Doni nggak papa ya?" bang Alif bukan sedang bertanya tapi lebih seperti menyuruh secara halus.
"Iya bang...." Zainal menurut tanpa bantahan.
Karina membukakan pintu untuk Laila sedang Lukman mengendarai motornya masuk kembali ke dalam gang hendak menjemput Doni adik Laila.
__ADS_1