
"La.......?" Lukman yang kini duduk di ruang tamu sendirian memanggil Laila dengan suara pelan. Di rumah itu sekarang hanya ada mereka berdua karena Lukman menyuruh Ani dan Zainal mencari kue-kue sebagai hidangan walimah kecil-kecilan. Sedangkan Doni disuruh mengundang ketua RT dan beberapa warga untuk menjadi saksi pernikahan nya.
Lukman juga sudah menelepon ayahnya dan mengatakan kalau dia akan menikah kemudian memintanya untuk datang kerumah Doni bersama dengan bang Alif dan karina . Bang Alif sudah ditelpon berkali-kali tapi tidak diangkat juga.
Laila berjalan ke ruang tamu agak ragu, ia seperti mendengar Lukman memanggilnya "La" itu hanya perasaannya saja atau apa. Ia bersandar di pojok tembok sambil melihat punggung Lukman yang kini duduk menghadap ke arah jendela, tak berkata apa-apa, takutnya ia salah dengar
Lukman yang merasakan kalau Laila sudah mendekat kemudian bertanya
"kau minta mahar apa? jangan yang terlalu mahal karena aku bukan orang kaya." Ia duduk condong kedepan dengan menumpukan kedua siku diatas lutut-lututnya sementara kedua jari jemarinya saling menaut ditengah.
"terserah...."jawab laila datar. bibirnya melengkung membentuk senyuman karena mendengar nada suara Lukman yang lembut dan terdengar merdu ditelinganya
"kau harus tahu..... aku ini bukan orang kaya. Aku hanya seorang petani di desa dan punya toko kecil yang hasilnya tak seberapa. Aku tidak bisa menjamin kehidupan yang melimpah seperti yang kau inginkan. Tapi aku akan berusaha memenuhi kebutuhan kalian. Kau tahu kan petani itu baru punya uang saat panen saja? Apa kau bisa hidup seperti itu?" Lukman yang biasanya hanya bicara sepatah dua patah saja ketika bersamanya, kini berbicara panjang lebar dengan bersahaja tanpa menoleh untuk melihat lawan bicaranya
"iya...." jawab laila singkat. Mungkin benar cinta itu buta sehingga Laila yang punya obsesi untuk menikah dengan orang kaya kini lenyap begitu saja. Laila kini rela sepenuh jiwa untuk menikah dengan pemuda yang biasa-biasa saja yang kini sedang memunggunginya. Pria yang temperamennya buruk. Bahkan Lukman juga sering memarahi dan membentaknya tapi Laila seakan sudah terpesona tingkat akut. Ia merasa yakin kalau Lukman akan menjadi suami yang baik untuknya.
Mereka saling diam karena tidak tahu harus bicara apalagi tapi masih ingin bersama meski mata tak saling menatap . Hanya merasakan atmosfer yang luar biasa dengan debaran-debaran yang menggila karena menghirup udara yang sama.
Lukman mengangkat telpon disakunya yang bergetar karena ada panggilan. Nama bang Alif terpampang disana.
"assalamualaikum Bang...."
"hah.....hah..hah...hah... waalaikumsalam hah...hah... warahmatullah"
__ADS_1
"Abang kenapa bang.. ? Lukman khawatir mendengar suara bang Alif yang seperti abis beralirian.
"hah.... nggak papa. huft ....ada apa kamu tadi telpon?"
"Abang baik-baik saja bang?" Lukman masih bingung karena suara abangnya terdengar aneh.
"iya nggak papa. Aku baik . Ada apa kamu tadi telpon?" tanya Bang Alif sambil mencoba merilekskan nafasnya yang masih saling berkejaran.
"Aku mau menikah Bang. Abang datang ya ke rumah Doni!"
"menikah? maksudnya.....huft.... hmhm...muah.... makasih sayang..."
" Bang... Abang lagi ngapain sih....?" Lukman sepertinya mulai mengerti apa yang baru saja dilakukan oleh abangnya
"hih.... Baru jam segini juga . pokoknya cepat kesini . Aku menikah malam ini juga....!" kata Lukman
"agak lama ya . aku mau keramas dulu"
tuuut..... telpon langsung dimatikan oleh bang Alif.
"keramas.....? astaghfirullahaladzim bang..... ini baru jam berapa sudah tandang saja....."
"kenapa?" tanya Laila yang masih berada di belakang Lukman.
__ADS_1
Lukman menoleh kearah suara. Ia lupa jika Laila ada di belakangnya.
Tap
mata mereka bersirobok dan keduanya langsung memalingkan mukanya malu-malu seperti sepasang remaja yang sedang jatuh cinta.
"nggak papa. Bang Alif tadi abis mijitin kak Mia". Lukman menoleh ke belakang lagi. Hanya beberapa detik saja ia mengamati Laila
"cuci mukamu! orang-orang akan mengira kalau aku memaksamu jika melihat mata sembabmu" katanya sambil melihat ke arah pintu
"ehem..... aku ngganggu nggak?" Doni tiba-tiba datang kemudian dia duduk didepan Lukman
"lagi ngomongin apa sih Bang seru amat....." tanya Doni sambil senyam-senyum karena melihat kakaknya dan calon kakak iparnya seperti sudah baikan setelah tadi mereka bertengkar hebat.
ctak.... !!! jari-jari Lukman rasa-rasanya ketagihan menyentil dahi Doni. Ia seperti seorang psikopat saat melihat Doni meringis kesakitan
"ishh abang.....!! sakit!"
"rasain!" kata Laila ikut berbahagia melihat penderitaan adiknya
"kalian berdua.....?" Doni menunjuk Lukman dan Laila baergantian.
"apa?!?" Lukman mendelik kan matanya menantang calon iparnya.
__ADS_1