
Semua orang hilir mudik menikmati pesta yang sedang berlangsung di gedung yang megah itu. Pesta pernikahan dokter Ibrahim dengan Karina.
Seorang gadis cantik yang memakai jilbab senada dengan baju yang dikenakannya tampak duduk memandang sekelilingnya. Dari Warna baju yang dipakainya orang langsung tahu jika dia adalah anggota keluarga pengantin.
Seorang pria yang sejak tiba di tempat itu mengamatinya, kini nampak berjalan mendekati tempat duduk gadis itu. Ia sangat keren dengan postur tubuhnya yang tinggi meskipun tidak kekar tapi ia terlihat sangat maskulin. Wajahnya khas Indonesia dengan kulit coklat matang dan senyum khasnya. Ia Memakai kemeja berwarna hitam, celana dan sepatu yang senada ditambah bulu-bulu yang menghiasi wajahnya ia semakin terlihat matang dan mapan.
Zainal berdiri di belakang Ani, mengamati gadis itu sekali lagi dari jarak yang lebih dekat. Zainal menangkap raut wajah datar pada diri Ani yang menatap ke sembarang arah seperti mencari atau menunggu seseorang.
"Boleh aku duduk di sini?" Tanya Zainal sambil memegang kursi yang berbalut pita di sebelah Ani. Gadis yang sedang asyik dengan alam pikiran dan dunianya sendiri di tengah hiruk pikuknya manusia itu terperanjat sambil memegang dadanya.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim.... Ya Alloh .... kaget aku..." Kata Ani sambil memegang dadanya.
"Maaf...." kata Zainal sambil duduk meski belum dipersilahkan.
"Semua orang sedang menikmati pesta kenapa malah termenung sendiri. Sedang menunggu seseorang?" Zainal menoleh ke samping melihat wajah gadis yang duduk tak jauh darinya.
"Apa aku mengganggu?" Zainal menunggu jawaban karena tak ingin Ani merasa terbebani dengan kehadirannya.
Mereka saling bertatapan selama beberapa detik kemudian secara bersamaan mereka saling memalingkan muka ke arah depan.
__ADS_1
Panggilnya kakak ya?- Zainal
Aduh... kenapa bisa kelepasan panggil kakak sih...- Ani
Suasana diantara keduanya hening meski di gedung itu suara musik mengalun syahdu dan suara manusia saling bersahutan. Hal itu membuat keduanya serasa berada di tempat asing yang sepi. Keduanya sama-sama diam dengan pandangan mata menyapu ke berbagai arah.
Zainal sudah mendengar kabar tentang meninggalnya calon suami Ani dan dia sedikit merasa bersalah karena ia justru bahagia saat mendengar kabar itu. Tapi ketika tahu Ani ternyata cukup terpukul dengan kepergian calonnya itu ia jadi sedih lagi dan tak berniat mendekatinya lagi. Ia menguatkan dirinya sendiri agar tidak datang pada Ani meski ia tahu jika gadis yang masih menempati ruang di hatinya itu sudah kembali ke rumahnya lagi dan tak lagi mengabdi di pesantren di kaki gunung yang jauh di sana.
Zainal kerap mengorek cerita dari Karina dan Lukman, sesekali juga lewat bang Alif mengenai keadaan Ani. Miris sekali hatinya saat tahu bagaimana keadaan Ani saat calonnya meninggal. Sampai sakit berhari-hari. Tak mau makan dan minum sampai dirinya harus masuk rumah sakit beberapa kali padahal dia adalah seorang dokter yang biasanya mengobati pasien dan memberikan dorongan dan motivasi kepada mereka agar segera sembuh dan selalu hidup sehat.
__ADS_1
Dan ketika musibah itu datang kepadanya dia sendiri tak bisa menahan kesedihan itu sampai keluarganya bersikeras membawanya pulang kembali karena keadaanya yang sangat memprihatinkan. Ternyata Ani tidak mau kembali ke rumahnya jika bu Jannah, calon mertuanya itu tak ikut pulang dengannya. Ia ingat wasiat mendiang calonnya yang menitipkan ibunya pada Ani agar menyayangi dan menjaganya.
Akhirnya bu Jannah mau ikut bersama Ani dan kini tinggal bersama di rumah bang Alif.