
Karina mengerucutkan bibirnya melihat pemandangan di seberang kaca. Ia iri dengan kakaknya yang tampak bahagia dengan pacarnya.
sedangkan Orang yang berdiri dibelakang karina juga merasa iri pada sang pria yang sedang duduk bersama Ani. Hatinya sakit karena Ia sudah mendekati Ani sejak lama tapi Ani tak meresponnya.
" Pingin ya?" terdengar suara dari balik punggung Karina. karina yang kaget langsung mengarahkan sikunya ke belakang dengan keras.
" Auwww....." dr ibra meringis kesakitan sambil memegang perut dengan kedua tangannya. "ka..u shhshh..." ia membungkukkan badannya karena rasa sakit yang amat sangat. Gila... gadis kecil ini.... kenapa dia bisa punya kekuatan seperti itu, batinnya.
Karina hanya menoleh sebentar untuk melihat wajah orang yang membuatnya kaget itu. Ia tak sadar jika sedari tadi Ibrahim berdiri di belakangnya melakukan hal yang sama dengannya, mengintai dua sejoli yang sedang duduk di taman.
Karina berjalan begitu saja meninggalkan dr ibrahim yang masih kesakitan
" hei gadis kecil kau tidak mau tanggung jawab?" Ibrahim berteriak pada karina yang tak menghiraukannya
" Aahhh... sakit..... " Ibrahim memegang perutnya sambil berteriak lebih keras lagi sehingga membuat orang-orang memperhatikan mereka.
" dasar dokter gila...!" kata karina dengan menggeretakkan giginya. Kakinya berjalan lebih cepat dengan langkah lebar lebar. Kedua tangannya mengepal. Ia sungguh geram dengan tingkah dokter gila itu. Bisa-bisanya pagi-pagi begini bikin keributan. Kalau bukan anak pemilik rumah sakit ini, sudah ku engek-engek lehernya itu, Karina membual dalam hatinya.
Dalam bayangan ibrahim, karina akan berbalik kemudian menghampirinya dan memapahnya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. karina malah sedikit berlari meninggalkannya.
"ehem...ehem" Ibrahim berdehem sambil menegakkan badan dan membenarkan jasnya. Ia bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Ia berjalan sok cool seperti biasanya. Padahal ia malu setengah mati karena tidak dihiraukan oleh gadis kecil itu di depan umum. Mukanya yang putih terlihat merah karena kemarahan yang dipendamnya.
__ADS_1
"Aku akan membuatmu bertekuk lutut dan mengemis cinta padaku gadis kecil...... berani beraninya kau mempermalukanku di depan umum," Ibrahim bergumam sambil menuju ke ruangannya. Sesekali ia mengelus perutnya yang terasa nyeri.
Para staf yang melihatnya mulai kusak-kusuk setelah Ibrahim sudah tak terlihat.
" Apa dr Ibra menyukai karina?"
" masak si ah.... bukannya dr ibra menyukai dr Ani?"
"Nggak mungkinlah... lihat aja badannya dr ibra besar kayak gitu masak suka karina yang badannya kecil kek gitu" sahut yang lain
" shut shut shut ada rina ada rina" kata salah salah satu dari mereka menyuruh teman-temannya itu tutup mulut saat ia melihat kedatangan karina
"iya " jawab rina yang sudah siap pulang dengan tas yang diselempangkannya.
kringgg.... kringgg.... telpon resepsionis berbunyi mengalihkan perhatian mereka
" rumah sakit seger waras, selamat pagi?"
" dr ibra?"
"baik dokter..."
__ADS_1
"riiinn.... disuruh dokter ibra ke ruangannya sekarang!" kata nikma salah satu resepsionis rumah sakit
"sekarang waktuku pulang lho mbak nik"
" ya protes ke dr ibra sana jangan marah ke aku..." nikma menjawabnya dengan sewot karena ia iri pada karina. Tadi ia melihat dr ibra yang sedang berjalan tiba-tiba berjalan menuju ke arah karina yang sedang berdiri di depan kaca pembatas rumah sakit, kemudian berdiri di belakang karina cukup lama
"ughh.... dasar dokter gila tidak tahu diri. Kalau seandainya aku diberi kesempatan untuk menganiaya seseorang, akan kupatahkan lehernya. Beruang genduuttt.... awas kau ya. eghh...." Karina mengacau sendiri di sepanjang jalan menuju ruangan dr ibrahim. Tangan kanannya mengepal kemudian ia memutar-mutarkannya pada telapak tangannya yang sebelah kiri.
Karina hanya berani uring-uringan di belakang Ibrahim tapi ketika bertemu secara langsung, nyalinya langsung ciut. Ia akan terdiam seribu bahasa di depan Ibrahim.
Akhir-akhir ini ia seringkali berbicara sendiri saat ia sendirian dalam kamar atau saat ia berada di kamar mandi. Ia membayangkan seolah-olah Ibrahim ada di depannya dan Karina memaki-makinya sepuasnya. Membayangkannya saja hatinya merasa cukup lega tapi begitu kembali ke dunia nyata hilang sudah semua kata-kata yang sudah disusunnya sedemikian rupa.
Ia tak berkutik di depan big bos nya itu. Paling jauh, dia hanya bisa memberi tatapan mata yang tajam dengan bibir yang mengerucut saat Ibrahim memberinya perintah yang tidak masuk akal. suaranya sendiri seakan tercekat di tenggorokan.
tok tok tok, karina mengetuk pintu ruangan dr ibrahim
" masuk..!"
Karina masuk dengan muka juteknya. Ia sudah mengantuk dan ingin segera pulang untuk beristirahat tapi dr gila itu malah ingin mengerjainya. karina hanya berdiri menunduk sambil memegang tali tas slempangnya
"perutku sakit sekali, kau harus tanggung jawab!" kata Ibrahim sambil memegang perut dengan kedua tangannya
__ADS_1