Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
ish


__ADS_3

Beberapa hari setelah itu Ani sudah kembali bertugas di bawah gunung Merapi dan Merbabu. Siang itu


"Dok..... tolong saya dok! ini sakit sekali..!!! Aagghhh sakiit. ...shshsh.." Pak Kardi menjerit sambil memegang perut kanan bagian bawahnya.


"Bapak silahkan berbaring dulu, saya akan periksa..."


Ia berjalan menuju bed di tuntun oleh istrinya sambil mendesis kesakitan.


"Keluhannya bagaimana pak ?"


"Anu bu dokter, demam, terus nggak mau makan karena perutnya sakit katanya " istrinya menjawab pertanyaan Ani.


"Saya periksa dulu ya pak... kakinya diluruskan dulu " Ani meminta pak Kardi yang sedang miring ke kiri sambil memegangi perutnya agar berbaring terlentang.


"Mual muntah?" tanya Ani sambil menekan perut kanan bawah pak Kardi. Suhu badannya memang panas.


"Aaa.... sakit dokter....!" ia berteriak saat Ani melepaskan tangannya


Diagnosis Ani sementara adalah apendiksnya pecah dan harus segera ditangani. Jika memang setelah tes laboratorium nanti hasilnya benar maka harus segera dioperasi untuk mengangkatnya agar tidak menimbulkan infeksi lain di dalam perut.


"Bu... dugaan sementara saya adalah usus buntu. Jika benar harus segera dioperasi karena ini cukup berbahaya " Ani menjelaskan setelah duduk di kursinya dan istri pak Kardi duduk berhadapan dengannya.


" Nggak ma...uuu sshhh sakit.... obat her.. bal sa..ja... shsh.." Pak Kardi menolaknya.

__ADS_1


"Dikasih obat saja dok nggak usah operasi..." Sang istri juga punya pemikiran sama dengan suaminya.


" Ini sudah sangat parah menurut saya. Tapi untuk lebih memastikan tentu saja harus dibawa ke rumah sakit untuk melakukan beberapa tes terlebih dahulu".


"Tapi dok nanti disuntik....!"Istri pak Kardi bingung sepertinya.


"Pokoknya nggak mau ke rumah sakit. titik... shhhsshh....." Pak Kardi berteriak kemudian mendesis kesakitan.


"Saya beri obat untuk mengurangi rasa nyerinya tapi itu tidak akan bisa bekerja dengan sempurna pak. Bapak akan kesakitan lagi nanti dan itu bisa berakibat fatal" Ani mencoba meyakinkan.


"Sakittt ini sakiiit....."


"Ke rumah sakit ya pak!" Istri pak Kardi mendekat pada suaminya dan mencoba meyakinkan suaminya.


" Jangan dilihat pak. Rasanya cuma kayak digigit semut kok.... Tapi setelah itu bapak nggak sakit lagi. Bagaimana?" Ani ikut menimpali.


Setelah pak Kardi setuju Ani menghubungi pihak pondok yang mengurusi transportasi agar mengantarkan Pak Kardi ke rumah sakit dengan membawa surat pengantar darinya.


Brakkkk....!!!


Pintu yang tadinya kututup tiba-tiba dibuka dengan keras.


Dari balik pintu ternyata Ustadz Zainuddin tengah berdiri sambil terengah-engah. Ia melihatku dengan panik.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanyanya dan itu tentu saja membuat Ani bingung.


"Maksudnya?" Ani balik bertanya.


Ustadz Zainuddin melihat ke arah pak Kardi yang sedang berbaring sambil mengerang kesakitan.


" Pak Kardi mau dibawa ke rumah sakit. Kakak bawa mobil?"


Ustadz Zainuddin tidak menjawab pertanyaan Ani malah dia membungkukkan badannya sambil memegang perutnya dan mengatur nafasnya. Dia seperti habis berlari jauh dan kini ia nafasnya tersengal-sengal.


Ani mendekat pada calon suaminya itu dan memasukkan kedua tangan disakunya.


"Kakak kenapa?" Ani masih merasa geli saat memanggil calonnya itu dengan sebutan kakak.


Ustadz Zainuddin lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Ani. Dia menegakkan tubuhnya kemudian berjalan ke arah luar dan duduk di bangku panjang tempat pasien menunggu antrian.


"Aku takut kamu kenapa-napa dek...." Katanya sambil bersandar dan menengadahkan kepalanya ke atas.


Ani yang berdiri tak jauh darinya tersenyum dengan kekhawatiran ustadz Zainudin. Memang selama ini pak Kardi adalah orang yang paling menentang keberadaan dokter di desa ini karena dia adalah dukun dari sejak jaman dulu kala. Ia sering mengompori warga dan menjelek-jelekkan Ani agar tidak ada yang mau berobat padanya.


Karena itu pasien Ani tidak banyak dan kalaupun ada mereka adalah keluarga besar pondok dan beberapa warga yang sudah aktif mengikuti pengajian di pondok atau para pendatang di daerah situ.


Tidak berapa lama mobil pesantren untuk pak Kardi sudah berada di halaman kediaman Ani.

__ADS_1


"Ehem..... jaga jarak ustdaz.... Belum halal...!" kata sang sopir yang sedang bertugas pada ustadz Zainuddin dan Ani dan itu membuat keduanya tersipu malu.


__ADS_2