
Rumah pak Dirman tampak riuh sekali. Sejak pagi para wanita sudah sibuk memasak sedang beberapa lelaki yang biasanya membantu di sawah dan kebun Lukman kini diminta untuk ikut membantu di rumah itu . Beli sesuatu keperluan ke pasar atau ke gudang tempat sayur-sayuran di sortir dan dikemas. Di saat punya hajat seperti itu masih saja ada yang terlewati meski sudah di list dengan teliti.
Hari ini ada acara aqiqah untuk putra pertamanya Lukman dan Laila. Sejak pagi sudah di adakan acara tadarrus Al-Qur'an oleh para huffadz dan malamnya nanti akan di adakan solawatan.
Lukman sedang mencukur rambut putranya dibantu oleh bang Alif dan nantinya akan ditimbang. Beratnya akan di setarakan dengan harga emas kemudian akan di sedekahkan.
Kambing dipilih yang terbaik dari kambing-kambing miliknya yang di rawat oleh pak Dirman di belakang rumah. Ia juga mulai melayani jasa aqiqah kecil-kecilan Maryam lahir.
Lukman tetap berprofesi menjadi seorang petani dan sekarang sedang belajar untuk menjadi peternak juga. Ia tetap belajar mengenalkan produk pertanian organik dan layanan aqiqah nya di media sosial meskipun responnya belum seperti yang dia harapkan.
Meski ia sudah punya ilmunya tapi perkembangan zaman memaksanya untuk belajar bagaimana menggunakan media sosial untuk kemajuan usahanya.
Meski bisnisnya tak sebaik bang Alif yang kini sudah mulai menjangkau pasar luar negri bukan hanya lewat aplikasi jual beli semacam shoope dan lazada tapi lewat instagram kini berbagai accecories bang Alif yang sudah dipatenkan namanya sudah di ekspor ke beberapa negara. Jepang, Malaysia dan Australia dan Kanada.
Lukman tetap berupaya yang terbaik karena bisnis di bidang pertanian harus berani berkompetisi dan berani rugi. Siap di komplain pelanggan bila sayur yang datang sudah tidak segar lagi. Jika terkendala pengiriman maka sayuran akan layu dan yang lebih buruk lagi bisa busuk sehingga tidak layak jual dan harus dibuang.
Alhamdulillah nya ia sudah mulai mensuplay beberapa supermarket dan restoran yang menyediakan makanan organik yang akhir-akhir ini makin banyak diminati.
"Mas sudah belum?", Tanya Laila pada Lukman yang sedang menggendong Latif sambil membersihkan kepala anaknya dari rambut-rambut yang masih tersisa dan mengumpulkannya dalam satu wadah.
"Kenapa?", Lukman menoleh pada Laila dan langsung memelototkan matanya. Laila menggunakan kerudung persegi panjang yang hanya disampirkan di lehernya membuat lehernya terlihat dan buah dadanya yang kini makin tumpah ruah luber ke mana-mana semakin membuat orang yang lihat pasti menelan ludah karena gumoh.
"Bang tolong gendong El sebentar!", Lukman memberikan anaknya pada bang Alif yang sejak tadi membantunya mencukur rambut Latif.
"Panggilannya El sekarang?"- bang Alif.
"Tuh.... mak nya yang minta anaknya di panggil El. Bentar ya bang...!". Lukman memeluk pundak Laila dan membawanya ke dalam kamar.
"Mas... belum boleh! Aku kan masih nifas...."-Laila takut suaminya tiba-tiba ingin menerjangnya.
"Apanya yang belum boleh?". Ia melepaskan kerudung Laila.
" Ini mas mau apa ngajak aku ke kamar?".
"Memangnya aku mau apa?".
"Mas.... geli ah...". Laila mencoba menyingkirkan kepala suaminya yang ada di ceruk lehernya.
"Kamu sih....Cari kerudung yang lebar biar nggak kelihatan ini nya.... Gemes aku".
__ADS_1
"Mas geliii.... jangan bikin gara-gara deh!!. Banyak orang malu mas... Kalau aku teriak-teriak gimana?!". Sekarang ia mencoba melepaskan tangan Lukman dari dadanya.
"Tutupin ini nya. Ini barang khusus cuma buat aku aja. Nggak boleh ada orang lain yang lihat!". Tangannya Lukman sudah nakal saja.
"Tapi sekarang dibagi sama El dulu yah. Mas cuma boleh pegang nggak boleh dinikmati kayak biasanya...".
"Ini cuma punyaku sendiri. Aku nggak mau berbagi....", Tangan Lukman sudah tak terkendalikan.
"Ya sudah mas aja yang nyusuin El ya. Yang ini khu-sus buat kamu....".Kata Laila sambil melepaskan pelukan suaminya dan berjalan menuju lemari. Ia mengambil kerudung bego instan yang lumayan lebar.
"Yang ini gimana?".
"Ya sudah itu saja nggak papa... Kalau jalan bungkuk kayak gini ya!!". Ia membungkukkan badannya memberi contoh pada Laila.
"Ya Alloh... Sakit dong punggung aku mas....".
"Aku nggak rela ini dilihat orang lain", tangan Lukman gemas dibuatnya.
" Kan sudah tak tutupin. Semoga nggak ada yang lihat ya....". Laila mencoba menenangkan suaminya.
"Emh.... nggak rela. Kalau mau nyusuin langsung masuk kamar ya!!"
"Mas ambilin El dong! Biar aku susui dia. Luber-luber sampai basah ini!".
"Tok tok tok..."
" Kak Lala..!!!! Abang!!!", suara Ani sedikit berteriak.
Buru-buru Lukman keluar dari kamar. "Ada apa?".
"Ngapain sih didalam melulu. Orang pada repot juga sempet-sempetnya ya...!" Ani mengoceh memarahi abangnya.
"Ini urusan orang dewasa. Anak-anak nggak boleh tahu. Kamu juga sama kebelet kawin kayak Zainal ya An, marah-marah terus perasaan....."
"Plak"
Ani memukul lengan abangnya dengan keras karena mengatakan hal yang tidak-tidak.
"An! Jangan pukul-pukul suamiku ya! Kalau ada apa-apa bilang sama aku, biar aku yang pukul dia...". Laila mengusap lengan suaminya yang baru saja di pukul adiknya.
__ADS_1
"Kirain kamu belain aku yank.... Ternyata kamu mau bully aku. KDRT itu namanya yank...", kata Lukman memelas.
"Coba kak Lala pukul sekarang, aku mau lihat!". Kata Ani sambil melipat lengannya.
"Ya nanti lah...".
"Nggak percaya.... !". Kata Ani.
"Ngapain ramai terus itu?. Nggak dengar apa ada orang ngaji. Hormat sedikitlah!". Pak Dirman yang dari tadi melihat anak-anaknya ramai padahal di ruang tamu ada orang-orang yang sedang mengaji ikut buka suara.
"Abang ini yah....". Sungut Ani.
"Sudah-sudah!". Kata Pak Dirman kemudian melanjutkan sarapannya.
"Kamu tadi ngapain cari aku?" -Lukman.
"Astaghfirullahaladzim.... itu ditungguin orang dari Manna Salwa...", kata Ani.
"Ya Alloh... iya mas... itu sudah dari tadi nunggunya. Aku tadi mau bilang malah lupa....". Laila menepuk jidatnya.
" Ya sudah aku ke depan dulu. An....!! Tolong ambilin El biar disusuin sama bundanya!", kata Lukman sambil berlalu.
"Latif nya dimana kak?", tanya Ani pada Laila.
"El an... Panggilnya sekarang El. Tadi dia sama bang Alif."
"Iya El...". Jawab Ani menyenangkan ibu baru itu.
Laila melihat bu Jannah sedang menata makanan di atas meja sedangkan pak Dirman hampir menyelesaikan sarapannya. Ia tersenyum melihat keduanya yang nampak malu-malu. Timbul keinginan dalam hatinya untuk menyatukan mereka.
))))))))))))))))***************((((((((((((((((((
Aku semakin bersemangat untuk menulis lanjutannya dan segera menyelesaikan cerita ini karena sudah banyak yang baca meski masih sedikit yang meninggalkan jejak like atau komennya.
Tapi tak apa, semoga tulisan ini bisa menemani kamu yang sedang suntuk agar bisa bersemangat lagi. Yang sedih bisa bergembira lagi.
Buat NT yang sudah promosiin tulisan ini makasih banyak. Buat kamu yang sudah mampir , yang sudah kasih like dan juga kasih komen makasih buanyak ya... Untuk semua dukungannya aku ucapkan terima kasih. Jujur ketika di sandingkan dengan karya author-author yang berpotensi, gambar dr. Ani and family ini yang paling tidak menarik dan terlihat amatir sekali.
Makasih banyak semuanya!!!"
__ADS_1