Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
pelet


__ADS_3

Laila melihat Lukman berjalan berdampingan dengan seorang gadis cantik. Ia melihatnya sudah sejak mereka masuk ke dalam supermarket .Ia menyadari kalau ia tertarik pada pria yang penampilannya tampak culun itu tetapi dia masih saja terobsesi dengan pria yang kaya raya karena Ia sudah kenyang hidup susah.


Semenjak kedua orang tuanya meninggal karena kebakaran ia harus bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi dirinya dan adiknya.


Sebenarnya ia masih punya paman dan bibi dari pihak ayah maupun ibunya tapi mereka semua ada di perantauan dan hidup mereka juga biasa saja. Terkadang paman dan bibinya ada yang mengiriminya uang sekedarnya tapi ia langsung menggunakannya untuk membayar hutang-hutangnya.


Tanah tempat tinggal orang tuanya dulu adalah tanah warisan dari pihak ibu yang kemudian dijual dan dibagi dengan saudara-saudara ibunya. Sedangkan ayahnya tak memiliki apapun yang diwariskan padanya dan adiknya Doni karena rumah yang mereka tinggali dulu adalah hasil kerja keras ayahnya yang kemudian hangus terbakar hanya dalam waktu semalam saja. Orang-orang bilang itu terjadi karena korsleting listrik, entahlah.


Hari ini Doni tidak bekerja. ia pun tak mengirim pesan apa-apa padanya. Sejak pertemuan Doni dan Lukman waktu itu akhirnya Doni mau melanjutkan sekolah lagi. Lukman yang mengurus semuanya, administrasi maupun membayar tanggungan sekolah adiknya. Lukman juga menyuruh Doni untuk bekerja di stand tokonya yang ada di dalam supermarket TOP DW ketika malam hari. Jadi ketika sift malam dia bisa pulang bareng dengan adiknya.


Setelah laila menyelesaikan pekerjaannya diapun segera berjalan keluar untuk pulang. Barangkali Doni sudah menunggunya di luar.


Ia sengaja berjalan melewati Lukman dan gadis tadi dengan wajah ditekuk-tekuk. sebenarnya ia merasa cemburu tapi ia tak mau mengakuinya. Hatinya menggerutu mencoba menjelek-jelekan Lukman.


'Dia itu udah tua, culun lagi. Lihat saja bajunya norak kayak gitu. rambutnya juga klimis banget, mungkin dia pakai minyak rambut sebotol kali. Masa cewek cantik tadi mau sama dia, jangan-jangan dia pakai pelet.' Laila menggerutu dalam hatinya.


Ia berdiri di depan gerbang masjid yang ada di sebelah supermarket. ia masih berharap Doni akan menjemputnya. Ia tak berniat untuk memesan ojek online karena uangnya sudah tipis. Ia juga ingin melihat apa yang dilakukan Lukman dan gadis cantik tadi.


Cowok-cowok di seberang jalan yang nggak jelas menggodanya dengan bersiul-siul dan memanggilnya. Laila sama sekali tak menghiraukannya. Ia sudah sering mendapatkan perlakuan seperti itu tapi ia belum ingin merubah penampilan seksinya.


Ia mencoba menghubungi Doni lagi, mengirim pesan lagi tapi tak kunjung dapat balasan. Ia sempat melirik seseorang yang mengendarai motor sport berhenti sebentar di depan gadis tadi kemudian melajukan motornya meninggalkan gadis cantik itu.

__ADS_1


Deg.... apa itu bang lukman? Masak sih? nggak mungkinlah. Aku sering lihat cowok ini. Dia memakai jaket kulit yang menutupi tubuhnya, tas ransel di punggungnya, kakinya dibalut celana jeans, tangannya memakai sarung tangan dan memakai helm full yang menutupi mukanya. Ia sering keluar masuk supermarket tempatnya bekerja, dia terlihat sangat macho sekali nggak mungkin itu bang Lukman. Hatinya bertanya-tanya sambil berpura-pura melihat hapenya.


Tiba-tiba motor sport itu berhenti di depannya. Dia membuka helmnya dan ternyata benar itu Lukman.


"kemana Doni? Kenapa dia tidak masuk kerja?".


"Nggak tahu aku juga lagi nunggu dia".


Lukman kemudian turun dan memakaikan helm di kepala Laila.


" Naik ! aku antar ke rumahmu!"


" Aku nunggu Doni aja".


Lukman berkacak pinggang sambil melihat ke arah cowok-cowok pengangguran yang ada di seberang jalan kemudian menaiki motornya.


" Ayo naik!" kata Lukman dengan tegas tanpa menoleh ke arah Laila.


Lukman mulai menyalakan motornya karena Laila tak merespon ucapannya.


"Kau lebih senang disini , digoda cowok-cowok berandalan itu? " katanya sambil menarik tuas kopling dan memasukkan gigi pada posisi ke tiga.

__ADS_1


Laila segera memasukkan hp di tasnya kemudian segera duduk di belakang Lukman sambil memakai jaket kulit milik Lukman. Ia memilih duduk menyamping sambil berpegangan tas ranselnya Lukman.


Motor yang mereka kendarai berjalan menyusuri malam tanpa sepatah kata dari mulut keduanya. Sampai mereka melewati sebuah gang menuju rumah Laila tapi Lukman terus saja mengendarai motornya karena Laila diam saja.


Sampai 30 menit kemudian Lukman baru bersuara, " dimana rumahmu?". Ia membuka kaca helm teropongnya agar suaranya bisa di dengar Laila.


" Di kali deres" jawab Laila


"Di mana?"


" Di kalideres!!!" Laila berteriak disamping telinga Lukman


" Kenapa tidak bilang dari tadi?!!!" suara Lukman tak kalah kerasnya.


"Kau tidak tanya....!!!!" Laila berteriak lebih keras lagi.


Chiiiiiit.......!!!!!


Lukman tiba-tiba mengerem motornya secara mendadak dan itu membuat Laila spontan memeluk Lukman karena ia takut terjatuh.


"Lepas!" Lukman memukul punggung tangan Laila yang sedang melingkar di perutnya . Untung saja ada tas ransel di tengah mereka sehingga dada Laila tidak langsung menempel di punggung Lukman.

__ADS_1


"Kau itu..... bisa naik motor tidak?", kata Laila sambil melepaskan tangannya dari pinggang Lukman kemudian memukul lengan Lukman.


__ADS_2