Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
aqiqoh


__ADS_3

"Mau ada acara ya bang?"


"iya. Aqiqohnya Maryam.."


"Aku boleh ikutan hadir...?" Zainal serupa meminta tapi memaksa.


"Silahkan...! Tapi bakda isyak acaranya. Kamu nggak capek nunggunya?"


"Nggak papa bang aku akan nunggu. Aku nggak ada acara lain kok"


Bang Alif mengangguk kan kepalanya. terserah saja toh Ani tidak ada dirumah.


.


.


.


"ih ih ih......" Laila memukuli lengan suaminya gemas. Mereka seperti biasanya selalu saja ada yang diributkan. Keluarga memakluminya. Kalau mereka berdua saling diam justru semua orang menjadi bingung harus bagaimana. Jika Lukman dan Laila tidak saling berbicara berarti salah satu dari mereka benar-benar sedang marah.


"Enaknya ....kayak sedang dipijat..." Lukman memegang lengannya yang kena pukulan sayang dari laila, ia tahu jika istrinya tak bersungguh-sungguh memukulnya apalagi mau menyakitinya.


"Aku tau itu tanda cintamu padaku...." Lukman berjalan menuju ke ruang tamu rumah bang Alif dengan laila yang bergelayut manja di lengannya.


"iiihh.... narsis...." laila menghadiahi cubitan kecil di perut Lukman.


"Kamu jangan kayak ibumu nanti ya nak.... kamu harus jadi anak yang sabar...pintar..." Lukman mengelus perut istrinya yang sudah mulai membesar.


"Mulai...mulai... Emang ya mas.. kamu itu minta aku bantai...." Laila memukuli lukman lagi. Ia gemas pada suaminya jika sudah mulai mengatakan sabar dan pintar karena dia sadar kalau dia tidak sabaran juga tidak pintar.

__ADS_1


"kdrt ini yank..."


"Biarin..." Laila pura-pura kesal.


Saat sudah berada di ruang tamu yang sudah bersih dari meja dan kursi terlihat dua orang sedang duduk berhadap-hadapan. Lukman mengernyitkan keningnya menelisik orang yang ada di depan abangnya.


'seperti kenal, tapi siapa?'


" Pak Zainal...." Laila menyapa pria itu tanpa canggung. Ia bahkan sudah tahu kalau itu adalah wajah mantan atasannya.


"Zainal...?" Lukman masih agak ragu meski mendengar nama itu dari mulut istrinya.


" Apa kabar bang..?" Zainal bersuara dan Lukman masih ingat itu suara khasnya yang kalem dan menurutnya agak manja untuk suara seorang pria nggak ada ngebass-ngebassnya.


Lukman menoleh pada istrinya, hatinya tiba-tiba panas karena menyadari jika istrinya sangat mengenal Zainal meskipun wajahnya telah berubah. Ia ingat dylu istrinya pernah mengejar-ngejar Zainal. Laila yang tak menyadari perasaan suaminya berlalu masuk begitu saja ke ruang tengah sambil membungkukkan badannya dan memegang perutnya.


"permisi bang..." kata Laila saat lewat di belakang bang Alif.


' Begitu masuk keluarga ini Laila sekarang nampak berbeda. Sudah pakai kerudung saja. Beruntungnya kamu la...' Zainal membatin saat melihat Laila.


Zainal cemburu pada Laila yang dengan mudahnya masuk menjadi bagian dari keluarga bang Alif. Mata zainal juga melihat perut Laila yang sudah membesar. Sudah berapa bulan, pikirnya.


" Sudah berapa bulan bang?" tanya Zainal pada lukman


"hem.... bagaimana kabar orang tuamu Zein...?" Lukman tak menjawab pertanyaan Zainal lagi malah balik bertanya.


"papa sehat kalau mama ya begitu...."


Didalam rumah terdengar suara berisik antara suara para wanita dan piring serta sendok yang berdentingan. Menyiapkan jamuan makan sepertinya.

__ADS_1


Zainal berkali kali melihat ke arah tirai yang tertutup. Matanya tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Ani tidak pulang kalau kau mencarinya..."


"Ha.... tidak... aku tak mencarinya... "


Mulut dan hatinya sepertinya tak sinkron.


'Kenapa bang Lukman selalu tahu yang kupikirkan'


" Bagaimana dengan gadis-gadis yang dijodohkan dengan mu?"


"Abang tahu?" Zainal tersenyum.


"hem.,. aku mendengarnya dari ayah.."


"Sejauh ini belum ada yang menarik..." jawab Zainal


" Itu karena kau tidak mau membuka diri Zein..." kata Lukman.


"Entahlah bang...."


"Aku tahu kau itu mata keranjang. Kenapa sekarang jadi pilih-pilih begitu. Itu bukan gayamu..."


"Ya ya ya aku mata keranjang... tidak seperti abang yang hanya sekali saja jatuh cinta dan langsung menikah..."


Bang Alif hanya menjadi pendengar diantara mereka. Hubungan Lukman dan Zainal sudah seperti saudara saja. Tak dipungkiri sebenarnya Bang alif juga menyukai Zainal dan ingi dia jadi adik iparnya tapi ia tak mau menuruti hawa nafsunya.


"Bang apa aku boleh menentang mamaku yang memintaku untuk menikah. Tadi pagi mamaku memaksaku untuk menemui seorang gadis lagi dan tadi sore mama mengancam kalau akan melakukan aksi mogok makan jika aku tak bersedia menikahi gadis itu." muka Zainal tiba-tiba menjadi serius. Ia menatap bang Alif meminta jawaban.

__ADS_1


"solat istikharah Zein. menurut Imam Al Bukhari dan Imam Baihaqi Rasulullah saw mengatakan tidak akan rugi orang yang bermusyawarah dan tidak akan menyesal orang yang beristikhoroh."


__ADS_2