
Ani memperhatikan mereka, sedikit mencurigakan tapi ia tetap berharap tidak akan terjadi apa-apa dan semuanya akan baik-baik saja
.
ani mengetuk ruang praktek dr umum setelah memakai jas putihnya dan merapikan penampilannya, untuk oper shift dengan teman sejawatnya, dr. andi.
tok tok tok.....
"pagi dok..?" sapa dr ani
"pagi," dr andi menoleh sekilas pada sosok yang kini menjadi teman sejawatnya kemudian melihat jam di pergelangan tangannya. Masih kurang sekitar setengah jam sampai berakhirnya shift malam.
"Bisa di tinggal dokter, mumpung saya rajin. Jarang-jarang lho saya kayak gini," kata Ani. Pagi ini Ani dan karina berangkat lebih pagi karena karina mendapat hukuman dari dr ibrahim.
"jalan-jalan saja dulu dok, saya ingin menyelesaikan rekam medis ini dulu, dan saya masih punya dua pasien lagi pagi ini. Biasanya hari juma't pasiennya banyak dan dokter harus fit nanti, santai saja dulu
"ok , fine!"
Mereka terlalu canggung untuk bercengkerama layaknya teman sebaya karena mereka bukan dari fakultas kedokteran yang sama dan juga karena keduanya agak menjaga jarak sehingga suasananya selalu formal. Lagipula mereka hanya bertemu saat pertukaran shift, pertemuan para dokter dan ketika ada seminar saja.
__ADS_1
Ani kemudian berjalan ke tempat resepsionis untuk melihat lalu lalang di rumah sakit itu. Ia menaruh sebelah lengannya diatas meja resepsionis yang tingginya mencapai dada orang dewasa. Ia menyapa para staf yang ada disitu. Saat ia menoleh ke luar matanya melihat seseorang yang kini spesial di hatinya sedang berjalan ke arah pintu masuk dengan menenteng sesuatu. Ia melihatnya dan tak bisa menahan senyumannya.
Zainal yang melihat sosok kekasihnya pun tersenyum . Cantik dan energik, batinnya. Rambutnya yang panjang sebagian di biarkan tergerai ke belakang dan sebagian lainnya di biarkan di depan dada. Dan ada poni di keningnya. Mereka saling berbalas senyum lupa dengan keadaan sekitarnya.
Ani langsung berdiri tegak dengan menautkan kedua jemarinya dibelakang badannya ketika Zainal sudah sampai didepannya. Zainal menunjukkan tas yang dibawanya pada Ani yang tampak salah tingkah.
"Bisa kita sarapan bersama?" tanya zainal
Ani mengembungkan pipinya karena ia telah sarapan di rumah, tapi merasa tak enak hati jika menolaknya.
"Ehm.... sudah sarapan ya. Temani mas saja gimana?"
" kalau di taman saja gimana?" tanya Ani
" its a good idea" jawab zainal
Mereka pun berjalan ke luar hendak menuju taman rumah sakit. Tapi pandangan Ani teralihkan dengan sosok yang memakai topi dan sedang mendorong seorang pasien yang tampak lemah dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya , hanya tampak mukanya saja.
Orang yang memakai topi berjalan tergesa-gesa sambil menoleh kebelakang dan ia tampak ketakutan
__ADS_1
"Mas bisa tunggu aku didepan kan?" tanya Ani pada Zainal
zainal menganggukkan kepalanya dan segera berjalan ke arah pintu untuk keluar menuju taman.
.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya ani pada si pendorong kursi roda. Ia melihat orang yang duduk di kursi roda tampak meringis kesakitan, tangan kanannya memegang pinggangnya. sedangkan Ditangan kirinya masih tampak plester bekas infus yang kelihatannya dicabut dengan paksa
" Kami mau ke taman sebentar untuk mencari angin dokter", ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan gugup
Ani menatapnya dengan penuh selidik karena ia belum pernah melihat pasien itu
" Kenapa infusnya harus di lepas?"
"Dokter ku mohon. izinkan kami keluar sebentar ! aku janji akan segera membawa temanku kembali nanti." Ia pun memaksa mendorong kursi roda itu keluar
Dari kejauhan Ani melihat dua pemuda yang berlari . Salah satunya nampak sedang menelpon. dan tak lama kemudian terlihat seorang temannya muncul dari ruangan pasien dan berlari menyusul keduanya. Mereka bertiga adalah pemuda yang dilihatnya tadi.
Ani mengamatinya dari jauh kemudian menoleh ke pasien di kursi roda tadi. Ani mengambil ikat rambut di sakunya kemudian mengikatnya tinggi-tinggi.
__ADS_1