Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Rasa yang lain


__ADS_3

ANI


Mata kami bersitatap sekejap lalu kami saling memalingkan pandangan ke arah lain. Aku melihat jalanan dan mas Zainal melihat kebawah memainkan sepatunya. Kami sedang berdiri di halaman yang kiri kanannya terdapat berbagai tanaman. Aku mengambil jarak kira-kira satu meter agar tak terlalu dekat dengan mas Zein.


"Apa kabar?" nadanya sungguh menggetarkan hatiku. Serak seperti menahan rasa marah dan sedih.


"Baik. Mas Zein sendiri?" Aku tetap memanggilnya mas karena kebiasaan kami dulu meskipun aku lebih tua darinya.


"Kau mencintainya di? Apa kau bahagia dengannya...?" Ia tak menjawab pertanyaanku malah balik bertanya padaku.


Aku meliriknya dan mencoba menerka apa yang sedang dipikirkannya.


Karena aku tak segera menjawab pertanyaannya ia menoleh padaku sehingga membuatku refleks menoleh padanya juga sehingga mata kami saling bertemu.


Aku tak langsung memalingkan pandanganku karena ingin menelisik pikirannya. Pria yang pernah mengisi hari-hari ku itu memandang ke depan dengan kedua tangan yang ditautkan dibelakang tubuhnya. Mungkin karena bulu-bulu yang menutupi wajahnya ditambah topi diatas kepalanya semakin membuat ku tak bisa menebak jalan pikirannya.


"Haha... iya... harusnya aku tahu kau bahagia. Aku ini apalah.... tak sebanding dengannya. Ibaratnya dia langit dan aku ini bumi..." Katanya menjawab pertanyaannya sendiri sambil menundukkan kepala.


"Mas Zein ini ngomong apa sih....? Kenapa harus membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Setiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kenapa harus merendahkan diri seperti itu..." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.


"Memang kenyataannya seperti itu..." katanya dengan lesu.


"Sebenarnya aku kemari karena mama sudah merestui kita tapi malah aku yang dapat kejutan luar biasa disini. Kenapa takdir mempermainkan kita seperti ini?" Suaranya bergetar. Apa mungkin mas Zein menangis?


Aku tak menanggapi kata-katanya karena itu terdengar seperti menyudutkanku seolah akulah disini yang bersalah dan membuatnya menderita.


"Semoga mas Zein juga segera bertemu dengan gadis yang baik dan ..." Ia memotong ucapanku sambil berlalu.

__ADS_1


"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu di....". Aku mengamatinya dari belakang ia tampak mengusap wajahnya dengan kedua tangannya kemudian segera menuntun sepedanya dan ketika sudah sampai di luar gerbang dia segera menaikinya sepedanya.


Padahal aku berharap dia menoleh padaku sebelum dia pergi tapi ia sama sekali tak menolah ke arahku. Ia hanya berjalan menunduk sambil beberapa kali mengusap matanya.


Aku tetap berdiri di tempatku meski mas Zein sudah hilang dari pandangan. Entah aku menyesali nasib kami atau aku hanya sedih melihatnya seperti itu.


Jika saja aku belum bertemu dengan ustadz Zein pasti aku akan senang mendengar berita itu tapi sekarang aku bahkan sudah dipinang orang. Tidak mungkin untuk membatalkan karena aku tak punya alasan.


Dengan ustadz Zein aku juga merasa tenang ketika berada didekatnya, dia sosok yang bijaksana dan imam yang baik juga.


"Ehem... orangnya sudah menghilang lho..."


Aku terperanjat kaget mendengar deheman ustadz Zein. Aku mendongak dan tersenyum padanya. Dia sedang berada di teras rumah yang posisinya lebih tinggi dari halaman rumah kami.


Jangan bilang kalau dia sudah ada disitu sejak tadi.


" Ibu kemana ya ustadz? kok dari tadi belum kelihatan?" Tanyaku untuk menghilangkan nervous ku.


" Boleh nggak aku panggil dokter adek?"


Eh... apa ia sedang merajuk karena tadi ia mendengar mas Zein memanggilku di...


"Silahkan...!"


"Bisa nggak jangan panggil saya ustadz? Rasanya kita terlalu jauh .... seperti tidak punya hubungan apa-apa".


"Lalu panggilnya gimana?" Aku makin kikuk saja dengan permintaannya.

__ADS_1


"Panggil kakak aja !"


Aku tersenyum mendengar permintaannya.


"Baik kakak...!" kataku menggodanya.


"Jangan formal begitu dong dek! Biasa aja..! Berasa aku kayak lagi mengajar di depan kelas kalau seperti itu..."lucu sekali ekspresinya. Ini pertama kalinya aku lihat dia seperti itu. Cute abis pokoknya.


" Iya kakak..." Aku jadi pingin tertawa mendengar mulutku memanggilnya kakak. Geli....Kayak anak baru gede yang jatuh cinta. Hadew.... au ah yang penting dianya nggak marah dan nggak ngambek.


"Sarapan yuk...." ajakku karena kami memang belum sarapan. Ini juga masih baru jam delapan pagi.


"Dek...."


Aku menoleh padanya sambil menunggu kalimat berikutnya.


"Apa itu di? singkatan ya.... apa kepanjangannya?"


Dia terlihat penasaran. Dasar penguping.... posesif banget sih... Nanti kalau sudah menikah tambah gimana ya posesifnya?


Aku bingung harus menjawabnya atau tidak.


Tapi aku juga tidak mau dia cemburu berlarut-larut. Lebih baik kukatakan yang sebenarnya agar tidak ada kesalah pahaman diantara kami.


"Dinda..." jawabku sambil masuk ke dalam rumah.


Semoga dia bisa menerimanya.

__ADS_1


__ADS_2