
brak.....
pintu dibuka dengan keras dan tampaklah wajah Doni dengan matanya yang memerah karena mendengar suara kakaknya menangis. Ia menatap Lukman dengan tajam tapi hanya sebentar saja, segan. Ia yakin jika kakak iparnya itu yang membuat Laila menangis karena dikamar itu hanya ada mereka berdua saja. Tapi begitu melihat mata lukman keberaniannya tadi lenyap seketika.
"kenapa kau membuat kakakku menangis bang? bukannya kau bilang akan membahagiakannya?! " Doni marah pada Lukman tapi tak berani menatap matanya.
"eh...." laila mengusap air matanya kemudian menoleh pada Lukman yang wajahnya datar saja." mas Lukman nggak ngapa-ngapain aku. Aku nangis karena bahagia Don...." ia memeluk lengan Lukman yang berotot.
"ikut aku," Lukman melepaskan lengannya dari tangan Laila kemudian berjalan keluar menuju ruang tamu. Kedua kakak beradik itu kemudian mengikutinya.
Lukman duduk di ujung seperti seorang kepala keluarga sambil bersedekap, sedangkan Laila dan Doni duduk di sebelah kanan dan kirinya.
" seorang anak yang belum baligh diharuskan meminta izin untuk masuk kamar orang tuanya di tiga waktu, begitupun dengan para pelayan . yaitu sebelum fajar, setelah isyak dan saat siang hari ketika biasanya orang-orang menanggalkan pakaian mereka. Tidak ada dosa selain di ketiga waktu itu. Tetapi jika sudah baligh maka ia harus meminta izin setiap waktu untuk masuk ke kamar orang lain. "
ia berhenti sejenak, disaat seperti ini ingin rasanya ia merokok untuk menghilangkan penat.
"Kamu sudah baligh, tidak boleh asal masuk ke kamar kakakmu apalagi sekarang dia sudah bersuami. Bagaimana kalau kami sedang tidak memakai baju? Aurot antar saudara itu antara pusar dan lutut......" Lukman mencoba menjelaskan pada keluarga barunya.
Huh.... ternyata ngasih tahu orang itu capek dan ribet ya. Bukan passion ku ini. Bang Alif kok bisa.... sabar ngadepin banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda. jadi pengen pulang kan..? kangen kumpul sama mereka. Ia menarik nafasnya panjang-panjang mengingat saat ia pulang ke rumahnya semua orang tidak ada dirumah. mereka semua sedang bekerja.
"maaf bang.... tadi aku takut kakakku nangis karena kamu apa-apain bang...!"
__ADS_1
"ish.... apaan sih Don.... aku cuman pingin manja-manja aja sama mas ku. Kamu kenapa sih..?"
Lukman berdiri karena ingin memasak untuk sarapan mereka bertiga
"maafin aku ya bang...!"Doni merangkul lengan Lukman. "terima kasih sudah mau menjadi abangku..."
ctak....
"hehe.....aku tahu itu tanda sayang Abang untukku...."Doni malah tersenyum mendapatkan sentilan dikeningnya. Ia yakin Lukman melakukan itu bukan karena jengkel atau marah pqdanya
"hush hush.... sana sana... ini suamiku ya..... nggak boleh dipeluk-peluk orang lain... termasuk kamu..!" ia ikut memeluk tubuh Lukman dari depan dan mencoba menyingkirkan tangan adiknya dari lengan suaminya.
Lukman mengelus rambut Laila kemudian menciumnya. sedangkan tangan yang satunya ia biarkan saja dipeluk oleh Doni.
"hehe...."
"suh....Suh..... sana! aku ada perlu sama masku...."Laila mengusir Doni
Doni lagi-lagi merasa sebal karena merasa seperti seorang pengganggu sekarang. Kehadirannya tak diharapkan. sebaaaalllll.....
Laila meraih kepala Lukman agar mendekat kepadanya sehingga ia bisa menciumnya.
__ADS_1
"mas pingin aku pakai jilbab nggak..?"tangannya masih meraup kepala suaminya dan kini mata mereka saling bertatapan....
"aku belum siap sekarang.... nanti kalau aku sudah hamil aku janji akan memakai jilbab. ya mas....." entah itu pertanyaan atau pernyataan.
"kamu ingin hamil...? kita usaha lagi yuk...! suruh Doni beli apa... gitu..." ia menggerakkan alisnya naik turun dengan bibir yang menyeringai.
"ih... dasar......! " Laila mencubit pinggang lukman. "Abis ini Doni sudah berangkat sekolah...." ia mengecup bibir suaminya kemudian berlari menuju ke dapur.
.
.
.
"yank.... Alhamdulillah...."Lukman memeluk Laila yang kini sedang berada di stand tokonya bersama Doni dan satu karyawan lainnya. Ia mencium puncak kepala Laila.
"Tebuku akhirnya masuk penggilingan dan insya Alloh lusa sudah dibayar . Alhamdulillah bisa buat nikahan..." Laila tertegun merasakan degub jantung suaminya yang kini menempel ditubuhnya. Ia ikut merasa bahagia meski ia belum mengerti sepenuhnya.
Lukman menarik tangan Laila dan dibawanya ke stand es juice milik Toni, langganannya dan Doni mengikuti mereka.
"Panen tebuku sudah tiga bulan yang lalu tapi harus antri untuk masuk ke penggilingan. Semakin lama antrinya maka tebu akan semakin kering dan kadar gulanya juga otomatis menyusut. Aku bahkan sudah lupa kalau masih punya tebu. Alhamdulillah .... Alloh memberikannya disaat yang tepat. Jadi aku tidak perlu berhutang untuk pernikahan kita nanti. Kamu ingin mahar apa yank...?"
__ADS_1
Laila hanya menggelengkan kepalanya dan Doni yang justru menyelanya, "dapat mukjizat ya bang?"
"hade...h.... kamu itu. Mukjizat itu adalah suatu kelebihan dan keutamaan yang hanya diberikan oleh Allah kepada para nabinya saja. kalau kemuliaan dan keutamaan yang diberikan kepada orang-orang yang sholeh orang-orang yang dekat sama Allah itu namanya karomah. sedangkan kalau orang yang suka bermaksiat kepada Allah tetapi dia mendapat keutamaan atau kelebihan itu namanya istidraj. misalnya ada orang yang selalu bermaksiat kepada Allah tapi dia itu hidupnya kaya, mapan, enak.... kalau yang seperti itu namanya istidraj karena kekayaannya itu bukannya malah menjadikan ia taat pada Alloh tetapi malah menjauhkannya dari beribadah kepada Alloh. Jangan ikut-ikutan bilang mukjizat seperti orang-orang itu..."