
Rombongan keluarga pesantren Masyarakat Merpati Merbabu sudah berada di pekarangan rumahku. Ada sekitar sepuluh orang yang mengantar ustadz Zein dan Bu Jannah ke sini untuk melamarku.
Bahagia tentu saja karena akhirnya tak ada pertentangan dari kedua keluarga.
Aku sudah menceritakan semuanya lewat telpon pada bang Alif termasuk ustadz Zein yang saat ini hanya punya penghasilan dari hasil kontrakan yang dia punya di daerah asalnya. Ustadz Zein juga mempunyai sawah yang digarap oleh kerabatnya dan akan mendapatkan bagian saat panen dengan bagi hasil yang sudah didepakati.
Dan Alhamdulillah keluargaku bisa menerima masa lalu ustadz Zein yang kelam. Yang paling penting saat ini adalah dia sudah bertaubat.
Aku berangkat bersama dengan rombongan keluarga pesantren tapi aku akan kembali kesana tiga hari kemudian karena aku sudah lama tidak liburan.
Rasanya senang sekali saat lihat pekarangan rumah yang luas dengan aneka tanaman yang menghiasi dua rumah bergaya Belanda itu. Campur aduk rasanya, bahagia campur terharu.
Kalau nanti aku ikut suamiku aku pasti akan rindu rumahku ini.
Huhuhu jadi melow kan.....
"Assalamualaikum....." Aku mendahului para tamu, sudah tak sabar bertemu dengan keluargaku. Rindu sekali rasanya.
Maryam.... aku ingin menggendongnya,
"Waalaikumsalam warahmatullah........"Terdengar suara Karina yang paling nyaring menjawab salamku.
"Kakak....!! Kangen......" Rina menyongsong ku dan langsung berlari memelukku.
"Kamu kok nggak tumbuh-tumbuh sih..." aku membelai rambutnya yang berombak. Perasaan dari dulu segitu-gitu aja.
"Ish.... kakak ni...." Dia melepaskan diri dariku.
Kini kak Lala yang menyambutku dan mengajakku bersalaman.
"Ini isinya apaan kak..? kok bisa sampai besar begini?" Aku menggodanya sambil mengelus perut buncitnya.
"Taau..... itu tuh biang keladinya...!" Kak Lala yang kini sudah berhijab nampak malu-malu sambil menunjuk bang Lukman dengan dagunya.
" Tenang saja aku akan bertanggung jawab. Kamu terima enak aja..." Bang Lukman membisikkan kalimat terakhirnya di telinga sang istri dan aku masih bisa mendengarkannya karena Kak Lala ada di sampingku.
Cubitan besar mendarat diperut bang Lukman. Aku terkekeh melihat mereka berdua. Masih sama seperti dulu. Kalau bermesraan tak tau tempat.
Kami bersalaman dan aku mencium tangannya. Sekarang bang Lukman terlihat berbeda lebih tampan daripada dulu.
"Kamu sehat An?" Tanya bang Lukman sambil memelukku sebentar dan menepuk punggungku. Dadanya sangat kekar abangku yang satu ini.
__ADS_1
"Alhamdulillah bang".
"Kak..."Kini kak Mia mendekatiku dan aku mencium tangannya.
"Kakak kangen loh pingin ngomelin kamu. Nggak pernah pulang. .. sekalinya pulang sudah bawa calon saja...." Kak Mia memelukku.
"Kak..... tamunya sudah nunggu didepan" Kak Lala mendekati kami.
"Ya dipersilahkan masuk La!"
"Malu... kakak aja yang duluan!"kata kak Lala.
Masih kayak anak gadis aja kak Lala.
"Abang mana kak?" Tanya ku pada kak Mia. Biarlah mereka yang menemui para tamu dulu, aku mau bertemu keponakanku dulu.
"Dikamar sama Maryam" Kak Mia berjalan menuju ke ruang tamu dan dan kak Lala mengikutinya, berjalan dibelakangnya.
"Aku ke abang dulu ya kak...!" kataku tanpa menunggu jawaban dan menuju ke kamar bang Alif.
Aku mengetuk pintu kamar nya abang. Itu adab yang diajarkan oleh bang Alif pada kami. Kita tidak tahu mungkin orang yang di dalam kamar sedang berganti baju tapi lupa tidak mengunci pintu. Atau mungkin saja pemilik kamar sedang melakukan sesuatu yang tidak baik dilihat oleh orang lain. Maka dari itu kita harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk...!" Terdengar suara bang Alif yang sangat kurindukan.
"Bang...."Bang Alif yang sedang menggendong Maryam tersenyum padaku.
Aku mencium tangannya kemudian melihat Maryam yang memejamkan mata tapi sepertinya tidak bisa tertidur dengan tenang. Bang alif memelukku dengan satu tangannya yang lain.
Aku menangis, menyembunyikan wajahku di pundak bang Alif. Dialah pengganti abi dan umi, orang yang paling menyayangiku didunia ini dan orang yang paling aku hormati. Aku sangat merindukan abangku ini.
"ihik ihik...." Maryam terlihat membik-membik mau mau menangis.
"Nggak boleh nangis sama Maryam..." kata abang sambil mengusap kepalaku.
Aku mengusap air mataku kemudian meminta Maryam untuk ku gendong.
"Benerin dulu jilbabnya.. ." kata bang Alif yang melihat jilbabku amburadul.
Aku merapikan riasan dan jilbabku di depan kaca.
" Kamu baik-baik saja kan?" Tanya bang Alif dengan raut wajah sayangnya mencemaskan adik semata wayangnya.
__ADS_1
"Baik bang.... memangnya aku kenapa?"
"An.... apa kamu terpaksa menerima pinangan ustadz Zein?"
Ah.... ternyata abangku ini takut aku tidak bahagia sepertinya.
"Enggak lah bang. Orangnya baik kok... Ngapain terpaksa..." kataku meyakinkan abang jika aku memang punya perasaan pada ustadz Zein. Mungkin abang takut aku belum move on dari Mas Zainal.
"Ganteng nggak sih orangnya?" tanya abang yang sepertinya hanya ingin menggodaku.
"ish... Ganteng lah. Kalau nggak mana aku mau..." Aku malah membanggakan calon suamiku sambil mengingat wajahnya yang cute abis.
"Maryam.... ini onty.... Kamu jangan tidur dulu...!" Maryam sudah ada di gendonganku sekarang.
"Mas ayo.., sudah ditungguin!!" Kak Mia ternyata sudah ada diambang pintu mencari suaminya.
Bang Alif menyambutnya kemudian merangkul pundak kak Mia dan mengecup kerudungnya.
Aku menggendong Maryam dan berjalan ke belakang untuk melihat suasana dapur.
"Oh... chefnya ternyata Nona Karina ya...." Aku melihat Rina membantu dua ibu-ibu tetangga kami.
"Kak Mia nggak mau rame-rame dulu kak... jadi nggak minta tolong sama ibu-ibu disini. Nanti aja kalau pas nikahan katanya..." Rina menjelaskan kenapa ia berkutat di dapur.
"Ke depan aja neng Rina. Lagian ini sudah siap semua kok. Anak gadis jangan di dapur terus...." kata ibu-ibunya.
"Ok....!" katanya sambil mencuci tangannya kemudian mengeringkannya dengan serbet.
"Mar....ikut onty yuk...!" Rina mencoba merebut Maryam dari gendonganku.
"Eh... nggak mau onty. Aku kan masih kangen sama onty Ani yang cantik...." Aku menjauhkan Maryam dari tangan Rina sambil menirukan suara anak-anak.
"Ehem..."
Aku dan Rina kaget mendengar suara seorang pria. sontak kamipun melihat suara orang yang berdehem tadi.
What.... ustadz Zein? sejak kapan? aduh malunya aku..
"Mau numpang ke kamar mandi sebentar..." katanya.
"Eh... itu.... iya... disebelah pojok sana!" kataku sambil berjalan disampingnya menunjukkan jalan pada calon suamiku.
__ADS_1
Rina melihatnya dengan kagum dan ibu-ibu yang ada di dapur pun demikian.
"Neng Ani, itu ya calonnya?" Tanya salah satu dari mereka saat ustadz zein sudah masuk ke dalam kamar mandi. Aku mengangguk dengan tersipu malu.