
Di parkiran Ani mencari sosok pria yang pernah menjadi kekasihnya, Zainal. Saat dia asyik berbincang dengan teman-temannya tiba-tiba saja dia menghilang dari pandangan Ani. Masih dengan menggendong Maryam yang tengah tertidur ia berjalan ke luar gedung sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia kemudian masuk ke area parkir mungkin saja Zainal sudah naik mobil hendak pulang tanpa berpamitan dengannya.
Ani merasa rindu dengan pria itu. Seandainya nanti bertemu dia juga tidak tahu harus berbicara apa. Hanya saja saat ini dia ingin melihatnya setelah sekian lama tak berjumpa dengannya.
Sejak masuk ke area parkir entah karena apa Ani merasa ada orang yang menguntitnya. Padahal di dalam masih ramai karena acara nya belum selesai. Itu mungkin firasatnya saja atau karena hatinya yang belum sembuh benar setelah kehilangan Zainuddin. Seperti nya sekarang dia lebih sensitif.
Ani sedikit takut karena sudah lama ia tak pernah latihan beladiri dan saat ini pun dia sedang bersama Maryam yang sedang tertidur di pundaknya. Benar-benar bukan sifat Ani.
Tukang parkir ada di ujung di pintu keluar kendaraan dan Ani tak ingin meminta tolong padanya. Ia lebih penasaran pada orang yang mengikutinya. Seingatnya ia tak punya musuh, lalu itu siapa, batinnya.
Ani menyandarkan punggungnya di tiang besar di area parkir itu sambil menepuk-nepuk punggung Maryam agar tetap terlelap dalam tidurnya. Ia pun langsung bersiap-siap menyambut kedatangan orang itu yang langkahnya sayup-sayup terdengar semakin dekat meskipun hatinya sedikit was-was.
Ani mengarahkan sebelah kakinya untuk menjegal langkah orang yang menguntitnya saat orang itu hampir sejajar dengan tubuhnya.
Brukk.....
Tubuh orang itu yang ternyata seorang lelaki jatuh tertelungkup dan Ani langsung menghentakkan kakinya sekuat tenaga menginjak punggung si penguntit.
"argghhh....." Orang itu mengerang kesakitan sambil mencoba menoleh ke arah orang yang menginjaknya.
"Di...." Zainal merintih dengan kepala yang menempel di lantai parkiran.
Sial sekali nasib Zainal malam ini.
"Ma- ma- mas Zainal...." Ani membulatkan matanya saat dia tahu siapa yang dari tadi mengikutinya.
"ugh....." lelaki yang tak lain adalah Zainal mendesis kesakitan sambil mencoba berdiri tapi rasa nyeri yang luar biasa menyerang pinggangnya membuatnya tetap pada posisinya semula.
__ADS_1
"owek....owek....." Maryam menangis karena tidurnya terganggu. mungkin dia kaget dan bisa merasakan sesuatu yang kurang menyenangkan sedang terjadi.
security dan penjaga parkirpun berlarian ke arah suara kegaduhan.
"cup cup cup....... ush..ush.... sayang sayang...... Maryam anak pinter anak solihah... bobok lagi ya. Sayangnya onty bobok lagi ya." Ani mencoba menenangkan Maryam.
"Ada apa ini, ada apa?" Tanya security penasaran dengan keadaan yang ada di depan matanya.
Bukannya menjawab rasa penasaran tukang parkir dan security itu, Ani malah bergegas masuk ke dalam gedung mencari sosok ibunya Maryam membuat kedua lelaki tadi kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Begitu masuk ke aula , Ani mengedarkan pandangannya tapi tak mendapati kakak iparnya. Ia hanya melihat pak Dirman dan bang Alif yang sedang berbincang dengan tamunya dan Ani segera datang menyongsong kakaknya kemudian memberikan Maryam pada bang Alif dengan kepanikannya.
Meski bang Alif penasaran kenapa, tapi ia tak menanyakan apa-apa. Dia hanya melihat adiknya yang kemudian menuju ke pelaminan.
..
..
..
Tukang parkir dan security, dua orang lelaki beda zaman dan beda perawakan itu bukannya tak mengangkat Zainal agar bisa berdiri namun Zainal lah yang tidak mau dibantu karena rasa sakit yang tak terkira saat ia bergerak seperti dihimpit ribuan jarum di dalam tulang-tulangnya.
Sekitar 10 menit kemudian Ani datang tergesa-gesa dengan dokter Ibrahim yang merupakan dokter spesialis ortopedi.
Ibrahim langsung berjongkok dengan satu lututnya ditempelkan ke tanah untuk memeriksa Zainal. Pengantin pria itu kemudian melepaskan jas nya agar lebih leluasa dan menitipkannya pada tukang parkir.
"Bagaimana ceritanya?" Tanya Ibrahim sambil mencoba mengangkat baju Zainal agar bisa melihat area punggungnya dengan jelas.
__ADS_1
"Mas Zein....maaf...."Ani berjongkok di depan Zainal dengan meletakkan tangannya di dadanya. Bukannya menjawab Ibrahim dia malah fokus pada Zainal.
"Aku mengira tadi ada yang menguntitku..." suaranya menghiba dengan tatapan mata yang sudah tergenang air.
Zainal menumpukan sebelah lengannya sebagai bantal kepalanya. Ia melihat wajah gadis yang masih singgah di hatinya sambil tersenyum.
"Kenapa mas Zein harus mengendap-ngendap tadi?" Suara Ani terdengar manja di telinga Zainal , ia belum pernah mendengar Ani seperti ini. Ternyata gadis yang disukainya ini bisa bersikap menggemaskan seperti itu.
"Bagaimana bisa? " Zainal ingin menjelaskan bahwa setelah dari toilet tadi dia memang mencari Ani dan melihatnya keluar ke arah parkiran tapi saat dia berbicara rasanya di sekitar pinggangnya seperti di tusuk dengan pisau jadi dia membiarkan saja Ani berasumsi sendiri. Ia hanya mendengarkan dan memandangi wajah cantik yang kini sedang mencemaskan keadaanya. Hatinya berbunga-bunga sehingga tak merasakan sakit saat Ibrahim memeriksanya.
Ketiga orang lainnya tak bersuara dan mendengarkan saja perbincangan antara Ani dan Zainal. Mereka seperti hidup di alam yang berbeda dengan ke dua sejoli itu.
"Apa masih sakit?" Kini bahkan Ani sudah menangis sesenggukan melihat Zainal belum bisa bergerak dan tak mampu menjawab pertanyaannya.
Sementara itu ibrahim memeriksa tubuh bagian belakang Zainal yang kini tak merasakan kesakitan karena hatinya sedang bahagia diperhatikan sedemikian rupa oleh gadis yang berjongkok di depannya. Zainal justru mengulas senyum padahal gadis itu sedang menangisi dirinya.
"Aaaaarrrghhh......." Zainal berteriak kesakitan memekakkan telinga orang-orang yang berada di sekitarnya.
Entah apa yang dilakukan Dokter Ibrahim pada Zainal sampai Zainal kesakitan seperti itu.
Dengan gerakan perlahan-lahan Ibrahim membalikkan tubuh zainal agar terlentang kemudian mendudukkannya. Zainal masih merasakan nyeri di bagian pinggangnya tapi dia sudah bisa bergerak meski belum leluasa.
"Sebaiknya pak Zainal pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut dan usahakan jangan banyak bergerak" kata Ibrahim sambil memegang kedua bahu Zainal untuk menopangnya barangkali ia belum bisa duduk dengan tegak.
"Aku!! aku akan bertanggung jawab. Aku akan membawa mas Zein ke rumah sakit. Dokter....Tolong katakan pada bang Alif dan yang lainnya aku pergi ke rumah sakit mengantarkan mas Zein......" Ani berbicara panjang lebar meminta bantuan Ibrahim saking paniknya.
"Baiklah....apa pak zein sanggup untuk duduk ?" tanya Ibrahim.
__ADS_1
Ketiga lelaki itu membantu Zainal berdiri perlahan-lahan dan mengantarkannya sampai ia duduk di mobilnya dan Ani yang memegang kemudi.