
"Siapa namamu anak muda?" tanya zainal
"Doni" jawab sang remaja dengan singkat
" Kau mencopet dompet ibu ini?"
" ya " Di luar dugaan ternyata dia menjawab dengan jujur tanpa di harus di tekan.
"Apa salah satu kami ada yang menyuruhmu melakukan ini?" lanjut Zainal
"Aku tidak percaya. Aku yakin kalian bersekongkol," bu Carla menyela dengan berteriak.
"Apa kalian tahu aku ini kakaknya walikota. Aku akan mengadukannya pada adikku dan membawa kasus ini ke pengadilan." lanjut bu Carla
"Kita bisa merundingkannya baik-baik bu," pak Dirman ikut berbicara.
"Kenapa ? apa kalian takut ? Kalau kasus ini sampai ke pengadilan, kalian sendiri yang akan rugi. Orang-orang pasti tidak akan mau lagi belanja lagi ke sini. dan kalian akan bangkrut," bibir menornya menyeringai.
"Ibu tidak bisa menuduh kami sembarangan, memangnya bukti apa yang ibu punya untuk tuduhan ibu yang tidak masuk akal itu?" kata Zainal terpancing emosi.
"Apalagi? sudah jelas. Anak berandal ini adalah adik dari pegawai swalayan ini. Pasti kalian sudah merencanakannya."
"Tidak ada yang menyuruhku. Aku melakukannya karena kemauanku sendiri," kata Doni menyanggah perkataan bu Carla.
__ADS_1
"Diam kau bocah!! Orang tuamu pasti tidak mendidikmu dengan baik sampai anaknya menjadi berandalan sepertimu..!"
"Ibu bisa memaki-maki kami kenapa harus membawa-bawa orang tua!!,"Laila pun ikut berteriak, dia tidak terima orang tuanya jadi bahan olok-olokan.
"Beraninya kau bicara tidak sopan pada orang yang lebih tua, " bu Carla hendak berdiri untuk mendatangi Laila.
BRAKKK!!!!
Lukman menggebrak meja, membuat semua orang yang ada di ruangan itu kaget. Bu carla yang ikut terkejut langsung terduduk kembali sambil mengusap-usap dadanya.
Lukman melihat bu Carla dengan seksama. "Tidak masalah jika ibu ingin lewat jalur hukum"
Ia kemudian menoleh ke arah Zainal, "Panggil pengacara kalian dan biarkan dia yang mengurusnya!" Suaranya keras menggelegar.
"Tunggu dulu! bagaimana kalau kita berdamai. Aku tidak akan menuntut kalian asalkan kalian memberi ganti rugi padaku sebesar 10 juta. Itu lebih menguntungkan bukan ?"
"Ya pak Lutfi ini saya Zainal." Zainal langsung berbicara dengan pengacara keluarga dan perusahaannya.
"Begini pak Lutfi, tadi ada seorang remaja yang mencopet di area parkir swalayan."
.
"Sudah, pelakunya sudah ditangkap tapi masalahnya korban mengatakan bahwa pihak swalayan punya andil dan sudah merencanakan semuanya untuk menjebak para pelanggan disini. Dia bersikeras membawa masalah ini ke pengadilan atau minta ganti rugi sepuluh juta"
__ADS_1
Zainal mengerutkan kening, " emmm.... jadi kita bisa menggugat balik?"
"Pencemaran nama baik"
"Tuduhan palsu "
"Pemerasan"
"oohh. baik baik. Terima kasih pak Lutfi. Saya akan menghubungi bapak kembali jika memang harus ke pengadilan".
Zainal menyudahi telponnya kemudian memandang ke arah bu Carla.
"Saya tidak akan membawa masalah ini ke pengadilan tapi anda harus memberi ganti rugi pada saya 10 juta. Itu uang yang sangat sedikit untuk swalayan seramai ini. Dan anda tidak akan rugi karena tidak akan ada pemberitaan miring tentang swalayan. Bagaimana?"
Kata wanita paruh baya sambil tersenyum menyeringai.
Pak Dirman kemudian menunjukkan layar laptonya pada Zainal. Zainal melihat dengan seksama wajah itu, sama persis dengan wajah bu Carla meski terlihat sedikit lebih muda dan dandanannya agak kampungan. Pak Dirman dan Zainal berdiskusi sebentar untuk mengambil keputusan.
"Baiklah kita bawa kasus ini lewat jalur hukum" kata pak Dirman dengan suaranya yang tenang.
"Kalian tidak bisa seenaknya seperti itu y!" Kini wanita itu tampak ketakutan tapi tetap berusaha kelihatan sangar dan seolah-olah ia bisa membalik keadaan karena punya bakingan.
" Apa ibu masih ingat ini?" pak Dirman membalik layar laptopnya agar semua orang yang hadir bisa melihatnya.
__ADS_1