
"E-ehm.... Mah ... makanannya sudah siap?"
Ayah Zainal tiba-tiba masuk ke ruang makan mengagetkan ibu dan anak yang sedang berselisih pendapat. Ani berjalan di belakangnya dengan raut muka yang tak bisa ditebak oleh Zainal.
"Sebenarnya waktu makan siang masih kurang sebentar lagi, tidak apa-apa kan dok?" tanya sang ayah kemudian duduk di kursi utama , tempat duduk untuk kepala keluarga.
"Tidak masalah jika hanya sekali-kali" jawab Ani
Zainal menarik kursi untuk Ani yang masih berdiri, "Silahkan duduk di!" katanya sambil mengulas senyum kemudian Zainal sendiri duduk di kursi sebelahnya yang dekat dengan kursi utama sedangkan ibunya duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka.
Merekapun maka dengan tenang dan sesekali pria yang sudah berumur itu bertanya tentang masalah kesehatan pada pacar putranya.
Ani terlihat menyesuaikan diri dengan cara makan mereka yang terlihat tenang dan elegan. Menggunakan sendok dan garpu serta serbet yang ditaruh di atas pangkuan. Ani mengikuti gerakan mereka meski itu tidak sama dengan kebiasaan dirumahnya yang makan hanya dengan sendok saja bahkan terkadang menggunakan tangan. Di rumahnya meja makan adalah tempat berbincang dan biasanya mereka akan menjadikannya sebagai tempat curhat.
Sebenarnya ia ingin tertawa tapi Ani bisa menyembunyikan perasaannya melihat gaya makan wanita yang ada didepannya mengingatkan nya pada nyonya meneer Belanda padahal rumahnya bergaya modern sedangkan rumahnya yang peninggalan Kolonial Belanda tapi keluarganya makannya biasa saja ala-ala rakyat jelata.
Zainal mengambilkan nasi untuk Ani karena ia melihat kekasihnya itu masih canggung dengan situasi di rymahnya saat ini.
"Sudah cukup mas!" kata Ani pelan ketika Zainal mau menaruh satu centong nasi lagi ke dalam piringnya.
Mata mamanya menatapnya tidak suka. Kenapa justru anaknya yang harus meladeni pacarnya.
__ADS_1
Zainal kemudian mengambil sayur satu sendok penuh ke piring Ani dan gadis itu tidak menolaknya, mereka saling pandang kemudian saling melempar senyum di kulum.
"ini kesukaanku di....." Zainal mengambil daging rendang dan ditaruhnya di piring Ani.
"Tapi jangan sering-sering, tidak baik juga. Proses memasak rendang itu terlalu lama jadi kandungan gizinya banyak yang hilang", Ani mencoba menjelaskan.
"Ya baiklah Bu dokter.....saya akan mendengarkan....!" cicit Zainal sambil memanyunkan bibirnya membuat lelaki tampan itu menggemaskan.
Ayah Zainal bisa melihat bahwa anaknya kali ini benar-benar serius menjalin hubungan. Tampak sekali ada cinta dimata anaknya yang nampak manja pada kekasihnya itu.
Begitu pun dengan sang ibu, ia bisa merasakan jika Zainal benar-benar tulus sekarang tapi arogansinya sedang menguasai jiwanya. Ia ingin punya menantu yang lebih dari itu, yang bisa dibanggakan di depan teman-temannya. Bukan hanya dari segi fisik saja tapi juga seberapa kaya dan terhormat keluarganya.
Setelah makan makanan pencuci mulut mereka menyeka mulutnya menggunakan serbet yang ada di pangkuan mereka.
"Papa cari menantu apa cari dokter?" sang istri menjawabnya dengan sinis.
"Kalau menantunya dokter kan Alhamdulillah...."
"Nggak... Mama enggak setuju"
"Mama kenapa sih ma?" Zainal merasa tak enak hati pada Ani.
__ADS_1
"Pokoknya Mama enggak setuju...."
"Jangan diambil hati ya di, mama hanya sedang kesal saja...... dia sebenarnya baik kok" Zainal mencoba meyakinkan sang kekasih yang raut mukanya terlihat datar saja.
" Mohon maaf om... Tante...... saya memang mencintai mas Zainal tapi saya tidak akan memaksakan kehendak saya. Saya belum menyerah sekarang tapi saya akan melepasnya jika memang dia bukan jodoh saya" kata Ani mantap.
"Itu artinya kamu tidak mencintaiku An....". Zainal gusar mendengar kata-kata Ani barusan.
"Bukan begitu Mas zein!", Ani ingin menjelaskan perkataanya barusan tapi terhenti di tenggorokan.
Zainal berdiri dari duduknya kemudian menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan mereka.
Ani ikut berdiri kemudian menundukkan badannya untuk berpamitan dan berlari kecil mengikuti Zainal.
"Cuma seorang dokter saja sombongnya" kata sang ibu ketika sepasang kekasih itu telah berlalu dari hadapannya
"Lihatlah bagaimana dia bisa membuat Zainal nyaman. Dia sangat cocok untuk putramu yang manja itu" kata suaminya.
.
Zainal sudah masuk ke dalam mobilnya dan Ani segera berlari menyusulnya karena ternyata sandal jepit yang dipakainya lumayan membantu untuknya agar lebih cepat berlari.
__ADS_1
"Ah ... bodohnya aku. kenapa tiba-tiba merubah panggilan menjadi om dan Tante sih..... dapat keberanian dari mana pula aku bisa mengatakan hal yang seperti itu tadi... sampai mas Zein memanggilku dengan nama saja....." Ia mengetuk-ngetuk kepalanya sambil menggerutu dan berlari kecil ke arah mobil Zainal yang sudah menyala.
Bagaimana aku harus memberi alasan pada mas Zein, bagaimana cara membujuknya agar ia tak marah. Ani yang tadinya merasa bisa bertindak keren kini malah bingung sendiri bagaimana harus mengatasi situasi macam ini?