Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
penasaran


__ADS_3

Pagi itu aku harus kembali kerja karena cutiku sudah kuambil beberapa hari di tahun ini. Aku menuju rumah ayah dan halaman depan rumah ayah cukup kotor. sampah daun dan bunga bekas hiasan terop maupun pelaminan tadi malam berserakan. Juga sampah plastik dan sisa makanan ada dimana-mana. Padahal sudah disediakan beberapa tempat sampah besar tapi masih saja buang sampah sembarang an. Benar-benar sudah menjadi kebiasaan dan gaya hidup yang buruk masyarakat Indonesia.


Beberapa pekerja masih terlihat membereskan terop dan aku baru sadar kalau tanaman bang Lukman sudah lenyap. Dipindah kemana ya?


"Permisi mang..." kataku saat melewati bapak-bapak yang sedang jongkok karena harus melewatinya.


"mangga atuh neng, silahkan...." mendengar tutur bahasa seperti itu otomatis membuatku tersenyum. Aku pun naik undakan kemudian masuk ke dalam rumah. Suasana masih agak ramai. Ternyata semua sudah berkumpul di ruang makan. Meja makan yang panjang dan ruang makan yang luas bisa menampung kami semuanya. Ada tambahan anggota baru di keluarga kami. Kak Lala dan Doni.


"Pagi semua...." Aku duduk kemudian dan mengamati semua yang duduk disitu dan wajah ayah terlihat sangat bahagia.


Ah...iya ...kami jarang berkumpul di rumah ini. mungkin ayah merindukan hal seperti ini. Kami biasanya berkumpul di rumah ku. Aku baru menyadarinya. Kami memang terlalu sibuk dengan urusan kami sehingga lalai untuk membahagiakan orang tua kami. maafkan kami ayah, batinku sambil memandang wajah ayah yang sudah berkeriput disana sini.


Kami mulai makan dengan tenang, pagi ini aku makan apa saja karena kemarin malam aku langsung tidur sebelum makan malam. Capek mendera fisikku yang tak terbiasa dengan kegiatan semacam itu.


"layani suami kamu saja..!"kata ayah saat kak Lala mau mengambilkan nasi untuk nya. Senyumnya mengembang, terlihat sekali kalau ia bahagia. Ah ayah... maafkan kami, mataku menggenang ingin mengucap kata namun tak sanggup bicara.


Kak Mia tak pernah melakukan hal seperti itu pada ayah saat kami makan bersama. Bahkan kami anak-anak nya juga tak pernah melakukannya. Mungkin kak Lala ingat orang tuanya. Yang pasti semua bisa merasakan jika pagi ini ayah sangat bahagia. Senyumnya terus mengembang dengan air muka yang memancarkan kebahagiaan.


Aku melihat muka kak Mia sedikit berubah seperti menyesal karena tidak bisa seperti kak lala. Setiap orang punya kepribadian berbeda-beda dan aku bisa memahaminya. Semoga saja tidak ada kecemburuan diantara kami dan semoga semua akur-akur saja.

__ADS_1


Setelah makan aku pergi ke dapur dan melihat aktifitas ibu-ibu disana. Beberapa ibu tetangga terlihat membereskan peralatan-peralatan yang dipakai kemarin. Ada yang menyusun piring, ada yang menyiapkan makanan dan ada yang bersih-bersih.


"sarapan dulu ya ibu-ibu.....! " kata kak Mia yang tiba-tiba ada disampingku sambil mengusap perutnya.


"kak.... kakak istirahat saja dulu..! dari kemarin mondar mandir nggak berhenti. Minum vitaminnya kak! " aku sedikit menghawatirkan kakak ipar ku ini. Dan Alhamdulillah nya kandungannya nggak rewel dan bisa diajak bekerja sama.


"iya.. habis ini aku mau tidur dua hari dua malam. Jangan ada yang gangguin ya..!" katanya sambil mencubit pipiku. Aku dan Rina selalu diperlakukan seperti itu oleh kak mia. Membuat kami terkadang ingin bermanja-manja dengannya.


"nanti kalau ada apa-apa tanya ke Lukman atau istrinya ya ibu-ibu! Terima kasih buanyak sudah dibantuin dan mohon maaf tidak bisa ngasih apa-apa. Cuma terima kasih saja" kata-katanya tertata seperti sudah di briefing oleh bang Alif.


"sama-sama ustadzah..... kami cuma bisa bantu tenaga saja...."kata mereka


"itu sangat berarti untuk kami. Jangan kapok ya ibu-ibu kalau nanti kami minta tolong lagi"


Kak Mia menyunggingkan senyum dan berkata


"Apa yang ada boleh dimakan, silahkan ibu-ibu, jangan sungkan!"


"iya ustadzah.... tenang saja. Kalau masalah makan kami nggak usah disuruh. Kami ahlinya....." dan grrrrrrrr.... semuanya tertawa.

__ADS_1


"saya tinggal istirahat dulu ya ibu-ibu. Biar nggak diomelin sama Bu dokter ini...." ia melirik padaku yang dari tadi diam saja berdiri disampingnya.


"kalau ada apa-apa nanti tanya sama Lukman atau istrinya saja...."


"baik ustadzah ..." kak Mia mengulas senyum dan meninggalkan mereka kemudian memanggil kak Lala yang sedang membereskan meja makan. Rina sepertinya sedang ada di depan dengan para lelaki, entah ada apa dengannya itu.


"ini nanti di bagi satu-satu kalau ibu-ibu itu berpamitan pulang. bungkusan sama amplopnya ini. Jangan lupa bilang terima kasih dan minta maaf ya...." kak Mia memberi instruksi pada kak Lala . Aku melihat isi bungkusan itu ada beras, minyak,mi dan kue-kue sisa kemarin yang masih aman untuk dikonsumsi.


"oh iya yang bagian cuci piring namanya bik Rosidah yang pakai kerudung hitam kasih amplopnya yang ada namanya disitu!" Kak Lala melihat amplop-amplop yang ada ditangannya dan menemukan satu yang ada namanya . Ia menganggukkan kepalanya.


"aku tinggal istirahat dulu ya...!" kata kak Mia sambil memegang bahu kak Lala.


Aku melihat kak Lala masih agak canggung dan entah kenapa aku malah ingin menertawakannya."aku juga mau berangkat kerja dulu ya kak...." kataku


Ia tak menjawab kami malah terbengong di tempatnya.


Sampai di depan aku berpamitan pada ayah yang sedang mengawasi para pekerja dari teras rumah yang lebih tinggi dari halaman rumah. Ia memandangiku tak seperti biasa kemudian membelai kepalaku dengan penuh kasih sayang. Rina mungkin sudah pulang ke rumah. Akhir-akhir ini ia sering menghilang begitu saja.


Aku juga berpamitan pada bang lukman dan bang Alif yang sedang berkumpul dengan orang-orang terop. Mereka sudah menyelesaikan pekerjaannya dan sedang minum kopi bersama.

__ADS_1


Bang Alif mengikutiku," nanti malam minta Zainal ke rumah ya An...."kata bang Alif. Aku memandangnya dengan beberapa pertanyaan, memangnya ada apa, kenapa sepertinya serius.


"kita bicarakan nanti malam saja!" kata bang Alif


__ADS_2