
Zainal berlari kecil naik kembali ke lantai dua. Pak dirman mengirim pesan untuk meeting bersama.
Ketika para manajer sudah di depan pintu bersamaan dengan itu sekelompok orang yang tadi sempat di curigai zainal keluar dari ruangan yang mereka tuju.
Mereka adalah anggota dinas kesehatan yang ditugaskan untuk melakukan sidak mendadak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu untuk melihat kelayakan makanan dan minuman yang dijual oleh para pedagang baik di pasar tradisional maupun di pasar modern yang ada di beberapa titik di kota.
Para manajer itu menganggukkan kepala untuk sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu yang sedang berjalan meninggalkan mereka dengan raut muka datar tanpa ekspresi.
Satu persatu dari mereka mulai memasuki ruangan dan mendapatkan sambutan tatapan tajam dari direktur mereka pak dirman yang tampak menahan kemarahan.
Ruangan hening hingga beberapa menit membuat suasana semakin mencekam dan itu lebih menakutkan. semua yang hadir menjadi gelisah dan mencoba mengingat - ingat barangkali mereka melakukan kesalahan tanpa mereka sadari.
pak dirman adalah orang yang cukup bijak dalam menangani masalah dan emosinya. Pernah beberapa kali beliau marah dan langsung menegur bawahannya yang bersalah. Tapi kemarahan pak dirman kali ini dengan cara diam malah membuat mereka ketakutan. Lebih baik dicaci maki daripada didiamkan begini, batin mereka.
Beberapa saat pak dirman mengetuk-ngetuk kan ujung bolpennya di meja sebelum mulai berbicara
Zainal yang tahu bahwa kesalahan kali ini adalah divisinya tak berani mendongakkan kepala sama sekali.
__ADS_1
Ia merutuki dirinya sendiri dan berharap pak dirman tak meragukannya kali ini. Ia tahu ia salah dan berharap pak dirman akan memarahinya seperti ketika manajer lain melakukan kesalahan. biasanya ketika divisi Zainal yang melakukan kesalahan pak dirman menanganinya secara langsung dengan cara terjun ke lapangan bekerja sama dengan para supervisor tanpa memarahi zainal
"Coba periksa itu!" kata pak dirman penuh penekanan sambil menunjuk dengan isyarat matanya pada kotak yang berisi makanan-makanan ringan yang baru saja di taruh diatas meja oleh asisten pak dirman.
Tangan ketiga manajer itu dengan cepat mengambil satu persatu makanan ringan dan mengeceknya. Ternyata semuanya kadaluwarsa.
Mata merekapun langsung tertuju pada zainal sambil menyeringai seperti berkata -ini kesalahanmu dasar tak tahu diri-
" apa harus menunggu di sidak dulu baru berbenah. Ini baru di pantau oleh dinas kesehatan bagaimana nanti kalau di akhirat kita disuruh mempertanggung jawabkan semua ketelodaran kita dan kita beralasan hal itu tidak disengaja. Berjualan adalah salah satu cara kita beribadah. Maka kerjakan dengan baik dengan sepenuh jiwa karena ini adalah ladang amal kita. Jangan setengah-setengah. Kalau ada waktu pantau langsung, bantu anak buahnya. jangan hanya ongkang-ongkang sambil cuci mata. Apa harus saya yang mengerjakan semuanya?" kata pak dirman panjang lebar menumpahkan semua amarahnya sampai lega.
zainal menelan salivanya, ia yakin 100 persen kemarahan pak dirman kali ini hanya ditujukan padanya seorang.
Ia yang teledor. sudah jelas itu kesalahan divisi yang ada dibawah naungannya. kemudian cuci mata? apakah ia melihatnya? haish.... pikiran-pikiran buruk menyelimuti kepalanya. Bodohnya aku......
Dengan berat hati zainal berdiri dan membungkukkan sedikit badannya kemudian berkata
" Maaf pak ini kesalahan saya. saya yang teledor. Saya siap memerima hukuman..."
__ADS_1
Ia menurunkan ego dan harga dirinya, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Zainal ingin membuktikan diri kalau dia adalah orang yang bertanggung jawab dan bisa mengemban amanah
"Beri setiap pegawai kewajiban untuk bertanggung jawab pada beberapa rak atau beberapa item. Briefing mereka agar bersemangat dalam bekerja dan saling membantu dalam pertukaran shift ataupun yang lainnya. Buat suasana sekondusif mungkin seperti sebuah keluarga. Paling lama besok semuanya sudah harus di umumkan ke seluruh karyawan baik shift pagi malam. "
Pak dirman kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan keluar sambil menggumam
" Menangani satu divisi saja belum benar. Bagaimana bisa menangani satu perusahaan?!!!"
Ya Alloh..... begini amat ya kalau jadi bawahan... batin zainal yang sejak tadi masih berdiri dan mendengar ucapan pak dirman.
Dua manajer yang duduk di depan zainal beranjak berdiri setelah pak dirman sudah tak terlihat.
" Nggak ikut salah tapi kena marah..."
" Harus lembur lagi...." kata yang lainnya
Zainal menjatuhkan badannya di kursi ketika semua orang sudah pergi. Ia mengacak-acak rambutnya sambil menyalahkan dirinya sendiri
__ADS_1