
" Bang aku permisi pulang" Zainal buru-buru menjabat tangan bang Alif dan menciumnya. Ia merasa sesuatu akan terjadi dan itu tidak bisa dikonsumsinya secara terang-terangan. Ia berjalan keluar dengan rasa penasarannya , ia bahkan lupa untuk berpamitan pada kekasihnya.
"Hati-hati Zein!" bang Alif menjawabnya dengan santai seperti biasanya.
Zainal berpapasan dengan dr Ibrahim dan Karina di teras rumah. Terlihat dari muka dan gestur tubuh nya bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja.
Karina menyelonong masuk ke dalam rumah tanpa salam tanpa menyapa pada abangnya.
"Riiin......!" bang Alif memanggilnya dengan suara yang lembut
Karina berdiri mematung diantara ruang tengah dan ruang tamu di dekat kelambu besar pembatas ruangan. Kepalanya tertunduk ke bawah tak berani menatap abangnya. dr ibrahim yang sedari tadi membuntutinya kini juga diam di pintu masuk ruang tamu.
"Rin...." bang Alif mengulangi panggilannya.
Rina menghadap ke arah abangnya dan berjalan mendekat dengan kepala yang tetap tertunduk, ia nampak ketakutan.
Bang Alif menepuk tempat duduk disampingnya dan Rina yang mengetahui isyarat dari abangnya kemudian duduk dengan patuh tanpa berani mengucap sepatah kata.
__ADS_1
"Silahkan duduk!" tangan bang Alif mempersilahkan dokter Ibrahim untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Ibrahim mengulurkan tangannya pada bang Alif dengan kecanggungan yang luar biasa. Ini adalah kali keduanya berkunjung ke tempat ini tapi ini adalah pertemuan pertamanya dengan pria yang memakai kaos oblong dan sarung ini. Wajahnya tampan dan menyejukkan pandangan.
"Saya Ibrahim,....", katanya dengan sopan.
"Alif, saya abangnya Karina. silahkan duduk!"
Ibrahim duduk dengan memperhatikan keadaan sekelilingnya. Diia memang pernah datang ke rumah ini tetapi hanya duduk di teras depan tidak sampai masuk ke dalam ruang tamu.
Ibrahim menoleh ke arah bang Alif yang sedari tadi menatapnya. ia tersenyum kikuk menyadari tatapan mata bang Alif yang sedang meminta penjelasan.
"Dari mana?" tanya bang Alif karena kedua pemuda pemudi itu tidak ada yang membuka suara.
"Dari itu....pesta pernikahan teman saya" Ibrahim buru-buru menjawab dengan suara gugupnya. Bang Alif seperti punya sesuatu yang membuatnya takut , kharismanya. Dia yang sering mengintimidasi orang lain, kini merasa tak berkutik di depan pria yang ada di depannya.
"Dengan pakaian seperti itu?" Alif melihat baju yang dipakai Karina. Dress berwarna merah yang panjangnya sebetis dengan lengan pendek dan kerah sanghai nampak cocok di pakai Karina meski kulitnya coklat seperti kebanyakan masyarakat Indonesia. Ditambah dengan riasan wajah flawless nya yang menambah kesan manis diwajahnya.
__ADS_1
"Kenapa tadi tidak menelpon dulu kalau pulang terlambat? " bang Alif melanjutkan pertanyaannya.
"Sa-saya yang salah. Saya minta maaf. Saya yang memaksa Karin untuk pergi dengan saya sepulang kerja dan menyuruhnya memakai pakaian yang saya pilih di butik tadi. Saya minta maaf" Ibrahim menjelaskannya agar Karina tak dimarahi oleh abangnya. Hanya saja dia tidak mengatakan memaksa Karina dengan mengancam dan menakut-nakutinya.
Bang Alif memegang dagunya yang ditumbuhi rambut-rambut halus sambil memperhatikan Karina yang masih diam saja sambil meremas jari-jarinya.
"Rin, kamu sudah solat Isyak?"
Rina hanya menggelengkan kepalanya yang masih menunduk. Bang Alif merengkuh kepalanya Karina sebentar kemudian membelai rambutnya, "Mssuklah!" kata bang Alif yang melihat Karina sudah kesulitan menahan tangisnya.
"yaaang..., Rina!!" bang Alif sedikit berteriak agar istrinya menyambut kedatangan Karina yang sudah berjalan masuk ke dalam.
Istri kecilnya itu sudah seperti ibu bagi kedua adiknya. Biasanya dia akan memeluk adiknya dan mereka akan menangis atau marah di pundak istrinya dan besoknya mereka akan bercerita sendiri tentang apa yang mereka alami.
"Anda menyukai karina?" tanya bang Alif dengan menekan kata-katanya
deg..... Ibrahim tak menyangka pertanyaan itu yang akan dilontarkan kepadanya padahal mereka baru saja berjumpa
__ADS_1